ALBUM REVIEW: DIR EN GREY – THE INSULATED WORLD

DIR EN GREY ‘The Insulated World’ Review
September 26, 2018. Firewall Div (JP)/Okami Records (EU)
Alternative metal/Avant-garde metal

DIR EN GREY punya reputasi sebagai salah satu grup musik yang paling berani bereksplorasi dan memodifikasi musik mereka semaunya, untung nya mereka sudah punya fanbase yang open-minded yang sudah pasti memaklumi dan mampu mencerna segala transformasi band ini dari album ke album, memulai karir sebagai sebuah grup visual-kei dari Osaka, DIR EN GREY langsung berhasil meroket ke jajaran papan atas tangga Oricon dengan album Gauze (1999), yang kala itu diproduseri Dynamite Tommy dan Yoshiki (X-Japan). Namun ternyata ambisi Kyo, Kaoru, Die, Shinya dan, Toshiya tidak hanya terpuaskan dengan merajai pasar Jepang, ‘Withering to Death’ (2005) merupakan serangan perdana DIR EN GREY secara resmi untuk menebus pasar Amerika Serikat dan Eropa, tiga album setelahnya ‘The Marrow of a Bone’ (2007), ‘Uroboros’ (2008), lalu ‘Dum Spiro Spero’ (2011) berhasil menggaet atensi para penggila musik internasional, khsusnya yang sanggup mengiyakan gaya bermusik nyentrik band ini, pasalnya DIR EN GREY tidak sungkan-sungkan mencapuradukan berbagai sub-genre dalam racikan musik mereka, entah itu alternative rock, progressive metal, speed metal, death metal/deathcore sampai musik pop sekalipun tanpa harus kehilangan identitas musik mereka sendiri yang tak pernah secarah penuh menanggalkan jati diri mereka sebagai band dari Jepang lalu ikut-ikutan gaya kebarat-baratan seperti ketika band asal Eropa dan Asia lainya ketika mencoba mendobrak pasar Amrik.

Merupakan pekerjaan rumah yang sangat berat bagi DIR EN GREY untuk merilis album ‘The Insulated World’, tiga album sebelumnya (‘Uroboros’, ‘Dum Spiro Spero’, ‘Arche’) banyak dianggap para penggemar dan kritikus musik sebagai holy trinity dalam diskografi mereka, sebagai puncak eksplorasi dan eksperimentasi bermusik DIR EN GREY yang rasanya susah untuk di ulang kembali. Untungnya ‘The Insulated World’ tidak sama sekali mencoba mengulangi hal tersebut, dan lebih memilih menghasilkan sebuah album back to basic, unsur death metai dan struktur lagu panjang ala progressive metal yang banyak menyusupi lagu mereka tiga album kebelakang hampir sama sekali hilang, tergantikan lagu-lagu bernuansa alternative metal tiga-empat menitan dengan sedikit rasa-rasa thrash/speed metal pada lagu ‘Keibetsu to Hajimari [軽蔑と始まり]’ ‘Rubbish Heap’ dan ‘Keigaku No Yoku [谿壑の欲;]’ misalnya, tapi mayoritas track yang ada lebih menonjolkan aroma nu metalcore penuh angst dan amarah (dengan lirik tulisan Kyo yang lebih gelap dari sebelumnya) yang mereka pernah kejar pada ‘The Marrow of a Bone’, yang belakangan ini memang lagi naik daun lagi disokong popularitas grup seperti CANE HILL, ISSUES, SWORN IN dan KING 810. ‘Ningen Wo Kaburu [人間を被る]’, ‘Ufafumi [詩踏み]’ dan yang ketara ‘Values of Madness’ merupakan lagu nu metal standard lengkap dengan bagian ngerap plus clean chorus yang energic. Dari segi visual pun DIR EN GREY yang semenjak ‘Arche’ sudah mencoba lagi memasukan lagi elemen viskei melalui kostum dan aksi panggung yang lebih heboh, merupakan hal penting dalam membuat penampilan panggung mereka lebih menarik, karena saya rasa beberapa lagu dalam album ini lebih nendang versi live nya. Walau banyak yang menganggap ‘The Marrow of a Bone’ sebagai album paling biasa dari diskografi mereka, tapi saya rasa tidak ada yang bisa menyangkal kalau atleast album tersebut punya nomor-nomor “ballad” yang syahdu macam ‘Conceived Sorrow’, ‘Namamekashiki Ansoku, Tamerai ni Hohoemi [艶かしき安息、躊躇いに微笑み]’, ‘Ryōjoku no Ame [凌辱の雨]’ dan tentunya ‘The Pledge’, sayangnya nomor power ballad dalam ‘The Insulated World’ (‘Aka [赫]’, ‘Followers’, dan single ‘Ranunculus’) belum bisa mencapai level emosional yang ke-empat lagu diatas berhasil capai. Kalau disandingkan dengan ‘Arches’ jelas album tersebut punya lebih banyak materi-materi yang lebih memorable, yang sayangnya dirusak dengan kualitas mxining yang rada abal dan kurang nonjok, untung nya kali ini DIR EN GREY menunjuk Dan Lancaster yang pernah mengerjakan That’s The Spirit dari BRING ME THE HORIZON (sebuah album yang turut membantu menaikan kembali popularitas nu metal), alhasil ‘The Insulated World’ terdengar powerfull dan merupakan salah satu hasil produksi paling bagus dari DIR EN GREY setelah ‘Dum Spiro Spero’. Mencoba mengulik kembali nu metal yang sudah outdated memang pekerjaan cukup sulit, tapi DIR EN GREY punya sejarah mengutak-atik segala macam aliran tanpa peduli pengkotak-kotakan genre yang menjadikan ‘The Insulated World’ dengan segala kombinasi berbagai sub-genre terasa pas dan tak membosankan. (Peanhead)
7.9 out of 10