MOVIE REVIEW: DANGEROUS ANIMALS (2025)

DANGEROUS ANIMALS
Sutradara: Sean Byrne
Australia / USA (2025)

Review oleh Tremor

Setelah debutnya yang cukup memuaskan berjudul The Loved Ones (2009), disusul dengan horor supranatural The Devil’s Candy (2015), sineas Australia Sean Byrne akhirnya kembali setelah vakum selama 10 tahun lewat karya horor survival yang cukup unik: Dangerous Animals. Kalau sebelumnya Byrne selalu menulis sendiri film-filmnya, kali ini ia menyutradarai film berdasarkan debut naskah yang ditulis seorang pendatang baru bernama Nick Lepard. Pada tahun yang sama, dirilis juga film karya penulisan Lepard yang kedua, yaitu Keeper (2025) yang disutradarai oleh Osgood Perkins. Saya pribadi menonton Dangerous Animals secara buta tanpa menonton trailer dan mengetahui apapun sebelumnya tentang film ini, dan saya sangat terhibur dengan kejutan genre yang ditawarkan oleh Byrne, terutama pada bagian opening-nya yang menjanjikan. Sebenarnya saya menyarankan siapapun untuk menontonnya secara buta seperti itu. Apalagi belakangan saya baru tahu kalau trailer resmi Dangerous Animals menunjukkan hampir keseluruhan plot utamanya, tanpa menyisakan ruang untuk kejutan dan imajinasi. Namun untuk kebutuhan menulis review ini, tidak ada pilihan bagi saya selain merusak kejutannya.

Film ini berfokus pada Zephyr, seorang surfer muda asal Amerika yang tinggal dalam mobil van dan menetap di pesisir pantai Australia untuk mengisi hidupnya dengan berselancar. Pada suatu dini hari di pelataran parkir tepi pantai yang sepi, seseorang menculik Zephyr yang sedang bersiap-siap untuk pergi berselancar. Penculiknya adalah seorang sociopath pembunuh berantai bernama Bruce Tucker, yang segera membawa Zephyr ke dalam kapalnya. Dalam kesehariannya, Tucker bekerja sebagai pemandu wisata yang menawarkan paket trip untuk para turis yang ingin mendapat pengalaman berenang bersama hiu dalam kerangkeng di laut lepas. Namun obsesi Tucker pada hiu rupanya tidak berhenti hanya sampai di situ saja.

Australia jelas merupakan lokasi yang sangat cocok sebagai latar film horor dengan elemen ancaman dari predator alami, karena benua tersebut memang dikenal dengan satwa-satwa liarnya yang mematikan, salah satunya hiu sebagai predator di lautan. Namun, tentu sulit untuk membuat film horor yang berkaitan dengan hiu tanpa membuatnya terasa klise seperti kebanyakan film hiu. Untungnya, naskah dari Nick Lepard dan eksekusi dari sutradara Sean Byrne berhasil mengatasi tantangan tersebut karena Dangerous Animals tidak menempatkan hiu sebagai monster dan sumber ancaman utamanya. Sebaliknya, di sini manusialah yang menjadi monsternya, berwujud seorang pembunuh berantai yang sangat terobsesi dengan hiu. Dalam Dangerous Animals, hiu hanyalah hewan liar yang memangsa berdasarkan instingnya untuk bertahan hidup di alam liar, dan karakter Tucker menggunakan insting mereka sebagai senjata yang mematikan. Menariknya, Sean Byrne tidak menggunakan satupun boneka maupun animatronik hiu dalam film ini. Semua hiu yang terlihat di bawah air adalah hiu asli, yang diambil dari berbagai footage penelitian soal hiu. Beberapa efek visual digital digunakan untuk menciptakan sirip hiu di atas permukaan air, menggabungkan aktor ke dalam footage hiu yang sudah ada, ataupun untuk menciptakan scene yang membutuhkan pengaturan posisi hiu yang tidak mungkin bisa dilakukan secara nyata. Jadi, efek CGI digunakan seperlunya, yang untungnya tidak terasa merusak keseluruhan film.

