DER WEG EINER FREIHEIT ‘Innern’ ALBUM REVIEW
Season of Mist. September 12, 2025
Post-black metal

Sejak pertama kali menampakan diri kancah extreme metal lewat self-titled demo fenomenal tahun 2009 silam, DER WEG EINER FREIHEIT telah berhasil menjelma menjadi salah satu fondasi penting lanskap post-black metal internasional. Kwartet yang kini digawangi oleh Nikita Kamprad (gitar & vokal), Tobias Schuler (drum), Nicolas Rausch (gitar), dan Alan Noruspur (bass) ini, sampai sekarang hampir belum pernah mengecewakan sama sekali dari segi kualitas materi, dari ‘2019 Demo’ yang akhirnya dikemas ulang jadi album pertama, ‘Agonie’ EP, ‘Unstille’, ‘Stellar’, hingga breakthrough mereka dulu ‘Finisterre’ (2017). Lima tahun lalu DWEF sedikit mencoba keluar dari zona nyaman lewat full-length kelima mereka, ‘Noktvrn’ (2021), yang rada disentil para fans mereka, karena terdengar kurang dingin dan intens seperti rilisan-rilisan sebelumnya. Meskipun begitu, LP kelima DWEF tersebut, masih memikul emotional weight yang luar biasa, dan dikemas dengan pendekatan sinematis, dengan aura melankolis kuat yang mampu bikin segala perasaan terpendam tumpah ruah, walau gak ngerti bahasa Jerman sama sekalipun, dan hanya bermodal hasil google translate liriknya.

Sama seperti ALCEST dan DEAFHEAVEN yang justru berhasil melepaskan career high pasca merilis album yang secara radikal (tapi masuk akal) menggeser arah musikal mereka menjadi lebih condong ke shoegaze (‘Shelter’ dan ‘Infinite Granite’). Meski ‘Noktvrn’ hanya melenceng sedikit dari cetak biru post-black metal yang biasa mereka bawain, DWEF melakukan hal yang sama lewat album teranyar mereka, ‘Innern’, yang sangat pantas jika dinobatkan sebagai album terbaik mereka (so far). Bahkan, album yang dirilis via Season of Mist di penghujung kuartal ketiga tahun 2025 kemarin ini mampu melampaui baik ‘Stellar’ ataupun ‘Finisterre’. Sempat terlintas di pikiran, “ah ini sih recency bias doang paling”, yang membuat gue tak terlalu terburu-buru menulis tentang LP nomor enam DWEF ini, tapi setelah menjalani beberapa bulan masa tenang, lalu mendengarkan kembali secara intensif, ternyata pendapat gue terhadap ‘Innern’ belum sama sekali bergeser sejengkal pun. Salah satu kekuatan terbesar album ini adalah durasi dan struktur yang benar-benar tight tanpa ada filler sama sekali, dengan flow yang mengalir secara konsisten menjaga dorongan naratif dan tingkat ketajaman aransemen dari menit pertama hingga detik-detik akhir.
‘Innern’ dibuka dengan trek intens luar biasa eksplosif, “Marter”, lalu dilanjutkan dengan nomor kedua cukup masif, “Xibalba”, yang tak kalah tajam dalam menyayat lapisan batin terdalam pendengar, dan sepertinya DWEF masih paham betul betapa pentingnya dinamika komposisi, karena mereka tak ragu untuk menurunkan tensi lagu pada 3 menit akhir, dengan memberi ruang pada extended instrumental section yang terasa kontemplatif dan bisa meluruhkan ketegangan sejenak. Walaupun diawali dengan intro yang cukup syahdu, “Eos” justru menjadi track paling sadis di album ini, dimana DWEF meramu disonansi yang runcing, lapisan tekstur abrasif, serta atmosfer gelap, muram dan penuh tekanan, sebelum di dua menit terakhir mereka berbelok ke fase yang lebih melodis dan grandiose, namun penuh rasa getir, dan tetap dibangun di atas tension yang belum sepenuhnya dilepas bahkan sampai akhir lagu pun.
Sempet gua kira bakalan melunak dikit dalam “Fragment”, Nikita Kamprad, Nicolas Rausch, Alan Noruspur, dan Tobias Schuler baru bener-bener jadi mellow di lagu terakhir, “Forlorn”, yang liriknya ditulis dalam bahasa inggris, itu pun nggak sampai benar-benar jatuh ke wilayah post-rock/shoegaze tulen seperti “Haven” di rilisan sebelumnya. ‘Innern’ memposisikan DER WEG EINER FREIHEIT di titik paling digdaya dan matang dalam karir mereka. Karena baik dari aspek musikal, performa para personil, artistic direction, sampai produksi (recording, mixing, sampai mastering) yang ditangani langsung oleh sosok paling maniak kontrol dalam band ini, Nikita Kamprad, semuanya memang terbukti maksimal tanpa celah berarti. Album ini juga jadi semacam pembenaran bahwa kesan pertama saat terpapar sebuah album kadang memang nggak sepenuhnya ngawur atau bias kekinian belaka, dan dalam kasus ‘Innern’, insting gua pas pertama kali nyetel secara utuh dulu terbukti tepat sasaran.(Peanhead)
9.7 out of 10