fbpx

MOVIE REVIEW: P.G.: PSYCHO GOREMAN (2020)

P.G.: PSYCHO GOREMAN
Sutradara: Steven Kostanski

Kanada (2020)

Review oleh Tremor

Setelah berhasil dalam film lovecraftian cosmic horror yang berjudul The Void pada 2017, sineas Kanada bernama Steven Kostanski kembali dengan karya terbarunya. Psycho Goreman (disingkat PG) adalah sebuah film komedi horor / sci-fi yang sangat fun, kocak dan penuh darah yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Konstanski. Steven Kostanski sendiri adalah seseorang yang memiliki passion pada special effect dan makeup tradisional. Maka tak heran kalau film ini menghadirkan banyak sekali monster serta adegan gore yang luar biasa kreatif dan mengesankan.

Saat sedang asik memainkan permainan bola yang mereka ciptakan sendiri, sepasang adik kakak bernama Mimi dan Luke menemukan sebongkah kristal merah bersinar yang terkubur di halaman belakang rumah mereka. Kristal yang merupakan artefak alien purba tersebut terpasang pada semacam peti mati dengan konfigurasi rumit yang secara kebetulan berhasil dibuka oleh Mimi. Menurut peraturan mereka berdua, siapa yang menemukan sesuatu adalah pemiliknya. Finders, keepers. Maka Mimi merupakan pemilik sah dari harta karun tersebut. Namun ada hal yang tidak mereka ketahui. Kristal tersebut merupakan sumber kekuatan utama dari satu makhluk kosmik paling jahat yang pernah ada, yang juga ikut dikuburkan di dalam peti itu. Monster tak bernama ini hanya memiliki satu tujuan, yaitu menghancurkan alam semesta. Sudah sejak lama monster tersebut dipenjara dalam peti yang dikunci dengan batu kristalnya sendiri. Peti penjara itu dikuburkan di planet bumi oleh para pahlawan galaktik yang berhasil menangkapnya di masa lalu. Saat kristal merah itu diambil oleh Mimi, monster ini terbangun dan terbebas dari penjaranya. Tapi monster ini memiliki kelemahan. Kalau batu kristal merahnya dikuasai oleh seseorang, sang monster otomatis akan menjadi budak orang tersebut, dan suka tidak suka harus menuruti segala perintahnya, kecuali kalau sang monster berhasil merebut kembali kristal merah miliknya.

Dalam kisah yang monster ini kemudian tuturkan pada Mimi, ia memang tidak bernama. Namun di planet asalnya, planet Gigax, ia mendapat julukan sebagai “Arch-Duke Of All Nightmares” dengan pamor yang sangat mengerikan. Sial bagi sang monster, batu sumber kekuatannya kini ada di tangan Mimi, anak berusia 12 tahun yang merupakan seorang bully egomaniak bertangan besi paling bossy dan cocky di lingkungan tempat tinggalnya, bahkan mungkin di sekolahnya. Namun semenyebalkan apapun tingkah lakunya, Mimi tetaplah seorang anak kecil yang hanya ingin bermain, dan mem-bully. Selama Mimi memegang kristal merah itu, sang monster yang kejam ini terpaksa harus melakukan apa yang Mimi perintahkan, sebodoh apapun perintahnya. Mimi bahkan dengan semena-mena memberi nama baru pada sang “Arch-Duke Of All Nightmares”, yaitu sebuah nama yang terdengar sangat bodoh: Psycho Goreman, disingkat PG. Di bawah kuasa Mimi, tak ada yang bisa dilakukan oleh PG selain menunggu kesempatan untuk merebut kembali kristal merahnya dan melanjutkan tujuan utamanya: menghancurkan alam semesta. Sementara itu di luar angkasa, kelompok Templar (semacam komite para pemimpin antar galaksi) mengetahui bahwa monster yang pernah mereka penjarakan dulu telah terbebaskan. Pemimpin mereka yang bernama Pandora adalah satu-satunya mahluk di jagat raya yang sanggup melawan Psycho Goreman. Pandora pun pergi ke bumi untuk memburu PG. Tak lama kemudian pertempuran antara kebaikan dan kejahatan pun tak terhindarkan.

