ALBUM REVIEW: FINSMOONTH – CHRYSALIS OF ASTRAL TEARS

FINSMOONTH ‘Chrysalis of Astral Tears’ ALBUM REVIEW
Disaster Records. June 13th, 2026
Melodic black metal

Unit melodic black metal asal Ibu Kota, FINSMOONTH, yang terbentuk sejak tahun 2020 silam, telah kembali untuk melayangkan album karya terbaru mereka kepada para jemaat black metal tanah air, bertajuk ‘Chrysalis of Astral Tears’, yang nongol empat tahun pasca debut impresif, ‘Affliction’, yang dulu dilepaskan melalui label asal Jerman, Northern Silence Productions. Sebuah album yang berhasil menuai sambutan hangat baik dari para kritikus ataupun penggila musik ekstrim baik dari dalam atau luar negeri. Kini, lewat album kedua yang berisikan enam buah lagu dan terealisasikan berkat konspirasi bersama Disaster Records, mampukah FINSMOONTH mempertahankan momentum yang mereka bangun lewat ‘Affliction’? Let’s find out!.

Sepertinya di rilisan kedua, FINSMOONTH ogah bertele-tele saat mau masuk ke lagu pertama, apabila dalam ‘Affliction’ ada sedikit introduksi satu menit-an, dalam ‘Chrysalis of Astral Tears’ mereka langsung menerjang tanpa aba-aba dengan “An Endless Depth”, yang menyambar layaknya hujan badai dadakan di tengah musim kemarau. LP kedua FINSMOONTH ini masih mengusung melodic black metal syarat bumbu post-rock dengan pembawaan sangat emosional yang sulit terbendung. Tidak seperti banyak band black metal era modern (khususnya yang pakai embel-embel melodic, atmospheric, post-”, ataupun “-gaze”), yang kadang punya kualitas songwriting pas-pasan dan terdengar monoton dari segi aransemen. Grup yang sekarang beranggotakan Tino Guruh (vokal), Irwin Ryanto (gitar), Zulk Adhe (gitar), dan Micco Rullyanto (drum) ini, sudah sangat lihai dalam meracik ramuan black metal kekinian yang dijamin gak bakal bikin pendengar cepet jenuh atau mengendur perhatiannya saat meresapi materi-materi baru dalam ‘Chrysalis of Astral Tears’, yang merupakan karya terakhir bassist Maulana “Aboed” Fachrul Azwar (R.I.P), yang telah berpulang pada bulan akhir bulan april tahun ini.

“An Endless Depth” terdengar luwes bermain dengan struktur lagu hingga time signature yang fluid, seraya memainkan antisipasi pendengar lewat pergerakan dinamikanya. Berikutnya ada “Foliage of the Wings” yang mampu menjaga daya simak pendengar dari awal hingga akhir lagu, meskipun durasinya tembus sembilan menit lebih, kemudian “Dimming Palette” menghadirkan sajian lead gitar terbaik di album ini, yang memancarkan glorious aura dari ujung ke ujung. Sayangnya, gara-gara tiga track pertama kelewat superior, membuat trek keempat dan kelima, “Luminous Unveiling” dan “Embers at Ethereal Dawn”, jadi agak kurang mampu menyamai daya cengkramnya, apalagi kalau digeber berdasarkan urutan tracklist secara komprehensif, waktu masuk kedua nomor tersebut bawaanya jadinya kurang mampu nyantol maksimal, dimana gua sendiri biasanya baru benar-benar terseret balik lagi saat masuk 1:40 menit terakhir “Embers at Ethereal Dawn”.

Lagu keenam sekaligus terakhir, “Presomnal”, akhirnya mampu kembali membenamkan kembali kesadaran ogut kedalam pusaran emosi album ini, lewat komposisi lebih nyerempet post-black yang terasa seperti sebuah himne penyembuhan bagi segala luka hati, gak bakal salah lah kalo gue bilang kalau “Presomnal” bersama “An Endless Depth” dan “Foliage of the Wings” pantas disebut sebagai jajaran tiga besar materi terbaik yang pernah ditulis oleh FINSMOONTH, sekaligus tentunya layak masuk percakapan sebagai lagu lokal terbaik tahun 2026. ‘Chrysalis of Astral Tears’ jelas merupakan sebuah pendewasaan signifikan dari album debut mereka, terutama dari aspek kualitas penulisan lagu. Meski begitu, masih ada sedikit tanda tanya soal bagaimana materi-materi baru ini nantinya diterjemahkan ke atas panggung, mengingat hampir seluruh komposisi terbarunya punya lapisan clean vocal yang ikut melibatkan Januaryo Hardy (PURE WRATH) atau Isa Bellum (SIGILS OF RUIN). Walaupun gua punya tendensi untuk kehilangan atensi saat masuk bagian kedua, secara keseluruhan dengan LP kedua ini, FINSMOONTH berhasil mengunci reputasi mereka sebagai band black metal dalam negeri paling menjanjikan saat ini. Meski tetap perlu digarisbawahi, ketika menyelami materi-materi mereka, para pendengar harus mau membuka pikiran, dan tak hanya berpatokan kepada band-band trve kvlt belaka.(Peanhead)

Rest in Power, Aboed.

8.5 out of 10