MOVIE REVIEW: NEW LIFE (2023)

NEW LIFE
Sutradara: John Rosman
USA (2023)

Review oleh Tremor

New Life adalah sebuah film thriller horor, debut penyutradaraan dari penulis/sutradara John Rosman yang pertama kali ditayangkan di Fantasia International Film Festival 2023 dan segera mendapat respon yang baik dari penontonnya. Saya pribadi menonton New Life secara buta tanpa tahu apapun tentang film ini sebelumnya, dan rupanya itu adalah keputusan yang sangat tepat karena struktur naratif film ini terasa lebih bekerja ketika ditonton dengan cara seperti itu. Karenanya, kali ini saya tidak akan menulis terlalu banyak agar tidak merusak pengalaman menonton bagi mereka yang berminat untuk menontonnya. Yang pasti, sebagai sebuah film thriller dengan sentuhan horor, New Life bekerja dengan baik karena menawarkan banyak ketegangan, intrik, teror, drama, dan cocok bagi mereka yang menyukai film-film bernuansa distopia.

Membahas plot New Life tanpa membocorkan terlalu banyak sepertinya adalah sesuatu yang agak sulit dilakukan, tapi saya akan mencobanya. Film ini menampilkan dua kisah dari dua karakter yang berbeda. Pertama, kita diperkenalkan pada seorang perempuan muda bernama Jessica. Ketika film dimulai, kita melihat Jessica dalam keadaan berantakan, kotor, dan berdarah, sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu, atau seseorang. Kita tidak tahu apa yang terjadi padanya, dan mengapa ia begitu ketakutan hingga kemudian memutuskan untuk pergi menuju ke perbatasan Amerika-Kanada sambil tetap bersembunyi di sepanjang usaha pelariannya. Lalu kita diperkenalkan dengan karakter lain yang bernama Elsa Gray. Ia adalah seorang perempuan paruh baya yang kelihatannya bekerja sebagai agen di sebuah biro rahasia. Suatu hari, Gray tiba-tiba mendapat tugas rahasia yang sangat serius: memburu Jessica dalam keadaan hidup atau mati. Di tengah pelariannya, Jessica bertemu dengan pasangan lansia yang menerima Jessica dengan sangat baik. Namun begitu Elsa tiba di rumah pasangan lansia tersebut, hal-hal menarik dalam film New Life mulai terjadi. Sejak titik itu, film ini mulai menarik perhatian saya sepenuhnya.

Secara keseluruhan, saya sangat menyukai ide dasar film ini. Namun, mereka yang tidak menyukai film horor beralur lambat mungkin perlu sedikit bersabar karena teror dan elemen-elemen horornya baru mulai muncul sekitar 40 menit sejak film dimulai. Tapi, bagian pertama itu justru cukup penting kalau kita ingin mendapat keutuhan cerita yang cukup menarik ini. Penulis/sutradara John Rosman sengaja mengungkapkan setiap lapisan kisahnya satu persatu hingga penonton akan mulai memahami sedikit demi sedikit tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dalam sepanjang usaha pelarian Jessica, penonton juga akan dapat mengenal karakter Jessica lebih baik, dan memahami apa yang membuatnya begitu paranoid. Pertemuan-pertemuan Jessica dengan orang-orang baik yang mau menampungnya juga jelas menambah bobot emosional dalam film ini. Setiap kali film ini memperkenalkan karakter baru, penonton seakan ditarik lebih dalam ke dalam berbagai dilema, bukan hanya tentang Jessica yang diburu, tetapi juga Elsa sang pemburu. Sama seperti dalam kehidupan nyata, tidak ada orang-orang yang sepenuhnya baik atau jahat dalam kisah New Life. Jessica hanya melakukan apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup, demikian juga dengan Elsa yang harus melakukan tugasnya demi “kebaikan yang lebih besar”. Menariknya, karakter Elsa juga memiliki kerapuhan dan perjuangan sendiri yang tidak diketahui oleh para rekan kerjanya. Di usianya yang sudah tidak muda dan tidak memiliki siapa-siapa dalam hidupnya, ia mengidap penyakit yang ia rahasiakan dari siapapun. Penyakit yang sedang mengancamnya dan tak bisa ia hindari ini adalah ALS, atau Amyotrophic Lateral Sclerosis, yaitu penyakit sistem saraf yang sangat fatal karena menyerang sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang, menyebabkan kelemahan fungsi otot hingga mengakibatkan kelumpuhan. Bisa jadi, berfokus pada perburuan Jessica juga menjadi pelarian Elsa dari kenyataan pahit yang akan segera merenggut hidupnya. Jadi, di luar semua unsur horor dan thrillernya, New Life secara tidak langsung menyajikan sebuah kisah yang menyentuh dan manusiawi tentang orang-orang yang hanya ingin melakukan yang terbaik meskipun dalam keadaan yang tidak mudah. Setelah film ini berakhir, saya merasa bahwa New Life adalah salah satu film horor yang bisa saja meninggalkan perasaan sedih bagi para penontonnya.

Ketika film dimulai, penonton tidak tahu apa yang terjadi. Butuh waktu untuk memahami rangkaian ceritanya, dan ketika sudah sedikit dipahami, aksi pun dimulai. Sayangnya, tak lama setelah semua potongan puzzle-nya akhirnya benar-benar terungkap, film ini tiba-tiba berakhir. Sebagian dari diri saya berharap film ini memiliki durasi yang lebih panjang, karena New Life terasa disudahi dengan sedikit terburu-buru. Namun, di luar ending-nya yang terasa terburu-buru, secara keseluruhan naskah, narasi dan alur cerita New Life ditulis dengan cukup baik. Sebagai sebuah debut, film ini jelas cukup memuaskan. Meskipun sepertinya bajet film ini tidak terlalu tinggi, tetapi tidak ada yang terasa murahan. Dari mulai acting, visual, hingga penggunaan musik latarnya cukup bagus, ditambah dengan special makeup effect yang sangat efektif. Tentu ada darah dalam film ini, tetapi efek gore-nya tidak terasa terlalu berlebihan, apalagi dipaksakan. Semua efek berdarah-darah dalam film ini benar-benar diperlukan untuk mendukung cerita dalam New Life, dan bukan hanya sebagai “pemanis” belaka. Walaupun tidak ada yang sepenuhnya baru dalam film ini, tetapi saya tetap bisa merasakan beberapa unsur orisinalitasnya. Saya benar-benar menikmati waktu yang saya luangkan untuk menonton New Life karena tidak setiap hari saya bisa menemukan sebuah film horor yang menyadari pentingnya sebuah cerita sekaligus bisa memantik empati penonton di tengah momen-momen horornya.