MOVIE REVIEW: THE STUFF (1985)

THE STUFF
Sutradara: Larry Cohen
USA (1985)

Review oleh Tremor

The Stuff adalah sebuah film komedi horror satir berbajet rendah yang absurd, namun berisikan komentar sosial yang cukup serius. Film ini ditulis dan disturadarai oleh Larry Cohen, seorang pembuat film independen yang kini dianggap sebagai salah satu master of horror yang berpengaruh dalam budaya horor karena memiliki visinya sendiri yang unik. Beberapa karyanya yang kemudian diperhitungkan sebagai film-film klasik dalam kultur horor dan sci-fi diantaranya adalah It’s Alive (1974) dan Q: The Winged Serpent (1982), hingga trilogi Maniac Cop. Karena pengaruhnya dalam budaya horor, pada tahun 2017 Larry Cohen dianugerahi Lifetime Achievement Award di Fantasia International Film Festival, sebuah festival film tahunan yang berfokus pada genre fantasi, horor, sci-fi dan cult cinema. Larry Cohen sendiri memang dikenal sebagai seorang sineas yang sering mengangkat satir sosial lewat film-film hiburan kelas B. Demikian juga dengan The Stuff di mana kritik tajam Cohen ditujukan pada periklanan, konsumerisme, hingga keserakahan korporasi .

Dibuat dengan gaya film sci-fi kelas B era tahun 50-an, The Stuff mengajak kita mengikuti kisah dengan premis sederhana. Sebuah produk kudapan manis bernama The Stuff sedang menjadi sensasi baru yang melanda seluruh Amerika. Iklan The Stuff terus diputar di berbagai media, dan semua orang rela berdesakkan untuk membelinya dalam jumlah banyak. Bukan hanya pemasaran The Stuff saja yang membuat produk ini begitu laris dan membuat semua orang kecanduan, tetapi juga karena kudapan yang terlihat mirip yogurt ini memiliki rasa yang sangat enak. Namun, cukup jelas kalau obsesi massal terhadap The Stuff ini terlihat tidak normal. Bahan utama The Stuff yaitu zat alami yang tiba-tiba saja keluar dari tanah, tampak memiliki kemampuan untuk menguasai setiap orang yang secara berlebihan menyantapnya. Terancam dengan kesuksesan The Stuff, sekelompok pengusaha es krim pun mempekerjakan seorang mata-mata industri yang arogan bernama Mo untuk mencari tahu resep rahasia The Stuff. Dalam penyelidikannya inilah Mo menemukan fakta mengerikan di balik produk The Stuff. Setelah menyadari tentang berbahayanya bahan dasar The Stuff, Mo pun mengabaikan misi yang ditugaskan kepadanya dan mengerahkan berbagai cara untuk menghentikan The Stuff sebelum zat misterius tersebut menguasai dunia.

Mungkin The Stuff bukanlah film horor pertama yang mengkritik tentang budaya konsumerisme masyarakat Amerika. Tujuh tahun sebelumnya, tema tentang konsumerisme juga pernah diangkat oleh film horor klasik lainnya, yaitu Dawn of The Dead (1978). Namun The Stuff mungkin adalah yang pertama mengkritik obsesi masyarakat Amerika secara spesifik terhadap konsumsi junk food. Inspirasi utama Larry Cohen ketika menulis The Stuff adalah dari keresahannya pada industri makanan junk food pada masa itu sudah cukup masif, taktik manipulatif korporasi raksasa dalam memasarkannya, tingkat konsumsi junk food yang cukup tinggi di Amerika, serta mentalitas massa yang mudah terbuai oleh candu akan kebutuhan semu. Meskipun sudah menjadi rahasia umum kalau makanan cepat saji secara perlahan membunuh mereka yang mengkonsumsinya dengan berlebihan, tapi banyak orang tetap rela menyantapnya. Villain utama dari The Stuff bukanlah zat misterius menyerupai yogurt yang adiktif dan berperilaku selayaknya organisme hidup itu, tetapi orang-orang yang menambangnya dan memasarkannya untuk meraup keuntungan darinya. Selain itu, Cohen juga mengeksplorasi tema seputar kekuatan iklan serta kaitannya dengan obsesi masyarakat untuk mengkonsumsi, tema ketidakbertanggungjawaban korporasi terhadap dampak produknya bagi masyarakat, serta bahayanya trend mengkonsumsi produk secara buta tanpa mempertanyakannya. The Stuff seakan menantang penontonnya untuk berefleksi: pernahkah kita mempertanyakan dari mana datangnya bahan-bahan dasar makanan yang kita konsumsi? Menariknya, tema film The Stuff terbukti bertahan melintasi zaman dan tetap relevan hingga hari ini, karena sebagian masyarakat masih terus terobsesi melahap junk food secara buta.

