
ANTLERS
Sutradara: Scott Cooper
USA (2021)
Review oleh Tremor
Antlers adalah sebuah film supranatural / folk horror yang disutradarai oleh Scott Cooper, berdasarkan cerpen berjudul ‘The Quiet Boy’ karya Nick Antosca yang juga ikut menulis naskahnya. Meskipun Cooper bukanlah sutradara baru, tapi Antlers merupakan debut Cooper dalam genre horror, di mana ia menggabungkan drama slow burn, monster dari cerita rakyat, dan juga isu sosial modern lewat kacamata horor konvensional. Sebelum Antlers, Cooper sudah membuat banyak karya dengan genre yang berbeda-beda, dari mulai thriller, gangster, western, hingga drama musikal. Karena itu, cukup bijak untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi, karena Antlers bisa dibilang merupakan proyek eksperimental untuk Scott Cooper menerima tantangan baru sebagai seorang sutradara. Apa yang membuat film ini sedikit menjanjikan mungkin adalah keterlibatan veteran horor fantasi Guillermo del Toro sebagai produsernya.

Berlatar di sebuah kota terpencil, kita diperkenalkan dengan seorang guru bernama Julia. Ia tinggal bersama saudara laki-lakinya bernama Paul yang bekerja sebagai sheriff setempat. Sebagai seorang guru, Julia merasa khawatir terhadap salah satu muridnya yang sangat tertutup dan pendiam bernama Lucas. Tak hanya pendiam, tubuh Lucas juga sangat kurus dan pakaiannya selalu terlihat usang, membuatnya sering menjadi sasaran perundungan di sekolahnya. Suatu hari setelah Lucas berkelahi membela diri dari para perundungnya, Julia melihat ada bekas-bekas luka lama pada punggung Lucas, dan mulai menduga kalau Lucas mungkin mengalami kekerasan di rumahnya. Julia sendiri pernah menjadi korban pelecehan dan kekerasan dari ayahnya sendiri ketika ia masih kecil. Kini dalam kondisi masih memproses luka dan trauma masa kecilnya, Julia merasakan empati yang cukup besar dan tergerak untuk segera menyelamatkan Lucas. Namun, Julia tidak pernah menyangka bahwa apa yang terjadi dalam rumah Lucas rupanya jauh lebih mengerikan dibanding apa yang bisa ia bayangkan.

Dengan alur yang agak lambat, Antlers mengambil waktu yang cukup untuk berfokus pada aspek drama sekaligus mendalami karakter-karakternya: Julia, Paul dan Lucas. Menurut saya, beberapa realitas sosial yang dicoba dieksplorasi lewat kisah Lucas adalah horor sebenarnya yang terjadi di dunia nyata: dampak buruk kecanduan narkoba dan pengaruhnya terhadap keluarga, terutama bagi anak-anak yang memiliki orang tua pecandu. Menyedihkannya, dari apa yang saya pernah baca, hal tersebut cukup lumrah terjadi di wilayah-wilayah kurang maju dan miskin di Amerika, di mana ada banyak anak terlantar tanpa mendapat kasih sayang dan harus menjadikan jalanan yang keras sebagai area bermainnya. Tak hanya itu, terdapat juga beberapa tema lain yang digambarkan lewat karakter Julia, diantaranya adalah trauma, pergulatan batin melawan kecanduan alkohol, hingga kekerasan dan pelecehan yang dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Antlers membungkus tema yang cukup kelam tersebut lewat metafora sesosok monster yang diambil dari sebuah cerita rakyat suku Algonquin, salah satu kelompok penduduk asli Amerika. Makhluk tersebut disebut sebagai Wendigo. Dalam Antlers, Wendigo digambarkan sebagai makhluk dengan rasa lapar yang tak pernah terpuaskan, menjadikannya metafora yang cukup jelas untuk menggambarkan adiksi. Namun menurut saya, ada masalah kultural yang agak mengganjal dari digunakannya Wendigo dalam Antlers karena film ini digarap oleh para pembuat film yang tidak satupun dari mereka merupakan penduduk asli Amerika, tanpa melibatkan para penutur asli dari cerita rakyat tersebut. Bahkan semua karakter utamanya pun adalah kulit putih. Satu-satunya karakter keturunan native american dalam film ini hanyalah karakter Warren Stokes, yang terasa dihadirkan hanya untuk memberikan penjelasan singkat tentang legenda Wendigo kepada penonton. Tentu ini menimbulkan potensi akan apropriasi budaya yang bisa saja eksploitatif,. Apalagi seperti kita semua tahu bahwa Amerika adalah tanah yang dicuri oleh kolonial kulit putih dari para penduduk aslinya dengan jalan kekerasan.

