
OVERLORD
Sutradara: Julius Avery
USA (2018)
Review oleh Tremor
Overlord adalah sebuah film action perang dengan sentuhan horor yang disutradarai oleh Julius Avery berdasarkan naskah yang ditulis oleh Billy Ray dan Mark L. Smith. Ketika film ini dibuat, nama Julius Avery sudah cukup menarik perhatian berkat debutnya, sebuah film crime drama berjudul Son of a Gun (2014) yang menunjukkan potensinya sebagai sutradara. Overlord sendiri diproduseri oleh J. J. Abrams melalui rumah produksi miliknya, Bad Robot Production. Dalam industri film mainstream, nama Abrams sudah cukup dikenal karena ia pernah menyutradarai beberapa film reboot Star Trek serta dua film Star Wars. Namun, dalam bagi para penggemar horror sci-fi, nama Abrams lebih identik dengan franchise ciptaannya sendiri, yaitu seri Cloverfield. Awalnya, Overlord sempat dirumorkan sebagai bagian dari universe-nya Cloverfiled. Gagasan tentang film Cloverfield yang berlatar Perang Dunia II tentu merupakan ide yang menarik. Sayangnya, pada akhirnya Abrams mengumumkan secara publik bahwa Overlord sama sekali tidak memiliki kaitan apapun dengan franchise tersebut. Perang sendiri merupakan salah satu bentuk horor paling nyata dan murni yang bisa dialami oleh manusia, sehingga akan sangat cocok kalau dijadikan latar sebuah film horror. Overlord membawa ide tersebut ke tingkatan yang berbeda lewat pendekatan body horror, sci-fi, dan mayat hidup.

Judul film ini diambil dari nama sandi sebuah operasi penting tentara sekutu dalam Perang Dunia II, yaitu Operation Overlord. Operasi ini berfokus pada invasi wilayah Normandia, Prancis, untuk merebut kembali Eropa Barat dari pendudukan Jerman Nazi. Operation Overlord merupakan salah satu operasi militer yang paling terkenal dalam Perang Dunia II, berbarengan dengan Operasi Neptune yang berfokus pada invasi laut di pesisir pantai Normandia. Keberhasilan kedua operasi tersebut kemudian lebih dikenal sebagai peristiwa D-Day, yang pernah digambarkan dengan sangat menegangkan sekaligus mengerikan dalam film Saving Private Ryan (1998). Film Overlord sendiri bercerita tentang sekelompok pasukan terjun payung Amerika yang diterjunkan ke Normandia beberapa jam menjelang D-Day dengan misi utama menghancurkan menara pemancar radio milik Nazi agar invasi pantai Normandia yang akan dimulai dengan serangan udara bisa berjalan mulus. Pemancar radio yang harus mereka ledakan berada di dalam bangunan gereja tua di sebuah desa kecil yang telah diduduki oleh pasukan Nazi. Tanpa mereka sadari, bangunan gereja tersebut bukan hanya dijadikan sebagai lokasi pemancar radio saja, tetapi juga laboratorium rahasia milik Nazi Jerman. Di sana, para ilmuwan Nazi melakukan eksperimen bioteknologi mengerikan yang bertujuan membangkitkan kembali para tentara yang telah tewas menjadi monster berkekuatan super yang sulit dibunuh.

Dalam paruh pertamanya, plot Overlord terasa sangat cocok kalau dijadikan sebagai film adaptasi video game Call Of Duty. Namun ketika plot eksperimen ilmuwan nazi mulai muncul, Overlord mengingatkan saya pada seri video game lain, yaitu Wolfenstein. Dalam Wolfenstein, kita bukan saja terperangkap dalam markas Nazi, tetapi juga harus melawan beberapa “tentara super” hasil eksperimen dan rekayasa teknologi tinggi. Wolfenstein dan Overlord sama-sama berangkat dari ide mengenai manusia yang direkayasa menjadi senjata perang mematikan. Bedanya, tentara super dalam Wolfenstein lebih banyak menggunakan elemen mesin berat, sementara Overlord lebih berfokus pada eksperimen mutasi genetik dalam menciptakan tentara supernya. Beberapa sumber menyebut monster hasil eksperimen Nazi dalam Overlord sebagai zombie. Tapi saya pikir karakteristik mereka tidaklah sama dengan zombie yang kita kenal. Para monster dalam film ini tidak menggigit maupun memangsa orang lain. Kondisi mereka juga tidak menular seperti yang lazim ditemukan dalam film-film zombie pada umumnya. Pembeda paling jelas mungkin adalah para monster dalam Overlord masih memiliki kesadaran penuh setelah bangkit dari kematian, dengan versi fisik yang jauh lebih kuat dan sulit dibunuh. Artinya, mereka bukan mayat hidup biasa. Jadi, saya pikir mungkin lebih tepat untuk menyebut monster dalam Overlord sebagai mayat hidup mutan saja.

Overlord tentu bukanlah film yang sempurna. Karakter-karakternya terlalu stereotip dan tidak memiliki kedalaman sama sekali. Belum lagi babak terakhirnya yang tak kalah stereotip dan terlalu heroik ala film perang buatan Amerika. Tapi semua itu seharusnya tidak terlalu menjadi masalah untuk film ringan semacam ini, karena saya pikir para penggemar horor menonton Overlord bukan untuk mencari kedalaman karakter, cerita ataupun pesan moral. Yang kita cari adalah momen-momen horor menghibur yang penuh darah. Dengan ide dasar seputar eksperimen ilmuwan Nazi untuk menciptakan tentara mutan super, rasanya wajar kalau calon penontonnya kemudian berharap kalau Overlord akan menampilkan banyak aksi mutan yang brutal dan liar. Sayangnya, momen horor dalam Overlord bisa dibilang tidak terlalu banyak. Sebagai sebuah hibrida film perang, sci-fi dan horror, Overlord sebenarnya memiliki banyak potensi, namun banyak yang terasa tidak diolah. Tapi setidaknya, special effect yang digunakan untuk menciptakan adegan-adegan sadis, body horror serta makeup mutan-nya digarap dengan cukup baik. Yang pasti, film ini cukup menghibur tanpa perlu ditanggapi terlalu serius.

