MOVIE REVIEW: THE UGLY STEPSISTER (2025)

THE UGLY STEPSISTER / Den stygge stesøsteren
Sutradara: Emilie Blichfeldt
Norwegia / Denmark / Romania / Polandia / Swedia (2025)

Review oleh Tremor

The Ugly Stepsister, yang dalam bahasa aslinya berjudul “Den stygge stesøsteren”, adalah debut penyutradaraan film fitur dari sineas muda asal Norwegia, Emilie Blichfeldt, yang juga menulis skenarionya. Lewat film body horror satir ini, Blichfeldt mencoba menulis ulang dongeng klasik Cinderella dalam versinya sendiri yang lebih gelap dan twisted. Dongeng rakyat yang berjudul asli “Aschenputtel” tersebut memang memiliki banyak sekali versi yang diceritakan ulang di seluruh dunia, dengan versi paling terkenal adalah karya Jacob and Wilhelm Grimm dalam koleksi cerita rakyat mereka, Grimms’ Fairy Tales, pada tahun 1812. Berbeda dengan versi Disney yang lebih ramah untuk anak-anak, pada dasarnya Cinderella versi Grimm bersaudara juga adalah kisah yang cukup gelap, dan Emilie Blichfeldt meningkatkannya hingga pada level yang cukup ekstrim, menjadikannya sebagai versi Cinderella yang paling mengerikan dan mengganggu yang pernah menghiasi layar lebar hingga saat ini. Bukan hanya body horror, Emilie Blichfeldt juga berfokus pada komentar sosial tentang obsesi dan tuntutan standar kecantikan yang dihadapi oleh perempuan. Dengan tema tersebut, mungkin banyak orang akan otomatis teringat dengan The Substance yang dirilis tak lama sebelum The Ugly Stepsister, karena film tersebut juga mengangkat tema keresahan yang kira-kira mirip. Namun yang pasti The Ugly Stepsister adalah film yang sama sekali berbeda dengan The Substance. Blichfeldt sendiri sudah mulai mengembangkan The Ugly Stepsister sejak ia mengerjakan proyek tesisnya di Sekolah Film Norwegia, yang kemudian produksinya dibantu beramai-ramai oleh beberapa rumah produksi dan institut film lintas negara, dari mulai Norwegia, Denmark, Romania, Polandia hingga Swedia.

Tentu banyak dari kita yang sudah tahu cerita umum dongeng Cinderella. Namun Blichfeldt menuliskannya ulang menjadi sesuatu yang terasa berbeda sejak film dimulai karena ia menggunakan perspektif dari salah satu saudari tiri, dan bukan dari karakter Cinderella. Suatu hari, seorang perempuan bernama Rebekka menikah dengan bangsawan tua bernama Otto. Rebekka sendiri sudah memiliki dua putri, yaitu Elvira dan Alma, sementara Otto memiliki seorang putri bernama Agnes. Tepat di malam setelah mereka menikah, Otto meninggal dunia karena serangan jantung. Dalam masa berkabungnya, Agnes mengungkapkan sebuah kebenaran yang menyedihkan: satu-satunya alasan mengapa ayahnya mau menikah dengan Rebekka adalah karena ia pikir Rebekka memiliki banyak uang. Namun pada kenyataannya, Rebekka pun mau menikah dengan Otto karena ia pikir Otto lah yang memiliki banyak uang. Rebekka yang kini menjadi kepala keluarga mulai frustrasi dan harus menerima bahwa ia akan segera mengalami kebangkrutan sambil harus tetap berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup serta anak-anak-nya. Pikiran piciknya mulai muncul ketika tersiar kabar bahwa Pangeran Julian akan mengadakan pesta dansa untuk mencari istri dari kalangan bangsawan. Meskipun ternyata sang pangeran adalah seorang anak muda yang brengsek, tetapi menikahi seorang pangeran adalah mimpi semua putri bangsawan, termasuk Elvira yang mengagumi sang pangeran sejak lama. Namun, Elvira bukan keturunan bangsawan. Ia hanyalah saudari tiri dari Agnes, putri bangsawan sesungguhnya. Selain itu Elvira dianggap buruk rupa dan diasumsikan tidak akan mungkin dipilih oleh sang pangeran. Sementara Agnes, adalah seorang gadis yang dianggap berparas cantik alami dan lebih memiliki peluang untuk dipilih oleh pangeran Julian, meskipun ia sebenarnya tidak ingin menikah dengan pangeran. Rebekka yang ingin anak kandungnya menikah dengan pangeran sebagai jalan keluar agar kondisi ekonomi keluarga mereka kembali terangkat, mulai terobsesi dan melakukan berbagai cara agar Elvira bisa dipilih. Bagi Rebekka ini adalah bentuk investasi yang akan terbayar kalau Elvira berhasil dipinang nanti. Salah satu usahanya adalah memaksakan berbagai prosedur modifikasi tubuh pada Elvira agar terlihat cantik dan bisa memenangkan hati Pangeran Julian, sekaligus mengalahkan Agnes. Padahal Agnes hanya melihat kesempatan pernikahan ini sebagai satu-satunya jalan agar ia bisa melarikan diri dari kekejaman ibu tirinya karena secara perlahan Rebekka mulai memperlakukan Agnes dengan buruk dan menjadikannya seorang pelayan di rumahnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, obsesi Rebekka mulai menular dan menguasai Elvira. Ia pun mulai ikut memperlakukan Agnes yang ia anggap sebagai saingan terberatnya dengan buruk dan akan melakukan apapun untuk mengalahkannya.