Ada terlalu banyak hal yang saya suka dari film Psycho Goreman, dan rasanya cukup sulit untuk menentukan dari mana saya harus memulainya. Mungkin yang pertama adalah, special effect monster dan gore-nya. Semua desain monster dalam film ini begitu fantastis dan menunjukan daya imajinasi luar biasa (sekaligus menjijikkan) dari tim kreatif film ini. Dari mulai salah satu mantan anak buah Psycho Goreman yang tampak seperti anggota band GWAR, karakter Pandora yang mengingatkan saya pada robot-robot ala Gundam dalam versi yang tidak gigantik, salah satu anggota Templar yang berbadan mesin berwajah tengkorak yang sangat dungu, hingga salah satu monster yang berbentuk semacam container berjalan, dimana isi container tersebut adalah tengkorak, potongan-potongan tubuh manusia dan banyak sekali darah. Tidak mengherankan mengapa desain karakter dalam film ini begitu luar biasa, karena Steven Kostanski juga adalah orang special effect, dan jelas ia sangat bersenang-senang dalam filmnya kali ini. Kesemua monster/alien dan adegan gore dalam Psycho Goreman dibuat secara tradisional menggunakan bahan-bahan prostetik, dan sentuhan CGI hanya dipakai untuk suasana saja. Kualitas gore dalam film ini juga tidak main-main. Saat film baru berjalan lima menit saja, penonton sudah disuguhi adegan pemenggalan kepala, dan hukuman mental ala Hellraiser yang cukup mengesankan. Sejak dari situ, semuanya akan semakin berdarah-darah dan menjijikan hingga film ini berakhir. Wajah meleleh, wajah sobek hingga menjadi bagian-bagian kecil, bola mata yang nyaris keluar dari soketnya, zombie, hingga adegan dimakan hidup-hidup, adalah sebagian kecil adegan yang menjadi highlight dari film ini. Psycho Goreman adalah jenis film yang akan membuat penontonnya merasa jijik sambil tertawa geli di waktu yang sama.

Psycho Goreman layaknya sebuah proyek fun semacam film Kung Fury (2015) yang ditujukan untuk para penggemar horror sekaligus juga para nerd karena film ini menggunakan banyak sekali referensi dari berbagai genre. Meminjam elemen-elemen dari Hellraiser (1987), The Monster Squad (1987), dan Wishmaster (1997), yang digabungkan dengan elemen-elemen serial tokusatsu dan sejenisnya, terutama Ksatria Baja Hitam dari Jepang dan Mighty Morphin Power Rangers dari Amerika, membuat film ini sangat ringan dan fun untuk ditonton tanpa penontonnya perlu banyak berpikir. Gabungan antara kekonyolan dan kesadisan dalam Psycho Goreman juga mengingatkan saya pada banyak film-film komedi horror kelas-B berdarah-darah buatan Troma, sebuah studio kelas B legendaris yang pernah menelurkan banyak judul klasik seperti franchise The Toxic Avengers (1984-2000), Class Of Nuke ‘Em High (1986), hingga Poultrygeist (2006) dalam versi yang lebih baik dan humor yang lebih update. Psycho Goreman jelas dibuat untuk mereka yang tumbuh dengan franchise-franchise tersebut. Humornya juga cukup berhasil, setidaknya untuk selera saya. Rasanya sudah lama sekali saya tidak tertawa sesering ini saat menonton sebuah film. Pemilihan singkatan PG dalam judul film inipun menurut saya adalah salah satu bagian dari lelucon yang brilian, karena Psycho Goreman sama sekali bukan film PG (Parental Guidance, istilah sensor perfilman yang mengacu pada film-film yang dianggap cukup aman untuk ditonton anak kecil di bawah pengawasan orang tua.) Saya pribadi sangat menikmati semua kemeriahan, ketololan serta kenorakan film ini. Desain monster yang unik, special effect brilian, selera humor yang tajam dan tidak berlebihan, kutipan-kutipan memorable, ditambah lagi dengan keseluruhan idenya yang terasa orisinil, membuat saya yakin kalau film Psycho Goreman akan menjadi film cult classic di masa depan.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com