MOVIE REVIEW: PRIMATE (2025)

PRIMATE
Sutradara: Johannes Roberts
US/UK/Kanada/Australia (2025)

Review oleh Tremor

Primate adalah sebuah film natural horror karya sutradara Johannes Roberts berdasarkan naskah yang ia tulis bersama Ernest Riera. Sebelumnya, mereka sudah pernah berkolaborasi menulis film natural survival horor berjudul 47 Meters Down (2017). Roberts juga pernah dipercaya untuk menyutradarai sekuel The Strangers (2008) berjudul The Strangers: Prey at Night (2018) yang tidak terlalu berhasil. Natural horror sendiri merupakan subgenre horror yang menggunakan elemen alam, terutama hewan, sebagai antagonis sumber terornya. Film-film seperti The Birds (1963), Jaws (1975), Squirm (1976), Piranha (1978), Alligator (1980), Cujo (1983), Arachnophobia (1990), Anaconda (1997), hingga Frozen (2010) adalah beberapa contoh terbaiknya. Kalau diharuskan untuk mengkategorikan lebih rinci, saya akan mendeskripsikan Primate sebagai sebuah film hibrida antara slasher dan natural horror, karena sosok pembantai dalam film ini sangat unik, yaitu seekor simpanse yang berubah menjadi ganas setelah terinfeksi rabies. Secara eksplisit, Johannes Roberts memang pernah mengakui bahwa novel karya Stephen King tahun 1981 yang berjudul Cujo, termasuk film adaptasinya yang dirilis pada tahun 1983, adalah inspirasi utamanya dalam menulis Primate. Apa yang ia lakukan dalam Primate adalah mengganti karakter anjing (Cujo) dengan seekor simpanse, lalu meningkatkan eskalasinya dengan unsur slasher yang sangat dominan. Tanpa diduga, formula ini cukup berhasil.

Seorang mahasiswi bernama Lucy Pinborough menggunakan masa liburnya untuk pulang ke Hawaii agar bisa menghabiskan waktu bersama ayah dan adik perempuannya. Ia mengajak beberapa temannya karena mereka tahu bahwa ayah Lucy yang berprofesi sebagai penulis akan pergi selama beberapa hari untuk urusan pekerjaannya. Tentu saja tujuan mereka adalah untuk berpesta di rumah mewah milik keluarga Lucy selama ayahnya pergi nanti. Ibu Lucy sendiri sudah meninggal satu tahun sebelumnya karena kanker. Sesampainya di rumah, Lucy disambut oleh Ben, seekor simpanse jinak yang telah menjadi bagian dari keluarga Pinborough sejak lama dan memiliki kedekatan emosional dengan Lucy. Ketika masih hidup, ibu Lucy adalah seorang peneliti bahasa dan Ben diadopsi sejak kecil sebagai bagian dari penelitian mengenai kemampuan berbahasa pada hewan. Ben bukanlah simpanse biasa. Kecerdasan dan kemampuan Ben dalam berkomunikasi dinilai luar biasa, bahkan sampai sempat menjadi berita di banyak media massa. Suatu hari, Ben yang malang digigit oleh seekor garangan liar yang kemudian berhasil ia bunuh. Yang tidak keluarga Pinborough ketahui adalah, garangan tersebut terinfeksi rabies dan menularkan virus tersebut pada Ben lewat gigitannya. Sejak hari itu, perilaku Ben secara perlahan mulai berubah menjadi semakin agresif dan ganas. Terorpun dimulai sejak Ben mengamuk dan membantai siapapun yang ia lihat dengan cara paling liar.

Tiga tahun sebelum film ini dirilis, dunia telah melihat adegan mengerikan serangan simpanse dalam film Nope (2022) buatan Jordan Peele. Kemungkinan besar, film Primate dan adegan serangan simpanse dalam Nope sama-sama terinspirasi dari kisah nyata tentang seekor simpanse peliharaan yang sangat jinak bernama Travis. Pada tahun 2009, Travis sempat menjadi sorotan nasional di Amerika setelah menyerang salah satu teman tuannya secara brutal, sebelum akhirnya harus ditembak mati oleh polisi. Saya tahu bahwa hewan liar bisa sangat menakutkan. Namun, apa yang perlu kita sadari adalah manusia yang memilih untuk menculik hewan liar dari habitat aslinya dan mengurung mereka di lingkungan baru adalah sumber masalah sebenarnya. Berbagai insiden seperti simpanse Travis dan gorilla Harambe (2016) adalah contoh nyata dan menyedihkan tentang bagaimana manusia membunuh mereka hanya karena mereka berperilaku berdasarkan insting alaminya.

Kembali pada pembahasan film Primate, perbandingan dengan film Cujo jelas tak terelakkan karena keduanya memiliki premis dasar yang sama: hewan peliharaan jinak kesayangan keluarga berubah menjadi agresif setelah terinfeksi rabies. Tapi kemiripannya hanya sampai di situ saja. Selebihnya, Primate mengambil pendekatan yang jauh berbeda dari Cujo, yang bagi saya justru menjadi kekuatan dan keunikannya tersendiri. Secara keseluruhan, Primate memang lebih terasa sebagai sebuah film slasher, lengkap dengan semua elemen khasnya: rumah terpencil, anak-anak muda berpesta, adegan-adegan pengintaian dan perburuan dalam satu malam, serta kecenderungan Ben untuk mengambil waktu mempermainkan mental para korbannya terlebih dahulu sebelum membunuh mereka dengan brutal.

