WORM ‘Necropalace’ ALBUM REVIEW
Century Media Records. February 13th, 2026
Black metal

Tidak terasa, sudah lima tahun sejak WORM melepaskan album penuh ketiga mereka, ‘Foreverglade’. Album yang dirilis via 20 Buck Spin di penghujung 2021 silam itu berhasil mengangkat derajat proyek besutan Phantom Slaughter alias Wurm ini berkali-kali lipat di ranah musik ekstrem. Pasca memuntahkan breakthrough mereka, Phantom Slaughter tak hanya berdiam diri seraya menyemai hasil dari ‘Foreverglade’ saja. Ia langsung merekrut Philippe Tougas alias Wroth Septentrion, gitaris multi talenta asal Quebec, Kanada, yang namanya sudah sangat dikenal pencinta extreme metal lewat karya-karyanya bersama FIRST FRAGMENT, CHTHE’ILIST, ATRAMENTUS, hingga band power metal ETERNITY’S END. Keduanya kemudian melepaskan dua rilisan yang sangat fenomenal, ‘Bluenothing’ EP dan split bersama DREAM UNENDING bertajuk ‘Starpath’. Dua rilisan itu seolah jadi ancang-ancang transisi sound WORM, dari blackened death/doom pada ‘Gloomlord’ dan ‘Foreverglade’, menjadi symphonic black metal dengan sentuhan death/doom. Pergeseran ini tampaknya juga langsung memantik ketertarikan Century Media Records, yang pada akhir 2025 lalu resmi mengumumkan bahwa duo Phantom Slaughter dan Wroth Septentrion telah berlabuh bersama label tersebut.

Ketika WORM melepaskan video klip untuk single pertama sekaligus title track ‘Necropalace’, yang berdurasi 10 menit, dengan produksi yang sengaja dibuat menyerupai VHS jadul, dengan aransemen teatrikal yang megah, langsung banyak yang nyinyir kalau mereka udah sold out gara-gara ditarik label menstrim. Padahal aura black metal memang sudah melekat sejak WORM didirikan. Baik demo ‘The Deep Dark Earth Underlies All’ dan ‘Nights in Hell’ lebih condong ke wilayah black metal daripada death/doom, begitu pula LP ‘Evocation of the Black Marsh’ yang dulu didistribusikan Iron Bonehead Productions secara terbatas. Bedanya, kalau dulu pondasi black metal mereka lebih terpengaruh grup generasi awal seperti early CELTIC FROST, DARKTHRONE, atau VON, kini WORM lebih terinspirasi gelombang symphonic black metal era pertengahan hingga akhir 90’an macam DIMMU BORGIR, EMPEROR, CRADLE OF FILTH, LIMBONIC ART, OBSIDIAN GATE, dan lain-lain.
Sebenernya gue kurang begitu masuk sama lead single sekaligus title track “Necropalace”. Bukan karena durasi panjang, dan bukan juga karena orkestrasi yang lebih medok dari biasanya, tetapi karena komposisinya terasa terlalu rame dengan benang merah yang kurang begitu jelas. Lagu tersebut seperti mau dijadikan seperti showcase musikalitas Phantom Slaughter dan Wroth Septentrion doang di telinga ogut, yang jujur baru bener-bener klik dan nangkep pas masuk sesi akhir, sedangkan delapan menit sebelumnya gagal meresap di otak. Untungnya lima lagu lainnya (yang minimal berdurasi sekitar tujuh menit-an), sangatlah impresif dan mampu menebus dosa besar si title track. “Blackheart” dengan instan langsung menjelma jadi trek metal terfavorit gue di awal tahun ini, berkat racikan aduhai blackened doom atau gothic metal penuh nuansa melankolis ‘Dance of December Souls’ ala KATATONIA yang sangat kental, dipadukan dengan early TRISTANIA hingga mid era TIAMAT.
“Halls of Weeping” merupakan lagu yang paling dekat dengan ‘Foreverglade’, walaupun tentunya lebih melodramatis. Dibanding nomor-nomor lainnya, trek ini memang yang paling nge-doom, sekaligus dipenuhi riff brengsek seperti pada 1:05 sampai 2:10. Malah pada menit kelima, WORM mendatangkan kembali pakem cavernous death/doom (minus guttural vocal), yang dipadukan dengan lapisan lead bertekstur dreamy parah, yang sepertinya terinspirasi dari rekan split mereka di ‘Starpath’. Berikutnya “The Night Has Fangs” adalah sebuah lagu melodic black metal yang lumayan bombastis, di mana Wroth Septentrion masih menjadi primadona lewat permainan gitarnya yang nyerempet power metal. “Dragon Dreams” juga patut disebut sebagai highlight album ini, lewat aransemen epic dan atmosferik layaknya sebuah perjalanan, yang dibangun secara bertahap, hingga akhirnya meledak dalam klimaks yang terdengar memuaskan.
“Witchmoon: The Infernal Masquerade” sebagai penutup kolosal berdurasi empat belas menit, menurut ogut justru lebih pantas diusung sebagai showcase WORM kepada pendengar baru dan lama mereka daripada title track. Di lagu ini WORM memberikan ruang untuk bernapas agar setiap section-nya bisa menjangkiti otak pendengar, transisi antar tiap bagian pun terasa lebih halus, dengan benang merah yang jauh lebih mudah diraba meski masih tetap unpredictable. Jadi meskipun durasinya tidak tanggung-tanggung, atensi pendengar tak bakal lari. Dan eitts!, jangan lupa, ada duel gitar beberapa menit pula antara Phil Tougas dengan Marty Friedman (ex-MEGADETH / CACOPHONY) yang dijamin bisa bikin langsung terpana. Sebagai sebuah debut major label album dari WORM, ‘Necropalace’ adalah karya yang sangat ambisius, di mana Phantom Slaughter mencoba mengedepankan kembali pilar-pilar black metal mereka, sambil memadukannya dengan estetika symphonic black metal klasik (lengkap dengan unsur campiness-nya) tanpa harus terpaku pada satu atau dua/tiga band saja. Mereka juga belum sepenuhnya meninggalkan unsur death/doom yang dulu menjadi tulang punggung sound mereka. Belum lagi sejak masuknya Wroth Septentrion, ia turut menyuntikkan cita rasa neo-classical metal lebih ketara dibandingkan Nihilistic Manifesto, yang membuat ‘Necropalace’ terasa semakin eksentrik, dan tentunya menjadi one hell of an album yang mampu stand out di antara bejibun rilisan black metal di pasaran.(Peanhead)
9.1 out of 10