MOVIE REVIEW: BEST WISHES TO ALL (2023)

BEST WISHES TO ALL / MINA NI KO ARE
Sutradara: Yûta Shimotsu
Jepang (2023)

Review oleh Tremor

Best Wishes To All, yang dalam bahasa aslinya berjudul Mina ni ko are, adalah sebuah film horor psikologis dengan elemen folk horor dan sedikit darah, debut dari sutradara Yûta Shimotsu yang ia tulis bersama Rumi Kakuta. Film ini merupakan remake dari film pendek buatan Shimotsu dengan judul yang sama yang pernah dirilis pada tahun 2021. Best Wishes To All pertama kali dirilis di berbagai festival film internasional pada tahun 2023, hingga akhirnya secara resmi dirilis di bioskop-bioskop Jepang di tahun 2024, dan baru masuk ke layanan streaming internasional Shudder tahun 2025. Tidak main-main, debut film panjang Shimotsu ini diproduseri langsung oleh salah satu sutradara J-horror yang cukup legendaris, yaitu Takashi Shimizu sang kreator franchise Ju-On. Terlibatnya Takashi Shimizu dalam proyek ini bisa saja membuat para calon penontonnya berekspektasi kalau Best Wishes To All akan memberikan pengalaman horor tipikal ala J-horror yang umumnya berfokus pada horor supranatural. Apa yang perlu saya tegaskan di sini adalah, Best Wishes To All merupakan film horor Jepang yang tidak biasa dan sama sekali berbeda kalau dibandingkan dengan J-horror pada umumnya. Lebih dari itu, Best Wishes To All adalah film yang sangat aneh. Menonton film ini rasanya seperti mengalami sebuah mimpi buruk yang lambat, tanpa ada tensi tinggi namun tetap bisa terasa creepy. Meskipun mengetahui plotnya memang tidak akan merusak pengalaman menontonnya, tapi ada cukup banyak momen ganjil yang saya pikir akan lebih efektif kalau film ini ditonton tanpa tahu apapun sebelumnya. Karena itu, saya akan menuliskan review dan plotnya sesingkat mungkin.

Saat berlibur di rumah kakek-neneknya di sebuah pedesaan terpencil, seorang gadis kecil yang tak pernah disebutkan namanya di dalam film, terbangun dari tidurnya karena ia mendengar sesuatu dari lantai atas. Meskipun ketakutan, gadis itu tetap mengikuti rasa penasarannya dan mencari sumber suara tersebut di mana akhirnya ia melihat sesuatu yang mengerikan mengintip dari balik pintu sebuah ruangan gelap. Ingatan masa kecil itu masih terus menghantui gadis tersebut lewat mimpi-mimpi buruknya hingga ia dewasa. Setelah sekian lama, keluarganya berencana mengunjungi kakek-neneknya lagi. Namun karena adik laki-lakinya mendadak sakit pada hari yang telah ditentukan, gadis tersebut terpaksa berangkat lebih awal seorang diri. Ia tidak suka dengan ide ini, namun sebagai seorang cucu yang baik ia tidak memiliki banyak pilihan. Sesampainya di sana, kakek-neneknya tampak begitu bahagia dan menyambutnya dengan hangat. Tak butuh waktu lama hingga gadis tersebut mulai memperhatikan bahwa kakek dan neneknya seringkali berperilaku sangat aneh. Awalnya ia menduga kalau mungkin mereka mulai mengalami demensia. Tapi apa yang membuatnya mulai merasa semakin tidak nyaman adalah karena ia mendengar suara-suara aneh itu lagi di malam hari, yang masih berasal dari ruangan terkunci di lantai atas. Itu adalah suara-suara yang sama dengan yang pernah ia dengar saat masih kecil dulu. Ketika ia mulai mencari tahu lebih dalam tentang ruangan yang selalu terkunci tersebut, rahasia gelap di balik kebahagiaan keluarganya, atau bahkan seisi desa, sedikit demi sedikit mulai terungkap.