Latar belakang mitologis dari Wendigo juga tidak digali lebih jauh dalam Antlers. Karakter Warren Stokes hanya sempat menyebutkan beberapa cirinya, bahwa mahkluk ini dapat berubah wujud dan sangat rakus. Sayangnya, kemampuan Wendigo untuk berubah wujud ini tidak pernah benar-benar diperlihatkan di dalam film ini. Mahkluk ini hanya sempat terlihat mengenakan selembar kulit wajah manusia sesaat, dan bagi saya itu secara teknis bukanlah berubah wujud. Dalam beberapa versi legenda aslinya, Wendigo sering digambarkan berwujud menyerupai manusia yang kurus kering dan sangat keriput. Dalam beberapa versi lain, Wendigo digambarkan sebagai sosok raksasa dan lebih menyerupai hewan. Di sini saya bisa memahami bahwa tentu sulit untuk memvisualisasikan legenda Wendigo dengan baik. Sebelumnya sebuah film berjudul Wendigo (2001) pernah mencobanya, namun bisa dibilang gagal total karena desain Wendigonya yang buruk. Karena sulitnya untuk memvisualisasikan Wendigo, sepertinya tim kreatif film Antlers akhirnya harus mengembangkan desain Wendigo-nya sendiri tanpa benar-benar terpatok pada legenda aslinya. Wendigo dalam Antlers yang karakteristiknya sepenuhnya hewani ini memiliki desain yang cukup kreatif, di mana tubuhnya mengeluarkan semacam percikan bara serta memiliki jantung yang berpijar. Desain Wendigo ini merupakan karya dari studio special effect bernama Legacy Effects, yang bersikeras menggunakan practical special effect tradisional. Namun Legacy Effects terpaksa harus menggunakan CGI dalam beberapa adegan yang memperlihatkan aksi-aksi cepat Wendigo.

Pengaruh Guillermo del Toro sebagai produser jelas terasa dalam Antlers. Salah satunya yang paling mencolok adalah cerita utama yang berfokus pada anak kecil yang tumbuh di situasi sulit, yang merupakan salah satu tema favorit del Toro dalam karya-karyanya. Selain itu, penggambaran monsternya pun memiliki kemiripan dengan film-film del Toro di mana monster-monsternya seringkali mengundang rasa simpati. Soal ini sangat terasa ketika kita melihat bagaimana karakter ayah Lucas masih berusaha melindungi anak-anaknya walaupun ia perlahan berubah menjadi monster. Belum lagi karakter Aiden, adik dari Lucas, yang juga sudah bukan manusia biasa namun sangat mengundang simpati. Film ini kemudian ditutup dengan babak yang, ketika semuanya mulai terungkap, alur ceritanya terasa kehilangan arah dan lebih berfokus pada penulisan klise horor konvensional, terutama dalam adegan konfrontasi terakhirnya sebagai pertarungan pamungkas antara kekuatan baik dan jahat. Sebagai sebuah usaha pertama sutradara Cooper menyelami genre horor, Antlers bukanlah film yang buruk. Tapi film ini juga bukan film yang akan saya tonton ulang di kemudian hari. Bagi mereka yang menyukai desain monster, mungkin Antlers perlu ditonton setidaknya satu kali seumur hidup. Namun dalam konteks genre horor, film ini jelas tidak menawarkan banyak hal baru.

