ALBUM REVIEW: FERAL WOUND – CHASE DEATH

FERAL WOUND ‘Chase Death’ EP REVIEW

Husted Records. April 18th, 2026

Death metal

Lahir dari gang remang-remang Kota Tangerang, tiga pemuda bengal yang tergabung dalam FERAL WOUND mencoba menantang kerasnya realita dengan serangan frontal debut EP mereka ‘Desolate Dominion’, via Husted Records dan Cyclopean Eye Productions tahun lalu. Pertaruhan FERAL WOUND dalam debut mini-album tersebut ternyata membuahkan hasil, lewat ramuan death metal punk mematikan tanpa basa-basi, asal nyelonong, dan anti pretensius yang mampu membius metalhead dalam hingga luar negeri. Meskipun udah beberapa tahun terakhir band death metal dengan embel-embel hardcore ataupun punk semakin banyak berseliweran, grup yang dinahkodai tiga sosok misterius secara kolektif oleh, R (Vokal), A (Gitar), dan B (Drum) ini berhasil mencuat namanya berkat kebarbaran ketujuh materi dalam ‘Desolate Dominion’, yang memadukan death metal bercita-rasa purba (tanpa harus kelewat unga-bunga), dengan thrash, grind dan tentunya punk jorok dari gorong-gorong kota Stockholm era 80’an.

 

Belum puas menantang maut dan kehidupan keras sebagai “Mvsisi Andergron” (kalo kata VLAAR), genap satu tahun pasca rilis ‘Desolate Dominion’, FERAL WOUND udah ngegas lagi aja dengan EP kedua mereka ‘Come Death’. Hal pertama yang gua notice dari mini-album ini adalah tone dan tekstur gitarnya yang lebih abrasif, tajam, sekaligus makin menggigit, alhasil tujuh lagu yang disemburkan FERAL WOUND, dijamin bakalan meneror sistem saraf para pendengar secara optimal. Pendekatan no bullshit dari band ini, masih tertanam dengan kuat sejak detik-detik pertama agresi awal: “Opus Belli”, yang punya kocokan thrash gahar, sebelum disergap riffing metal kematian bengis di 30 detik terakhir lagu. Dalam EP keduanya sang gitaris yang konon merupakan mantan tukang jagal di THRASHPIT, banyak memuntahkan death metal riff lebih beracun dibanding EP sebelumnya (tengok “Rotten Glory” dan title-track), yang mampu mengunci rapat bersama gebukan drum presisi tanpa fills atau ornamen tak perlu dari B, keduanya berpadu mengiringi lolongan dari Mr.R yang terdengar layaknya dari makhluk goa jadi-jadian baru kelar hibernasi.

Dengan durasi yang hanya lebih beberapa detik saja dari 17 menit, sebenarnya FERAL WOUND bisa maen langsung gaspoll saja dari lagu pertama hingga akhir, tetapi trio ini sepertinya ogah main aman, karena secara dinamika ‘Come Death’ cukup taktis dan variatif, Setelah menggilas dengan tiga lagu pembuka, “Somber Star” mencoba bermain-main di tempo melambat pada bagian pembukaan dan penghujung, sedangkan “Perdition” entah kenapa di kuping gua, baik ritme dan ketukannya malah bikin teringat sama band-band hard ‘n’ heavy era 80’an, cuma vokalnya aja masih tetep galak nan angker, dengan komposisi yang sangat primitif. Kemudian, “Cryptic Death” menjadi  nomor  paling bajingan dalam EP ini, karena dipenuhi aroma timeless classics jebolan Morrisound Recording, sedangkan untuk serangan pamungkas, FERAL WOUND melumat habis sisa kewarasan pendengar lewat “Bellum Inane”, lagu berdurasi hampir enam menit, yang merayap berat dalam teritorial doom/death. Secara overall ‘Come Death’ merupakan mini-album/EP yang lebih terasah dari ‘Desolate Dominion’, meski belum ada lagu yang mampu menandingi kebrengsekan “Blood Oath” dan “Oblivion’s Gate”, karena keduanya punya rhythm change bajingan, yang mampu bikin moshpit langsung chaos. Kita lihat saja gebrakan berikutnya FERAL WOUND, agak penasaran dengan formula death metal punk mereka yang straight to the jugular (with furious vengeance) kalau digarap dalam format full album.(Peanhead) 

9.5 out of 10