Menggabungkan film slasher / psikopat dengan elemen horor hiu adalah ide yang menyegarkan dan menarik. Namun di sisi lain, film ini bisa jadi mengecewakan mereka yang berharap kalau Dangerous Animals adalah film hiu konvensional semacam Jaws (1975), Deep Blue Sea (1999), Open Water (2003) dan The Shallows (2016), karena hiu sama sekali tidak menjadi fokus utama dalam film ini. Bahkan hiu-hiu ini cukup jarang terlihat dalam film. Dangerous Animals memang tidak dipasarkan sebagai film hiu, tapi siapapun bisa saja terkecoh dan menduga kalau ini adalah film hiu. Sutradara Sean Byrne sendiri memang ingin untuk membuat sebuah film hiu tanpa memposisikan ikan tersebut sebagai monster. Setelah menerima stigma lewat film Jaws (1975), spesies hiu mulai disalahpahami dan banyak diburu secara brutal. Hingga hari ini, tingkat kematian tinggi dari spesies hiu turut disesalkan oleh Steven Spielberg sutradara dari Jaws. Karena itu, Byrne menciptakan sebuah hibrid genre horor yang menarik, yaitu menggabungkan elemen film hiu dengan film slasher, di mana sang pembunuh menggunakan hiu sebagai cara untuk membantai para korbannya. Meskipun ini adalah kejutan menyenangkan yang seharusnya baru disadari ketika pertama kali menontonnya, tapi saya pikir apa yang saya tulis barusan bukanlah spoiler, karena tagline pada poster filmnya pun sudah cukup jelas: “You’re safer in the water.”

Selain karena idenya yang menyegarkan, kekuatan film ini juga ada pada penampilan dan interaksi dua cast utamanya yang bermain dengan sangat bagus dan meyakinkan. Yang pertama adalah aktor Jai Courtney yang memerankan karakter Bruce Tucker dengan fantastis. Di satu sisi, karakter Tucker bisa terasa karismatik dan menyenangkan, namun bisa berubah menjadi begitu kejam ketika sisi psikopatnya mulai ditampilkan. Lalu ada aktris muda Hassie Harrison yang tak kalah bagus dan meyakinkannya dalam memerankan Zephyr sebagai seorang survivor.

Saya sangat menikmati film ini di sepanjang durasinya. Semua unsur horor dan thriller-nya dieksekusi dengan baik. Ketegangan dan kekerasan penuh darahnya pun tidak terasa berlebihan. Setiap adegan menyakitkan dalam film ini terasa seperti memiliki tujuan dan bukan ditulis hanya sekedar menjadi hiburan semata. Sinematografinya pun cukup bagus, terutama bagi mereka yang menyukai suasana laut dan pantai di musim panas. Mungkin bagian favorit saya dari Dangerous Animals adalah 10 menit pertama yang memperkenalkan karakter Tucker. Adegan pembuka yang sederhana tersebut terasa sangat kuat dalam memperkenalkan Tucker sejak awal. Tapi bukan berarti film ini tidak memiliki kelemahan. Beberapa kekurangan mungkin datang dari penulisannya yang terkadang tidak logis, terutama ketika Zephyr berhadapan dengan seekor great white shark di dalam air. Meskipun diperankan dengan sangat baik, para karakter dalam film ini juga terasa kurang dikembangkan sehingga tidak memiliki kedalaman. Tapi saya bisa memaklumi semua itu karena bagaimanapun Dangerous Animals adalah usaha penulisan perdana dari Nick Lepard. Tentu saja sebagai sebuah debut penulisan, Dangerous Animals tetap layak diapresiasi. Di luar semua kekurangannya, setidaknya saya tetap merasa sangat terhibur setelah film ini berakhir.