The Ugly Stepsister dibuat lebih menarik dibanding kisah aslinya karena dilengkapi dengan studi karakter Elvira yang sejak awal digambarkan sebagai pihak yang lemah dan menarik simpati. Sejak awal, Elvira jelas bukanlah karakter yang jahat. Ia hanyalah seorang perempuan muda yang, seperti gadis-gadis sebaya di lingkungannya, mendambakan sesuatu yang sederhana, namun mungkin tidak akan pernah bisa tercapai: menikah dengan pangeran rupawan. Elvira berusaha begitu keras untuk memenuhi standar kecantikan yang dituntut darinya, meskipun pada dasarnya tidak ada yang salah dengan wajah dan tubuhnya. Bagi saya, Elvira adalah korban dari tuntutan yang berlaku agar bisa dianggap cantik. Tapi pengorbanannya tersebut seakan tidak pernah cukup karena ia terus menerus dijatuhkan, dihina, dan dinyatakan bahwa ia tidak cukup baik, tidak cukup cantik, tidak cukup tradisional, tidak cukup berkelas, dan terus diperbandingkan dengan mereka yang memiliki apa yang dianggap “cantik alami” seperti Agnes, yang pada akhirnya menumbuhkan kebenciannya pada Agnes. Tak hanya soal kecantikan fisik, Elvira juga dipaksa untuk belajar tentang bagaimana menjadi perempuan “anggun” dan “berkelas”, sesuai norma yang dituntut dari seorang perempuan. Tuntutan untuk memenuhi standar kecantikan, termasuk yang datang dari ibunya sendiri, perlahan mengubah Elvira menjadi perempuan yang sama sekali berbeda menjelang diadakannya pesta dansa.

