ALBUM REVIEW: LAMP OF MURMUUR – THE DREAMING PRINCE IN ECSTASY

LAMP OF MURMUUR  ‘The Dreaming Prince in Ecstasy’ ALBUM REVIEW

Wolves of Hades. November 14th, 2025
Black metal

Bagi para kolektor kaset raw black metal, nama LAMP OF MURMUUR tentu sudah tidak asing lagi, mengingat one-man band ini sempat jadi idola kaum kolektor pada periode 2019-2021, berkat demo ‘Thunder Vigil and Ecstasy’ dan ‘Melancholy Howls in Ceremonial Penitence’, yang dilepas hanya dalam rentang dua bulan berturut-turut. Semua rilisannya entah itu demo, mini-album/EP, split, sampe album penuh, semuanya laris dan jadi rebutan berjamaah para penggila kaset pita lo-fi black metal hitam putih/duotone monokromatik. Gua sendiri karena memang bukan pencinta “blek metal rawon”, gak begitu nyangkut sama LAMP OF MURMUUR, paling ‘Submission and Slavery’ doang yang masih bisa sedikit gua tolerir, itupun kalau disuruh denger tiap hari pasti ogah. Proyek ini gak terlalu barbar rilisannya tahun 2022, karena hanya menggelontorkan split bareng EBONY PENDANT, ‘Plenilunar Requiems’ via label rada kontroversial GoatowaRex saja. Tahun berikutnya LAMP OF MURMUUR membuat gebrakan dalam konteks branding mereka, band besutan sosok berinisial M. ini melepaskan ‘Saturnian Bloodstorm’, sebuah full-length yang menandakan evolusi one-man-band ini, karena alih-alih lanjut bermain aman di jalur raw black metal, LAMP OF MURMUUR justru banting setir keranah 90’s second wave black metal dengan produksi proper, kuat banget pengaruh IMMORTAL, lengkap dengan bumbu-bumbu ala viking era BATHORY, yang tentunya dengan cepat tanggap langsung memikat gua sebagai pemuja IMMORTAL era pak Abbath dan bang Demonaz masih akur.

Dua tahun berlalu sejak ‘Saturnian Bloodstorm’, LAMP OF MURMUUR (selanjutnya akan disingkat menjadi LOM) melepaskan LP keempat mereka ‘The Dreaming Prince of Ecstasy’ via Wolves of Hades. M. sepertinya tak puas dan tak mau dicap sebagai IMMORTAL versi KW super belaka, karena lagi-lagi dalam ‘The Dreaming Prince of Ecstasy’, ia melakukan reshuffle cukup signifikan dari segi komposisi. Aroma-aroma second wave tentunya masih medok, tapi di album ini LOM mencoba menggali lagi fragmen dan serpihan gothic rock yang kadang nongol di karya mereka pra-LP ketiga, Alhasil ketimbang menjadi perubahan besar-besaran, ‘The Dreaming Prince of Ecstasy’ bisa dibilang merupakan penyempurnaan sekaligus menjadi titik temu bagi LOM untuk mendamaikan old sounds dengan new sounds. Setelah obligatory dungeon synth intro ‘The Fires of Seduction’, LOM dengan sigap langsung menyergap segala atensi lewat “Forest of Hallucinations”, yang masih ada aura IMMORTAL, tapi udah digodok dengan EMPEROR hingga OLD MAN’S CHILD. Implementasi synth dalam komposisi lagu tersebut juga tak terlalu overtly bombastis, alias masih nuanced, dan tetap menonjolkan sayatan tremolo riff dingin, gebukan drum, blackened shriek dari sang empunya, yang memainkan semua instrumen tersebut (termasuk bass).

Dua lagu berikutnya tentunya masih di lajur seken wave-an, “Hategate (The Dream-Master’s Realm)” sedikit bikin gua teringat pada SATYRICON dibeberapa bagian (M. juga turut nyanyi di bagian penghujung lagu), lalu “Reincarnation of a Witch” sedikit bergeser ke blackened thrash, dengan struktur lagu lebih lurus dari dua nomor sebelumnya, dan chorus luar biasa catchy as fukk, yang mampu bersarang di kepala berminggu-minggu. Setelah digeber dengan tiga track blek metal sak modare secara berturut-turut, LOM ngasih interlude sebentar, “Angelic Vortex”, sebelum pertunjukan memasuki Act 2. Bagi mereka yang dengerin proyekan ini dari dulu, pasti paham betul influence dari aliran gothic rock/darkwave udah nongol dari lama (malah mereka sempet cover-in DEAD CAN DANCE hingga CHRISTIAN DEATH), dan dalam title track, “The Dreaming Prince in Ecstasy”, yang terbagi dalam tiga babak, pengaruh tersebut membaur jadi satu kesatuan dengan racikan BM late 90’s banget, sebuah opus ambisius besar berdurasi 22 menit lebih, dengan eksekusi near flawless, hanya penataan vokal bagian akhir “ Pt. III – The Fall” saja yang rada caur.

Eits jangan beranjak kemana-mana dulu… karena sebagai lagu terakhir masih ada sajian penutup ciamik, “A Brute Angel’s Sorrow”, sebuah lagu gothic country yang pas banget untuk mengakhiri petualangan ke alam mimpi yang pendengar sudah jalani dari trek pertama, di lagu tersebut M. turut pula mengundang dua vokalis tamu, yaitu Crying Orc (KËKHT ARÄKH) dan xofrnk., yang tak lain tak bukan adalah Frank Lero (gitaris MY CHEMICAL ROMANCE). ‘The Dreaming Prince of Ecstasy’ memang bakalan agak klise misal gua sebut pencapaian terbesar dalam karir LAMP OF MURMUUR sejak dibentuk tahun 2019 lalu, tapi rasanya gak berlebihan juga kalau tetap diklaim begitu, karena segala visi dan ambisi M. dalam proses penggarapan dua tahun-an memang terbayar lunas. Walaupun ada beberapa bagian kelewat derivatif, ‘The Dreaming Prince of Ecstasy’ adalah sebuah album wajib bagi kalian black metal connoisseur, yang penting segala rasa elitisme, skeptisme beserta hasrat untuk gatekeeping, mending dikesampingkan dulu sebelum dengerin.(Peanhead) 

9.6 out of 10