MOVIE REVIEW: SPRING (2014)

SPRING
Sutradara: Justin Benson & Aaron Moorhead
USA (2014)

Review oleh Tremor

Justin Benson dan Aaron Moorhead adalah duo penulis / sutradara yang mampu menggabungkan genre dengan cukup bagus. Debut mereka yang berjudul Resolution (2012) merupakan salah satu buktinya, menggabungkan psychological horror, supranatural, dan juga sci-fi. Spring adalah film kedua yang mereka tulis dan sutradarai, di mana mereka kembali mengkombinasikan beberapa genre sekaligus dengan cara yang cukup menyegarkan: drama komedi romantis indie, sci-fi, dan horor, terutama elemen cosmic body horror serta lovecraftian horror yang cukup kuat. Bagi yang tidak familiar, lovecraftian adalah sebuah genre yang berkembang mengikuti jejak H.P. Lovecraft, salah seorang penulis fiksi horor paling ikonik dan berpengaruh. Ide sentral dari cerita-cerita buatan H.P. Lovecraft adalah “fear of the unknown” dan cosmic horror. Hal ini mencakup pada rasa takut manusia terhadap hal-hal yang berada di luar pengetahuan manusia, terutama soal alam dan realita di luar nalar yang tak sanggup kita pahami. Ide dasar lovecraftian tentu membuka gerbang ke lebih banyak tema untuk dieksplorasi. Spring adalah salah satu contoh yang mencoba melakukannya, dan berhasil. Seperti biasa, ketika saya menonton Spring untuk pertama kalinya dulu, saya menghindar dari trailer-nya dan tidak mengetahui apapun soal plotnya. Setelah menontonnya, saya cukup yakin kalau itu memang cara terbaik untuk menikmati Spring, karena film ini mengambil beberapa alur dengan kejutan yang cukup unik. Saya pribadi sama sekali tidak akan merekomendasikan untuk melihat trailer-nya yang memperlihatkan terlalu banyak kejutan film ini. Sebenarnya cukup sulit untuk menulis review film ini tanpa membeberkan spoiler, tapi akan saya coba.

Spring mengikuti perjalanan Evan, seorang pemuda Amerika yang menjadi sebatang kara setelah kematian ibunya. Suatu malam ketika Evan masih berduka setelah pemakaman ibunya, ia terlibat dalam perkelahian di bar tempatnya bekerja. Kejadian ini menyebabkan Evan dipecat dan mulai dikejar oleh sekelompok geng dan juga polisi. Satu-satunya sahabat Evan meyakinkannya untuk pergi melepas penat ke Eropa dengan sisa tabungan dan warisannya, setidaknya hingga situasinya membaik. Setelah beberapa hari travelling, akhirnya Evan memutuskan untuk menetap sementara di pedesaan pinggir laut Italia dan mendapat pekerjaan paruh waktu di sebuah perkebunan. Evan cukup yakin dengan keputusan ini setelah ia berkenalan dan jatuh cinta pada seorang mahasiswi yang sedang melakukan penelitian tentang evolusi dan genetika bernama Loise. Hanya dalam beberapa hari saja, keduanya segera membangun koneksi dan chemistry yang semakin intens dengan begitu cepat. Namun, ketika Evan sudah semakin jatuh cinta, jati diri rahasia Louise yang cukup berbahaya, gelap dan sulit untuk dipahami pun mulai terungkap.

Ada beberapa faktor yang membuat Spring bekerja jauh lebih baik dari yang saya duga sebelumnya. Salah satunya adalah kisah romantis yang dijalin dengan cukup baik hingga film berakhir, diperkuat dengan dua karakter utama yang sama-sama mudah untuk membuat penonton suka pada mereka. Selain penulisan yang bagus, kemampuan aktor Lou Taylor Pucci dan Nadia Hilker dalam memerankan Evan dan Louise juga perlu mendapat apresiasi karena kita bisa merasakan chemistry yang kuat meskipun karakter mereka baru berkenalan 1-2 hari saja. Kemampuan akting ini menjadi penentu dalam membuat kisah mereka berdua bisa terasa begitu solid. Bahkan, ketika rahasia gelap Louise mulai terkuak pun saya pikir penonton tetap akan mendukung Evan dan Louise untuk tetap bersama, karena kedekatan mereka terasa begitu menyenangkan dan manis. Hal itu bisa terjadi karena Justin Benson dan Aaron Moorhead dengan sabar sengaja meluangkan durasinya untuk mengembangkan hubungan antara Evan dan Louise agar penonton bisa merasa dekat dengan keduanya. Satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah: ide dasar, dinamika kedekatan dan interaksi kedua karakter ini di sepanjang film mengingatkan saya pada dinamika karakter Jesse dan Celine dari film Before Sunrise (1995), yang saya yakin memang menjadi inspirasi utama Justin Benson dan Aaron Moorhead dalam menulis Spring.

Seandainya tidak ada unsur horor sekalipun, Spring sebagai sebuah drama romantis tetap akan bekerja dengan cukup baik. Namun rasanya kurang spesial, karena penonton tentu akan melihatnya hanya sebagai sebuah usaha tiruan Before Sunrise. Jadi, elemen horor dalam Spring lah yang membuat film ini menjadi jauh lebih unik dan menyenangkan, setidaknya bagi para penggemar horor. Siapapun yang membaca sinopsis pendek Spring bisa jadi akan menduga kalau twist film ini akan mengarah ke ide generik: ternyata Louise adalah seorang pembunuh sadis berdarah dingin. Tapi duo Justin Benson dan Aaron Moorhead memiliki ide yang jauh lebih baik dari itu. Bukan saja lebih baik, tetapi juga lebih menyeramkan, sekaligus fun. Twist horor dalam Spring menjadi faktor terkuat dalam mempertahankan sisi romantis film ini hingga pada ending-nya. Sebaliknya pun begitu. Tanpa adanya hubungan romantis antara Evan dan Louise sebagai inti cerita, unsur horor dalam Spring juga tidak akan terasa efektif. Jadi, genre romantis dan horor dalam Spring bekerja bukan sebagai gimmick belaka, tetapi sama-sama berfungsi sebagai fondasi ganda yang saling menopang.

Secara keseluruhan, saya pribadi cukup puas dengan Spring, yang meskipun bertempo cukup lambat, tapi alurnya tetap menarik dan menyegarkan, didukung dengan sinematografi yang cantik serta lokasi yang indah: kota kecil Eropa di pesisir laut Mediterania yang bernuansa sangat romantis. Duo Justin Benson dan Aaron Moorhead benar-benar cekatan dalam membuat sebuah film hybrid seperti ini, mengaburkan batasan-batasan genre menjadi sesuatu yang terasa orisinil dan unik. Tapi Spring tentu bukanlah film yang sempurna. Salah satu bagian yang mengganjal bagi saya adalah setelah Evan melihat jati diri Louise yang sesungguhnya dengan mata kepala sendiri, lalu mendengarkan langsung penjelasan dari Louise, orang yang baru ia kenal beberapa hari saja. Siapapun yang ada di posisi Evan, dalam keadaan sejatuh cinta apapun, mungkin tidak akan bisa menerima penjelasan Louise yang terdengar sangat tidak masuk di akal, secepat dan semudah yang Evan lakukan. Tapi, karena kisah dalam Spring memang terasa seperti sebuah dongeng ataupun mitologi, kejanggalan itu bisa diterima dengan mudah kalau kita melihat keseluruhan film ini dari perspektif bagaimana sebuah dongeng dan mitologi dikisahkan.