MOVIE REVIEW: THE SIMILARS / LOS PARECIDOS (2015)

THE SIMILARS / LOS PARECIDOS
Sutradara: Isaac Ezban

Mexico (2015)

Review oleh Tremor

The Similars, atau yang dalam bahasa aslinya berjudul Los Parecidos, adalah sebuah film sci-fi horror bergaya retro yang ditulis sekaligus disutradarai oleh seorang sineas Mexico bernama Isaac Ezban. Sebelumnya, ia pernah membuat sebuah film lain yang banyak dipuji di beberapa festival horror / sci-fi internasional, berjudul The Incident (2014) yang kebetulan belum pernah saya tonton. Jadi The Similars adalah perkenalan pertama saya dengan karya Ezban, dan saya tidak menyesalinya. Setelah menonton The Similars, saya tidak sabar untuk mencari The Incident ataupun karya barunya yang dirilis 2 tahun lalu berjudul Parallel (2018).

Dalam The Similars, Isaac Ezban membawa kita kembali ke malam 1 Oktober 1968, dimana delapan orang yang tidak saling kenal terjebak di sebuah terminal bus saat tengah terjadi badai besar. Terminal bus ini berada di daerah pinggiran yang berjarak lima jam dari Mexico City, ibukota negara Mexico. Narator dalam The Similars memperkenalkan kita pada seorang kakek penjaga booth tiket di terminal bus tersebut yang bernama Martin. Tapi seperti apa yang dikatakan oleh sang narator, Martin bukanlah karakter sentral dalam film ini. Seorang pria muda berjenggot yang bernama Ulises datang terhuyung-huyung dan dengan histeris ingin membeli tiket bus menuju Mexico City. Ia benar-benar harus berangkat secepatnya karena istrinya yang berada di Mexico City akan melahirkan anak pertama mereka. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Martin karena memang tidak ada bus yang datang dan pergi karena badai luar biasa di luar. Ini adalah berita buruk bagi Ulises.

Badai hujan yang terjadi di luar terminal mengakibatkan tertundanya semua perjalanan bus dan terputusnya sebagian besar bentuk komunikasi. Memang ada satu bilik telepon umum di ruang tunggu terminal tersebut, tetapi karena suara hujan deras menghajar atap stasiun serta gangguan pada jaringan komunikasi, maka menggunakan telepon umum di saat genting malah akan membuat siapapun semakin tertekan. Tapi Ulises tetap mencobanya. Dengan putus asa ia mencoba menelpon mertuanya untuk menanyakan perkembangan proses kelahiran anaknya, tetapi sambungan telepon tidak terlalu baik. Tak banyak yang bisa Ulises lakukan untuk sekarang kecuali menunggu badai reda.

Sebelum Ulises masuk, sudah ada seorang nenek yang tidak bisa berbahasa spanyol dalam ruang tunggu terminal bus tersebut. Sepertinya nenek ini adalah keturunan suku native american dan hanya bisa berbicara dalam bahasa asli sukunya. Tidak ada yang paham apa yang ia bicarakan, termasuk penonton. Dari gerak geriknya, nenek yang berperilaku aneh ini sepertinya adalah seorang dukun setempat, dan jelas ia tidak menyukai kehadiran Ulises. Nenek ini kemudian melakukan ritual tertentu di pojokan ruangan, dan seakan-akan sedang memberikan peringatan dalam bahasa aslinya. Dia mungkin tahu sesuatu yang buruk akan terjadi, atau mungkin juga tidak. Tak lama kemudian datang seorang perempuan hamil bernama Irene yang juga ingin membeli tiket bus menuju Mexico City. Sama seperti Ulises, Irene benar-benar perlu pergi meninggalkan kota kecil tersebut secepatnya karena ia sedang kabur dari suaminya yang abusif. Lagi-lagi Martin harus memberitakan bahwa tidak ada satupun bus yang datang karena cuaca begitu buruk. Dengan putus asa Irene mencoba memanggil taksi lewat telepon umum. Menyadari memiliki urgensi dan tujuan yang sama, Ulises pun mendekati Irene dan mengajaknya untuk berbagi taksi menuju Mexico City, karena ongkosnya akan sangat mahal. Tapi tentu saja tidak ada taksi yang datang menjemput mereka.

