fbpx

ALBUM REVIEW: EYEHATEGOD – A HISTORY OF NOMADIC BEHAVIOR

EYEHATEGOD ‘A History of Nomadic Behavior’ ALBUM REVIEW
Century Media Records. March 12th, 2021
Sludge metal

Setelah melewati proses penggodokan dan rekaman yang tidak sebentar, dedengkot aliran sludge metal asal New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat, EYEHATEGOD, akhirnya melepaskan album penuh keenam mereka pada bulan Maret 2021 kemarin, yang bertajuk ‘A History of Nomadic Behavior’ via Century Media Records, records label yang menjadi rumah grup ini sejak label besutan Robert Kampf dan Oliver Withöft tersebut merilis debut, ‘In the Name of Suffering’, tahun 1992 silam. Para fans EYEHATEGOD boleh bergembira, walaupun dirilis berjarak tujuh tahun dari album self-titled lalu, setidaknya jarak tersebut masih wajar, mengingat album follow-up ‘Confederacy of Ruined Lives’ baru keliatan empat belas tahun setelahnya. ‘A History of Nomadic Behavior’ menjadi album pertama EYEHATEGOD semenjak ‘Take as Needed for Pain‘, yang direkam tanpa kehadiran lead guitarist Brian Patton, karena ia memutuskan pensiun dini, agar bisa lebih dekat dengan keluarganya sekaligus ngurusin anak, namun hubungan antara EYEHATEGOD dengan Brian Patton masih harmonis, karena emang bukan cabut karena drama atau konflik, buktinya ia masih sesekali naik keatas panggung pasca keluar buat ngebantuin. Meskipun kini formasinya hanya berempat, ‘A History of Nomadic Behavior’, masih berisikan materi-materi yang beracun, sayangnya dari segi produksi album ini bisa dibilang kelewat bersih, kurang kasar, dan rada tipis, bisa terdengar sangat menjengkelkan kalau diputer habis LP sebelum-sebelumnya yang terasa urakan namun lebih enak ditelinga.

Hasil produksi yang kelewatan dipoles tersebut membuat dua lagu pertama “Built Beneath the Lies” dan “The Outer Banks” yang lumayan medok influence dari BLACK FLAG hingga MELVINS, jadi terdengar hambar alias gak nonjok sama sekali, timbre vokal Mike IX Williams, yang udah kepala lima malah seperti lebih muda berapa tahun, hal tersebut mungkin satu-satunya nilai plus kualitas rekaman album ini, karena untuk proses take vokal masih dipegang oleh Sanford Parker, yang dulu sempat duduk di kursi mixing board album self-titled comeback EYEHATEGOD. Pas masuk lagu-lagu doom/sludge bertempo lambat kayak “Fake What’s Yours”, “Current Situation”, dan “High Risk Trigger”, kerjaan James Whitten baru rada mendingan, meski tetap masih kurang maksimal, selain itu jangan berharap kalau Mike IX Williams, James Bower, Gary Mader, dan Aaron Hill bakalan mencoba mengutak-atik winning formula komposisi EYEHATEGOD, yang udah paten dari “In the Name of Suffering” dulu, namun untuk ukuran sebuah band gaek, mereka masih mampu menghasilan full-length berdurasi 40 menit-an yang beragam dari segi aransemen, jadi gak ngebosenin, gak melulu lambat, agresi hardcore punk yang emang sudah tertanamkan di tubuh band ini dari awal dibentuk, masih tetap nyarin dan lantang, memang versi studio agak kurang bertaji, tapi pas nantinya dibawain live, mayoritas track dalam album ini dijamin bakal nampol. ‘A History of Nomadic Behavior’ memang levelnya sangat jauh dari kualitas karya-karya klasik EYEHATEGOD, bahkan kalau dibandingkan dengan album comeback mereka yang dirilis tahun 2014 lalu, ‘A History of Nomadic Behavior’ masih belum bisa menyamai, karena ya memang hasil produksinya rada aneh, kurang nyamung sama materi-materi sludge kotor nan sloppy yang biasa digelontorkan oleh EYEHATEGOD, tapi mengingat personilnya sudah berumur semua, ditambah lagi pensiun-nya Brian Patton, lalu Mike Williams sempat sakit parah hingga perlu transplantasi hati, EYEHATEGOD bisa buat album baru aja udah harus diapresiasi, karena kalau dipikir-pikir seandainya mereka bertransformasi jadi band full nostalgia, alias jualan lagu-lagu lama aja dan reissue pun, semua orang juga gak ada komplen, apalagi para pionir sludge metal lain yang masih lumayan aktif, hanya bisa dihitung dengan jari. (Peahead)
7.5 out of 10