Lewat studi karakter Elvira, The Ugly Stepsister dengan sangat bagus mengangkat tema tentang belenggu standar kecantikan yang tidak realistis, serta standar tentang bagaimana perempuan harus berperilaku agar bisa dianggap “terhormat”, yang dituntut dari perempuan. Belenggu norma yang sama juga ikut berkontribusi pada lahirnya persaingan tak kasat mata di antara perempuan, yang seharusnya saling mendukung dan bukan saling menjatuhkan. Satu-satunya karakter perempuan dalam film ini yang nyaman menjadi dirinya sendiri dan terus memberi emotional support bagi Elvira hanyalah adiknya, Alma, yang pada akhirnya mendorong Elvira untuk memilih jalan pembebasan diri. Sebaliknya, ibu Elvira yang seharusnya menerima Elvira apa adanya justru mendorongnya untuk menerima tindakan prosedur modifikasi wajah yang menyakitkan dan ekstrim agar memenuhi standar kecantikan yang berlaku, mengikuti preferensi “cantik” yang ditentukan oleh dokter bedahnya. Dari prosedur inilah kebanyakan unsur body-horror The Ugly Stepsister muncul dan bekerja dengan efektif. Istilah “beauty is pain” rupanya cukup ideal untuk dibungkus lewat body-horror, dan Emilie Blichfeldt tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dari mulai penggunaan pahat pada hidung, pemasangan bulu mata palsu permanen dengan cara dijahit, menelan (dan mengeluarkan) cacing pita untuk menjaga berat badan, hingga memaksakan kaki agar muat pada sepatu yang terlalu kecil, semuanya digambarkan dengan cara yang mengerikan, disorot dengan jelas, dan tidak nyaman untuk ditonton. Pada dasarnya memang tidak banyak hal yang manis dalam dongeng Aschenputtel versi aslinya. Kisah aslinya justru cenderung mengerikan dan dilengkapi beberapa elemen jahat, termasuk tentang bagaimana salah satu saudara tiri Cinderella menggergaji kakinya sendiri agar bisa muat pada sepatu yang dibawa sang pangeran ketika ia mencari tamu misterius yang datang terlambat ke pestanya, sesuatu yang dihilangkan dalam versi Disney. Untuk pertama kalinya, momen mengerikan tersebut digambarkan dalam layar kaca lewat The Ugly Stepsister, bahkan dijadikan fokus utama dalam salah satu versi poster promosinya.

Di sisi lain, unsur-unsur body-horror dalam The Ugly Stepsister juga berfungsi sebagai komentar sosial serta analogi mengerikan tentang apa yang terjadi di dunia nyata, di mana ada banyak orang yang secara sukarela memilih berbagai cara menyakitkan, terkadang hingga pada batas ekstrim, untuk mencapai standar kecantikan tertentu. Dampak buruk lainnya dari standar kecantikan adalah bagaimana sebagian orang diam-diam membenci bagian-bagian tubuhnya sendiri hanya karena tidak sesuai dengan standar yang didikte oleh media populer seperti film dan majalah. Pada akhirnya ini bisa mendorong mereka yang memiliki uang berlebih untuk mengambil tindakan medis tertentu untuk mengubah bagian tubuh mereka sendiri, mengikuti apa yang menurut masyarakat dianggap “cantik”. Dalam dunia nyata, prosedur bedah kecantikan tentu tidak semenyakitkan apa yang dialami oleh Elvira karena kita mengenal adanya anestesi. Tapi yang pasti, prosedur-prosedur seperti operasi plastik untuk estetika hingga beberapa teknik medis untuk mengurangi tulang rusuk agar lingkar pinggang terlihat lebih ramping bukanlah prosedur medis kosmetik yang memiliki tujuan fungsional. Beauty is pain.

Dari segi teknisnya, The Ugly Stepsister juga adalah film yang sangat mengesankan, apalagi mengingat bahwa ini adalah debut film fitur dari sang sutradara. Film ini dipenuhi dengan gaya visual yang indah sekaligus sedikit surealis, komposisi pengambilan gambar yang teliti, desain produksinya yang terlihat sangat maksimal, serta adegan-adegan horornya yang digambarkan dengan sangat efektif. Saya juga sangat mengapresiasi kerja aktris muda Lea Myren yang memerankan karakter Elvira dengan sangat baik. Bagi saya, adaptasi Aschenputtel yang sangat gelap dan brilian ini merupakan salah satu film horor terbaik di tahun 2025, dan sangat layak untuk dijadikan bahan maraton tematik satu paket dengan American Mary (2012) dan The Substance (2024).