Beberapa karakter lain kemudian mulai diperkenalkan: seorang petugas kebersihan terminal bernama Rosa, seorang mahasiswa kedokteran bernama Alvaro, juga seorang ibu bernama Gertrudis beserta anak laki-lakinya bernama Ignacio. Ignacio mengenakan tangki oksigen dan alat bantu pernapasan ala tahun 50-an/60-an yang aneh di sekitar wajahnya. Apa yang salah dengannya? Kita tidak pernah tahu, tapi jelas Ignacio mengidap penyakit yang cukup serius. Ignacio dan ibunya pun perlu pergi ke Mexico City untuk mengunjungi dokter. Sementara Alvaro adalah tipe mahasiswa hippies yang paranoid terhadap pemerintah. Ia mencurigai adanya “proyek-proyek rahasia” yang dilakukan oleh pemerintah. Alvaro tampaknya terlalu banyak membaca buku-buku yang salah, yang membuatnya begitu dibutakan oleh teori konspirasi. Tujuannya datang ke terminal bus tersebut adalah mencari bus ke Mexico City karena ia akan bergabung dengan gerakan demonstrasi mahasiswa di ibukota yang akan diadakan keesokan harinya. Dalam dunia nyata, tanggal 2 Oktober 1968 memang tanggal yang penting dalam sejarah Mexico, karena pada hari itu tentara Meksiko di bawah kekuasaan presiden Díaz Ordaz membantai ratusan mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi 10 hari menjelang pembukaan Olimpiade Musim Panas 1968 di Mexico City. Pembantaian ini kemudian dicatat sejarah dengan nama Tlatelolco Massacre, dan itu adalah aksi demonstrasi yang sama dengan yang akan Alvaro datangi.

Alvaro, Gertrudis dan Ignacio yang datang belakangan akhirnya harus ikut terjebak di dalam terminal kecil tersebut bersama dengan para karakter lain yang sudah saya perkenalkan sebelumnya. Tidak adanya bus menyebabkan mereka semua stres, ditambah lagi dengan berita-berita dalam siaran radio yang menyatakan bahwa hujan badai yang terjadi di luar ini bisa dikatakan tidak normal, dan semua orang diminta untuk tetap diam di rumah. Di tengah perjuangan yang penuh rasa frustrasi karena terisolasi di dalam terminal inilah mereka semua mulai mengalami fenomena yang sangat sangat janggal. Tapi saya harus berhenti menuliskan plotnya sampai di sini saja. Kalau saya memaparkan lebih banyak, maka saya akan memasuki wilayah spoiler, dan saya menolak melakukan itu karena semakin sedikit yang kalian tahu tentang film ini, akan semakin baik. Salah satu kenikmatan menonton film semacam ini adalah saat kita menyaksikan para karakter dihadapkan dengan skenario mimpi buruk dan menyaksikan peristiwa-peristiwa sureal mulai terjadi sampai dengan pada klimaksnya. Bahkan trailer film ini menyembunyikan misterinya dengan sangat baik.

Bayangkan sebuah film horor yang sangat aneh, sehingga tidak mudah untuk dikategorikan. Bayangkan sebuah plot film yang benar-benar menantang logika dan terasa seperti sebuah mimpi. Seperti itulah kira-kira film The Similars. Setelah selesai menonton film ini, saya merasa mungkin ini jadinya kalau seorang Alfred Hitchcock berkolaborasi dengan Rod Serling membuat film sci-fi horror bersama-sama. Mungkin saya sudah tidak perlu menjelaskan siapa itu Alfred Hitchcock, tapi bagi yang belum tahu, Hitchcock adalah sutradara legendaris yang sangat dikenal karena mampu menciptakan ketegangan dibalut misteri yang sangat kuat lewat film-filmnya. Sementara Rod Serling adalah penulis skenario, penulis naskah, produser, dan narator Amerika yang cukup dikenal para penggila horror klasik karena ia adalah kreator dari sebuah serial televisi antologi sci-fi berjudul The Twilight Zone (1959-1964).

