ALBUM REVIEW: CEREMONY OF CIRCLE – BLOOD OF EARTH

CEREMONY OF CIRCLE ‘Blood of Earth’ ALBUM REVIEW

Hidden Marly Productions, May 10th, 2025

Black metal

CEREMONY OF CIRCLE tentunya bukanlah nama baru di scene musik black metal tanah air, band yang berasal dari ibukota ini sudah didirikan sejak tahun 1996 silam, dan tentunya sudah menjadi salah satu grup black metal paling disegani di Jakarta. Gua sendiri sempat beberapa kali nonton CEREMONY OF CIRCLE dari jaman masih bocah saat mereka manggung di Bekasi atau Jakarta, namun tak seperti band-band black metal senior asal Jakarta lain layaknya SOULSICK atau ALMARHUM, yang sudah pernah merilis album, CEREMONY OF CIRCLE justru belum pernah mengemas materi yang mereka tulis dalam bentuk rekaman, entah itu dalam format album, mini-album/EP, atau split sekalipun (mungkin dulu sudah pernah dalam format digital single atau ikutan kompilasi). Sampai akhirnya pada awal tahun 2025 kemarin, CEREMONY OF CIRCLE akhirnya mengumumkan bahwa album pertama mereka, ‘Blood of Earth’, akan segera dirilis via Hidden Marly Production, pengumuman tersebut juga dibarengi dengan pelepasan dua buah single gahar “Crowned in Somber Fire” dan “Obsidian Tears”, yang langsung memantik api ketertarikan gua kembali terhadap CEREMONY OF CIRCLE.

Dalam album debutnya, gitaris sekaligus satu-satunya member original yang masih tersisa, Andreas Ponky, turut dibantu oleh dua personil salah satu band black metal lokal paling forward-thinking, FROMHELL: Derick Prawira (also VALLENDUSK, DRACONIS INFERNUM, & PROCEUS) dan Dedi Sadikin yang sudah bergabung sejak sekitaran 2011-2012. Walaupun direkam oleh formasi baru, delapan lagu yang disajikan oleh CEREMONY OF CIRCLE dalam ‘Blood of Earth’, sebenarnya merupakan materi yang sudah lama ditulis, dimana mayoritas aransemen sudah ditulis sejak tahun 1997 (namun dengan parts drum yang telah digubah ulang oleh Derick Prawira aka Mollokh Baal), semua lagu dalam ‘Blood of Earth’ surprisingly masih terdengar sangat relevan dalam konteks ruang lingkup traditional black metal, pengaruh agresi militan barbar ala MARDUK era dua album pertama jelas cukup terasa, yang dipadukan dengan sayatan riffing dingin membekukan tulang layaknya band-band Norwegia/Swedia era pertengahan hingga akhir 90’an.

Sayangnya album ini bisa dibilang agak berat sebelah di depan, karena nomor-nomor paling sinting-nya malah ditaruh di awal semua, seperti “Blackened Day”, “Dark Sacrament”, “Symphony of Screams”, dan “Crowned In Somber Fire”, yang IMO gak kalah galak dengan band-band BM kekinian layaknya BLACKBRAID dan NINKHARSAG, sedangkan dari track keenam sampai lagu penultimate agak kurang stand out dan cenderung kelah menggigit dari paruh pertama album, malah “Monument To Pain” entah kenapa, di kuping gua produksinya agak sedikit belang, karena hentakan drum-nya lebih tajam dari nomor yang lain. Kemudian dua nomor dark ambient yang berfungsi sebagai intro dan intermisi, “Hollow Gate” dan “Underworld Theme”. kalau kata gua sih rada nanggung pisan alias abrupt banget, karena terlanjur kelar duluan padahal belum bisa menenggelamkan pendengar dalam atmosfir yang semestinya dibangun. Latter half album ini terselamatkan performa gila-gilaan dari ketiga personil beserta closing track sekaligus title track sangat impresif, dengan kocokan menjurus black n’ roll di pertengahan lagu, lalu pada di bagian penghujung ada melodic twist yang bikin mata langsung melek. Terlepas dari paruh akhir album yang terasa rada lebih lemah serta trek ambient yang agak underwhelming, ‘Blood of Earth’ mampu menjadi statement kuat dari CEREMONY OF CIRCLE, yang tetap stay trve di jalur black metal selama hampir 3 dekade, dan gak salah lah kalo ‘Blood of Earth’ gua sebut sebagai salah satu rilisan extreme metal Indonesia terbaik di tahun 2025. (Peanhead)

8.0 out of 10