ALBUM REVIEW: ULVER – NEVERLAND

ULVER ‘Neverland’ ALBUM REVIEW

House of Mythology. December 31st, 2025 (Digital) / February 27th, 2026 (Physical)

Electronica/Ambient

Pertengahan tahun lalu, kabar duka datang dari ULVER, grup asal Norwegia ini mengumumkan bahwa keyboardist mereka, Tore Ylwizaker, telah meninggal dunia pada 16 Agustus 2025, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 54. Tore Ylwizaker tentunya merupakan salah satu sosok kunci dalam ULVER, karena semenjak diundang Kristoffer ‘Garm’ Rygg untuk bergabung, ia punya andil besar dalam membentuk sound ULVER, dari awalnya sebuah band black metal menjadi sebuah kolektif eksperimental yang tak pernah sungkan untuk bereksplorasi. Diawali dengan ‘Themes from William Blake’s The Marriage of Heaven and Hell’ yang bisa dibilang masih berada dalam spektrum musik metal, sebelum akhirnya bermetamorfosis secara absolut di jalur musik electronica beserta turunannya dalam ‘Perdition City’. Setelah bereksperimentasi ria sepanjang (hampir) dua dekade, Kristoffer Rygg dan Tore Ylvisaker (yang turut pula dibantu Jørn H. Sværen dan Ole Aleksander Halstensgård), merilis ‘The Assassination of Julius Caesar’ sebuah album dimana ULVER mencoba bermain di ranah synth pop dan new wave (meskipun tetap nyeleneh), dan ternyata mereka cukup nyaman (dalam tanda kutip) dengan style tersebut, yang membuat grup ini semenjak tahun 2017, bergerak tak jauh-jauh dari spektrum aliran tersebut, baik itu dalam ‘Sic Transit Gloria Mundi’, ‘Flowers of Evil’, dan ‘Liminal Animals’.

Dalam album terbarunya yang berjudul ‘Neverland’, ULVER mencoba melakukan kilas balik ke ara awal 2000’an mereka, era dimana band ini menghasilkan banyak rilisan-rilisan ambient ikonik: ‘Silence Teaches You How to Sing’, ‘Silencing the Singing’, ‘Lyckantropen Themes’ dan ‘Svidd neger’. LP kelima belas ini juga sekaligus menjadi sebuah bentuk penghormatan pada Tore Ylvisaker, yang berpulang beberapa bulan sebelum album dirilis, dimana “Fear in a Handful of Dust” diposisikan layaknya sebuah eulogi, lewat sebuah pembacaan verse kedua ‘The Burial of the Dead’, section pertama puisi karya T.S. Eliot, ‘The Waste Land’. Seperti album-album yang saya sebutkan diatas, ‘Neverland’ secara keseluruhan diisi dengan nomor-nomor electronica/ambient tanpa vokal. Meskipun empat track pertama yang berbalur new age, EDM, industrial hingga synthwave (“Fear in a Handful of Dust”, “Elephant Trunk”, “Weeping Stone”, dan “People of the Hills”) cukup kuat, sayangnya saat memasuki fase pertengahan album, gua semakin merasa kalau ‘Neverland’ seperti tak benar-benar punya benang merah yang mengikat sebelas lagu dalam album ini secara utuh. Belum lagi, dari segi pacing, jujur bikin atensi gua melemah saat mulai masuk trek kedelapan, dan perhatian gua baru bisa tertuju kembali di dua lagu akhir (“Welcome to the Jungle” dan “Fire in the End”).

Walaupun belum mampu se-engaging ‘Lyckantropen Themes’ dan ‘Svidd neger’ ataupun se-”aneh bin ajaib” ‘Perdition City’ dan ‘’Silence Teaches You How to Sing’/’Silencing the Singing’, ‘Neverland’ dengan segala problema pacing issue dan uneven tracklist, entah kenapa berhasil memikat gua setelah beberapa kali dengerin secara menyeluruh dari awal hingga akhir, karena setiap lagi dengerin ‘Neverland’  seperti ada nuansa ketenangan yang mendekap penuh kehangatan, kayak sedang rebahan di sebuah pantai tropis terisolir tanpa keramaian, ditemani sinar lemburan, es kelapa kopyor, dan gemercik ombak-ombak kecil tapi menghanyutkan. ‘Neverland’ kembali membuktikan bahwa materi yang cenderung biasa aja dan tidak terlalu menonjol dari ULVER sekalipun, lama kelamaan setelah didengarkan meski tak secara saksama pun, bakalan mampu juga secara perlahan tapi pasti menjangkiti setiap jengkal hipokampus dan korteks temporal. (Peanhead)

7.5 out of 10