Pada dasarnya The Similars adalah sebuah kisah horor sci-fi janggal yang saya rasa memang sangat terpengaruh oleh serial The Twilight Zone-nya Rod Serling. Atau, bisa jadi The Similars memang adalah sebuah karya penghormatan bagi episode-episode lawas The Twilight Zone, dan sutradara Isaac Ezban melakukannya secara blak-blakan tanpa membuatnya tampak seperti ia sedang me-rip off atau meniru habis-habisan gaya The Twilight Zone. Kelihatannya Ezban tahu betul influence yang ingin ia perlihatkan dengan tetap memiliki visinya sendiri, dan itu justru membuat film ini terasa menyegarkan dan menarik. Bagi siapa saja yang pernah menyukai episode-episode awal The Twilight Zone, film The Similars mungkin akan menjadi tontonan yang terasa akrab. Dibuka dan ditutup dengan narasi voice-over, film ini layaknya sebuah episode Twilight Zone yang terlupakan. Ditambah lagi dengan tone warna yang lembut nyaris noir, dan scoring-nya yang menggunakan sayatan-sayatan biola melodramatik ala film-film Alfred Hitchcock, membuat setiap adegan film ini semakin menegangkan dan penuh misteri. Kalau biasanya film horror retro / vintage modern banyak mengambil inspirasinya dari horror era 70-an dan 80-an, The Similars mengambil era yang lebih kuno lagi, tahun 50/60-an, dan tentu saja itu membuat film ini cukup menonjol dibandingkan film horror modern bernuansa vintage lainnya. Film ini memang sengaja dibuat dengan kesan retro tahun 50/60-an yang tampak cukup otentik, dan saya rasa cukup berhasil. Dari mulai tone warnanya, poster filmnya, gaya berpakaian dan model rambut para karakternya, desain interior terminal bus-nya, hingga pada gaya cerita dan jenis misterinya, semua terasa seperti film sci-fi horror tahun 60-an namun dengan special effect yang lebih modern.

Menonton The Similars adalah pengalaman yang menyenangkan, terutama begitu fenomena ganjil yang menimpa para karakternya mulai terjadi. Saya pribadi dibuat untuk terus menebak-nebak tanpa tahu ke arah mana film ini akan berakhir. Unsur misterinya dirancang dengan cukup baik, yang pastinya akan memuaskan sekaligus menantang imajinasi para penonton yang menyukai sci-fi misteri yang tidak masuk akal seperti ini. Sejak fenomena ganjil dalam film ini mulai terjadi, para karakter dan kita sebagai penonton berada di level kebingungan yang sama. Bedanya, mereka kemudian mulai ketakutan, saling menuding dan mencurigai satu sama lain karena paranoia mulai menyelimuti, dan kita hanya bisa menyaksikannya dengan pasif. Sebenarnya lewat suara narator di pembukaan film ini, para penonton dengan jelas mendapat petunjuk bahwa semua yang akan terjadi di terminal bus yang kelihatan normal ini akan berada di luar logika dan akal sehat. Tapi tidak ada petunjuk lain tentang apa yang sebenarnya akan terjadi. Film ini benar-benar menarik perhatian saya, dan setiap adegan membuat saya bertanya-tanya pada diri sendiri: apa yang akan terjadi selanjutnya? Kita dibiarkan untuk menerka-nerka sendiri arah plot film ini berdasarkan dari sedikit informasi yang kita peroleh lewat siaran radio di terminal bus, dikombinasikan dengan petunjuk-petunjuk latar belakang masing-masing karakternya.

Banyak hal yang saya sukai dari film The Similars. Sebagai tontonan horror, film ini memang bukan jenis film yang menakutkan seperti film horor hantu misalnya, tetapi lebih ke arah perasaan ganjil dan meresahkan. Dengan skema warna yang sangat pudar membuat film ini terlihat tua, dicampur dengan surealisme yang kental, membuat The Similars terasa seperti sebuah mimpi yang benar-benar aneh. Kejadian-kejadian ganjil dalam film ini sebenarnya seperti sebuah komedi. Bahkan karakter Ignacio pun sempat ikut menertawakannya. Tetapi kalau dipikir-pikir, kalau saja kejadian ganjil seperti itu menimpa diri kita, tentu saja akan sangat menakutkan. Bagi para penggemar serial The Twilight Zone tahun 50-an, film Invasion of the Body Snatchers (1956 & 1978), dan karya-karya Alfred Hitchcock, jelas saya sangat merekomendasikan film The Similars untuk ditonton tengah malam saat hujan besar turun.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com