Premis gelap dan sureal dalam Best Wishes to All secara terang benderang mengeksplorasi tema seputar makna kebahagiaan, serta harga penuh ironi yang harus dibayar untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan cara mengorbankan orang lain. Dunia dalam Best Wishes to All sendiri merupakan sebuah dunia di mana kegilaan dan kekejaman menjadi hal yang normal, dan semua orang hanya berfokus ingin mencapai kebahagiaannya. Bagi mereka, rasa bersalah, empati, serta penyesalan sudah tidak relevan lagi ketika reward yang didapat adalah kebahagiaan. Tentu saja masih ada beberapa karakter dalam film ini yang cukup waras dan menolak konsep jahat tersebut, salah satunya sang protagonis yang namanya tidak pernah disebutkan. Namun ironisnya, pada akhirnya ia tidak pernah mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Yang ia dapat justru perasaan terasing dari keluarganya sendiri, seakan dunianya menuntutnya untuk ikut aturan main kalau memang ingin mendapat kebahagiaan.

Untuk ukuran film horor, Best Wishes to All adalah jenis film yang sepenuhnya bergantung pada atmosfer yang terasa ganjil serta keheningan yang meresahkan, meskipun semuanya bersumber dari hal sehari-hari yang seharusnya biasa saja. Sebagai seseorang yang awam, saya membayangkan kalau membuat film dengan atmosfer seram seperti ini mungkin jauh lebih sulit dibandingkan menciptakan suasana horor lewat audio yang mengagetkan dan penampakan hantu yang jelas-jelas tampak menyeramkan secara visual. Di sepanjang film, kita bisa terus merasakan ada yang tidak beres dengan semuanya, dan itu disajikan secara perlahan. Penonton disuguhi satu demi satu momen aneh dan meresahkan, yang pada akhirnya mengarah pada pengungkapan yang lebih besar dan aneh. Tapi jangan khawatir, meskipun film ini banyak mengandalkan atmosfer, mereka yang menyukai film horor dengan sentuhan darah tetap bisa mendapat apa yang mereka cari, karena Best Wishes To All juga menawarkan beberapa adegan yang melibatkan darah, serta satu adegan menyakitkan yang melibatkan jarum dan seutas benang jahit.

Saya pikir Best Wishes to All akan terasa sedikit membosankan bagi mereka yang berharap j-horror tradisional seperti Ju-On, The Ring, serta banyak judul J-horror lainnya yang pernah meroket di awal tahun 2000-an. Namun bagi mereka yang bisa mengapresiasi bagaimana suasana meresahkan bisa diciptakan dalam produk film berpremis janggal, saya pikir Best Wishes To All layak dicoba. Tentu saja Best Wishes to All tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah mahakarya yang hebat, dan bukan juga film yang akan terus menghantui kita setelah selesai menontonnya. Sebagian penonton bisa saja akan mengingat film ini setiap kali mereka ingin menikmati semangkuk sup miso, tapi mungkin Best Wishes to All tidak akan terlalu meninggalkan trauma mendalam pada sebagian besar penontonnya lainnya. Akting, pengarahan sang sutradara, sound design, special effect, serta ending yang bagus dalam Best Wishes To All sudah cukup bagi saya untuk menghargai film ini. Poin lain yang membuat saya mengapresiasi Best Wishes To All adalah setidaknya film ini mencoba untuk berbeda lewat gaya horor yang merayap secara perlahan, dan dengan sadar tidak mengeksploitasi trik-trik horor yang usang. Film ini juga dengan jelas tidak ingin menjadi sekedar produk tiruan dan pengulangan yang tipikal dari banyak karya sutradara J-Horror lainnya. Dalam debutnya ini, sang sutradara Yûta Shimotsu membuktikan bahwa masih ada banyak celah kreatif untuk masa depan genre horor Jepang.