Salah satu hal yang saya suka dari The Stuff adalah bagaimana seriusnya Larry Cohen dalam menciptakan brand fiktif The Stuff. Dari mulai desain logo, warna kemasan yang catchy, hingga iklan-iklan fiktif dengan lagu jingle-nya. Saya juga suka dengan bagaimana kisah film ini ikut mengeksplorasi paranoia, di mana tidak satu karakterpun yang bisa dipercaya karena zat dalam The Stuff bisa jadi telah menguasai semua orang layaknya parasit. Konsep paranoia semacam itu tentu sudah tidak asing dalam film horor. Sebelumnya, film-film seperti Invasion of the Body Snatchers (1978) hingga The Thing (1982) telah menggunakan konsep tersebut dengan sangat efektif, membuat penonton akan merasa curiga pada setiap karakter yang muncul, bahkan pada protagonis sekalipun.

Meskipun konsep dan tema The Stuff cukup cerdas pada masanya, tapi film ini dieksekusi dengan buruk dan berantakan. Tapi memang inilah gaya Larry Cohen yang selalu identik dengan film murahan berbajet rendah. Mungkin yang paling buruk bagi saya pribadi adalah akting beberapa karakternya, terutama Mo. Melihat karakter Mo di sepanjang film adalah salah satu bagian yang paling menyiksa bagi saya karena karakter ini memang ditulis sebagai karakter yang arogan, menyebalkan, cringe, ditambah dengan dialog yang tak kalah buruk serta akting yang flat dan terasa tidak memiliki emosi sama sekali. Jelas, Larry Cohen dengan sengaja merancang Mo bukan sebagai seorang pahlawan yang akan disukai oleh penontonnya. Apapun alasan Cohen, saya tetap menghormati keputusannya tersebut.

Melihat dari posternya yang imajinatif, tentu banyak orang akan berharap disuguhi tontonan menjijikkan yang penuh darah dan adegan tubuh meleleh. Apalagi premis film ini memang sangat mendukung The Stuff menjadi film body horror yang menjijikkan. Faktanya, The Stuff adalah film yang tidak sesadis itu, dan mungkin itu karena bajet yang sangat terbatas. Tapi saya cukup menikmati semua practical special effect kreatif dalam The Stuff yang terlihat palsu dan komikal, menjadikan The Stuff sebagai film yang menghibur dan tidak perlu ditanggapi terlalu serius, meskipun kritik sosialnya cukup serius.

Saya pikir tidak semua orang bisa menikmati The Stuff, terutama penonton modern. Tapi mereka yang familiar dengan film-film horor kelas B yang absurd dan terasa norak tentu bisa menikmatinya. Tak heran kalau The Stuff masih memiliki penggemarnya sendiri sampai hari ini. Bagi saya pribadi, The Stuff bukanlah film “so bad its good” selevel beberapa film-film murahan favorit saya seperti Basket Case (1981) dan Street Trash (1987). Film ini juga cukup sulit untuk dianggap sebagai “cult classic” layaknya Bad Taste (1987) misalnya. Namun, The Stuff bisa saya masukan dalam kategori film horor 80-an yang sangat layak untuk dibuat remake modernnya dalam versi yang lebih serius dan brutal, sambil tetap menghormati versi originalnya seperti yang dilakukan oleh Evil Dead (2013). Bagaimanapun, The Stuff tetaplah sebuah karya penting Larry Cohen yang terasa masih relevan karena sampai hari ini di mana korporasi-korporasi raksasa terus masih meracuni konsumen mereka dan praktek seperti itu semakin terasa normal.