Perilaku Ben dalam Primate jelas tidak mencerminkan tindakan hewan yang terkena rabies sama sekali, tetapi lebih condong ke perilaku karakter-karakter villain slasher legendaris seperti Michael Myers dan Jason Voorhees dengan berbagai adegan pembunuhan kreatifnya yang penuh darah. Dan inilah yang membuat Primate menarik. Bagi saya, keputusan Johannes Roberts untuk melebih-lebihkan sifat liar simpanse menjadi pembunuh yang brutal ini sangat efektif dan menyegarkan untuk konsep Primate sebagai film slasher modern. Semua ciri villain slasher ada pada diri Ben, dari mulai kecepatan dan kekuatan fisik yang luar biasa, ketahanan tubuh terhadap serangan, stamina yang hebat, hingga kemampuannya dalam mengintai dan mengintimidasi calon korbannya. Layaknya film slasher, cara Ben membunuh pun cukup bervariasi, dari mulai mencabut rahang korbannya hidup-hidup hingga menghujam kepala korbannya berkali-kali menggunakan batu besar. Sutradara Johannes Roberts bahkan sempat membuat satu adegan menegangkan yang diambil langsung dari salah satu adegan paling ikonik di film Halloween (1979), yaitu ketika Lucy dan temannya bersembunyi di dalam lemari baju, sebagai homage. Mengikuti tradisi film slasher 80-an, para karakter manusia dalam Primate juga banyak mengambil keputusan bodoh. Dalam beberapa kasus, keputusan bodoh bisa membuat penonton frustrasi. Tapi dalam kasus film slasher campy seperti ini, justru dari sanalah banyak rasa fun datang. Kalau para karakternya mengambil keputusan cerdas, mungkin semua film slasher hanya akan berdurasi 30 menit saja.

Tentu akan sulit bagi sutradara Johannes Roberts kalau ia harus menggunakan simpanse sungguhan untuk merealisasikan karakter Ben sebagai penjagal ala slasher. Jalan keluar yang Roberts pilih adalah menggunakan practical special effect dan berbagai trik tradisional. Ben sendiri diperankan oleh seorang aktor teater asal Kolombia bernama Miguel Torres Umba yang tidak memiliki pengalaman film sebelumnya. Mungkin karena latar belakangnya sebagai seorang aktor teater, Torres Umba benar-benar memperlakukan peran ini dengan sangat serius dan penuh dedikasi. Selain menggunakan aktor yang menggunakan kostum dan topeng prostetik, aksi Ben juga disempurnakan lewat penggunaan komponen wajah animatronik yang memungkinkan Ben bisa memiliki banyak ekspresi, kaki-kaki khusus yang dioperasikan oleh operator, hingga bermacam soft lens yang berbeda untuk menggambarkan tahapan perkembangan infeksi rabiesnya. Namun, sayang pada akhirnya wajah serta seluruh tubuh Ben dalam beberapa adegan terpaksa digantikan dengan model CGI yang sangat detail untuk menciptakan aksi yang lebih dinamis dan luwes.

Untuk film seperti ini, saya pribadi hanya memiliki beberapa keluhan tentang film ini, yang semuanya berkaitan dengan hal teknis. Pertama, karena Ben diperankan oleh aktor manusia dewasa, proporsi tubuhnya terlihat terlalu besar dalam beberapa adegan. Ini sebenarnya tidak terlalu penting, tapi mungkin karena otak penonton bisa membayangkan sebesar apa simpanse sebenarnya, membuat ukuran tubuh Ben dalam beberapa adegan terasa tidak nyata. Tapi saya paham, akan sangat sulit untuk Johannes Roberts bisa merekayasa skala ukuran tubuh lewat ilusi perspektif (seperti yang dilakukan oleh Christoper Nolan dalam The Odyssey untuk menciptakan ilusi pasukan raksasa) dengan bajet yang sangat terbatas. Keluhan saya berikutnya ada pada beberapa adegan pembunuhan yang sayangnya terjadi di luar layar. Sebagai sebuah film slasher, tentu keputusan tersebut seperti sebuah kesempatan “pamer special effect” yang disia-siakan. Tapi, lagi-lagi mungkin ini ada kaitannya dengan bajet film yang terbatas dan sudah terlanjur habis untuk membuat makeup serta kebutuhan prostetik karakter Ben. Di luar soal teknis barusan, tidak ada lagi yang ingin saya keluhkan. Saya bisa memaafkan penulisan film yang tidak sempurna serta pengembangan karakter yang terlalu klise, karena bagaimanapun Primate adalah jenis film yang tidak perlu ditanggapi terlalu serius, apalagi menggunakan logika. Mereka yang mencari makna atau komentar sosial dalam sebuah film tidak akan menemukan apa-apa di sini, karena Primate adalah sebuah karya slasher campy yang memiliki tujuan tunggal: menghibur para penggemar slasher. Apa yang kita perlu tahu hanyalah bahwa Primate berhasil menyuguhkan apa yang dijanjikannya: kisah tentang simpanse rabies yang mengamuk, menebar kekacauan, dan membantai orang-orang lewat berbagai cara yang mengerikan. Primate jelas bukan sebuah mahakarya yang meredefinisi horor, tapi film ini tetap menegangkan, fun, menghibur, dan layak untuk ditonton beramai-ramai.