fbpx

MOVIE REVIEW: TOURIST TRAP (1979)

TOURIST TRAP
Sutradara: David Schmoeller
USA (1979)

Review oleh Tremor

Tourist Trap adalah sebuah film backwoods horror yang dibumbui dengan elemen supernatural yang sangat kuat. Film ini merupakan debut dari sutradara David Schmoeller yang di kemudian hari membuat film Catacombs (1988) dan Puppet Master (1989). Dalam dunia film horror, Schmoeller bisa dibilang bukan sutradara yang berprestasi. Tapi tidak bisa dipungkiri, Tourist Trap kemudian diakui sebagai salah satu karya sinema cult bagi para penggemar horror hingga hari ini. Bahkan seorang Stephen King menganggap kalau Tourist Trap adalah salah satu film yang paling menyeramkan yang pernah ia tonton. Hal tersebut ia tulis dalam buku nonfiksinya yang berjudul Danse Macabre (1981), dan sepertinya pernyataannya cukup beralasan. Terlepas dari plot dasarnya yang klise, Tourist Trap memang berhasil menampilkan adegan-adegan beraura menyeramkan, terutama bagi para penonton di akhir tahun 70an. Dalam kalender film horror, tahun 1979 sendiri bisa dianggap sebagai tahun yang terjepit di antara pergeseran trend film horror supranatural 70an dengan trend genre slasher Amerika 80an. Tourist Trap merupakan salah satu produk yang mencampurkan kedua trend genre tersebut, dan tentu saja hasilnya sangat ganjil.

Film ini dibuka dengan seorang remaja bernama Woody yang sedang berjalan sambil menggelindingkan ban mobilnya yang kempes di sepanjang jalanan terpencil yang sepi. Akhirnya ia menemukan pompa bensin yang tampak kosong dan berusaha mencari bantuan untuk menambal ban mobilnya. Tapi tampaknya tak ada orang di sana. Woody pun memutuskan untuk memasuki bangunan di mana ia menemukan banyak manekin, boneka, dan semacamnya. Tak lama kemudian, Woody mulai diteror oleh kekuatan gaib tak terlihat yang kemudian membunuhnya. Teman-teman Woody bernama Molly, Becky, Eileen, dan Jerry yang menunggu di tempat Woody meninggalkan mobilnya akhirnya memutuskan untuk mencari Woody dengan mengendarai mobil milik Jerry. Di tengah jalan, mobil yang mereka kendaraipun secara misterius mendadak rusak. Tak jauh dari situ, terdapat sebuah kolam alami di tengah hutan yang tampak menyegarkan, lengkap dengan air terjun kecilnya. Molly, Becky dan Eileen memutuskan untuk berenang sambil menunggu Jerry memperbaiki mobilnya. Saat itulah muncul seorang penduduk setempat yang datang menenteng senapan di pinggir kolam, bernama tuan Slausen. Lelaki tua ini memperingatkan mereka untuk tidak berkeliaran di sekitar area itu setelah malam hari, karena ada bahaya yang mengintai. Namun Jerry tidak berhasil memperbaiki mobilnya, dan hari pun mulai gelap. Tuan Slausen akhirnya menawarkan mereka ikut ke rumahnya untuk mengambil berbagai peralatan yang mungkin bisa dipakai untuk memperbaiki mobil.

Tuan Slausen tinggal di sebuah tempat yang merupakan semacam museum lilin. Ia adalah pengelola Slausen’s Desert Oasis, tempat wisata di area itu, dan museum lilinnya merupakan salah satu atraksi yang ditawarkan. Walaupun terpencil, tempat ini pernah cukup populer bagi para turis di masa lalu, sebelum dibangunnya jalan tol di dekat situ yang membuat para turis tidak pernah melewati area ini lagi. Setelah memamerkan beberapa patung lilinya, tuan Slausen pergi bersama Jerry untuk memperbaiki mobil Jerry dan meninggalkan Molly, Becky serta Eileen di dalam museum lilinnya. Sebelum pergi, tuan Slausen memperingatkan mereka untuk tidak pergi ke luar, terutama ke rumah yang berada di belakang museum lilin. Tapi karena ini adalah film horror, tentu saja mereka tidak mengindahkan peringatan tersebut. Akhirnya satu per satu dari mereka mulai dibantai oleh seorang gila yang misterius. Sosok ini mengenakan topeng-topeng boneka yang tampak menyeramkan yang jelas terinspirasi oleh Leatherface. Tapi apa yang lebih mengerikan lagi adalah, sang pembunuh memiliki kekuatan supranatural: telekinesis.

Plot dasar dalam Tourist Trap jelas terdengar klise untuk ukuran film backwoods / redneck horror. Sekelompok anak muda pergi berlibur, dan terjebak dengan seorang pembunuh gila di pelosok selatan Amerika. Sosok pembunuh dalam Tourist Trap (yang sayangnya tidak pernah memiliki nickname khusus ini) juga memiliki semua ciri khas umum pembunuh dalam genre slasher Amerika: sadis, bertopeng, selalu muncul di waktu yang tepat, dan tentu saja ia sakit jiwa. Apa yang membuat Tourist Trap cukup dikenang adalah penggunaan elemen supernatural yang sama sekali tidak terduga. Jadi, ada banyak hal lain dan kejutan yang terjadi dalam film ini dibandingkan film backwoods dan slasher biasa yang membuat film Tourist Trap terasa berbeda. Pertama, yang sudah saya sebut sebelumnya, sang pembunuh memiliki kekuatan telekinesis. Namun berbeda dengan karakter Carrie buatan Stephen King yang diceritakan tidak bisa mengendalikan kekuatannya, pembunuh dalam Tourist Trap mampu mengendalikan kekuatan telekinetisnya dengan penuh kesadaran. Hal ini kemudian melahirkan banyak adegan yang ganjil sekaligus mengerikan secara visual, yang tidak akan mungkin ada kalau para pembuat film ini tidak menyelipkan elemen telekinesis di dalamnya. Tapi para pembuat film ini mungkin merasa kalau telekinesis saja tidak cukup. Maka diselipkanlah kekuatan absurd dan gila lainnya: sang pembunuh mampu mengubah manusia menjadi manekin, dan bahkan manekin menjadi manusia dalam salah satu adegan (maaf spoiler).

Walaupun Tourist Trap adalah film berbajet rendah dengan kisah yang absurd, namun ia tetap berhasil menciptakan suasana yang menyeramkan. Ide tentang boneka lilin dan manekin yang memenuhi sebuah rumah kosong yang gelap dan terpencil saja sudah cukup menyeramkan bagi sebagian orang. Kamera seringkali menyoroti mata manekin-manekin tersebut yang tatapannya tampak hampa, lengkap dengan ekspresi kosong di wajah mereka, diiringi dengan backsound yang cukup mendukung. Dalam beberapa adegan, mata para manekin ini bergerak mengikuti calon korbannya. Ada perasaan bahwa bisa saja para manekin ini hidup. Tak cukup sampai di situ, seringkali terdengar bisikan-bisikan di antara mereka. Beberapa manekin yang rahangnya bisa terbuka bahkan berteriak dalam beberapa adegan. Apa yang tampaknya disadari betul oleh sutradara David Schmoeller adalah, bahwa hal yang jauh lebih menyeramkan dari manekin dalam ruangan gelap adalah manekin yang mampu berteriak seperti kesetanan. Contohnya saat pembunuh mengejar salah satu karakter sambil membawa kepala manekin yang berteriak-teriak. Jangan tanya saya dari mana suaranya berasal, karena kita tidak membutuhkan penjelasan logis untuk menonton film semacam ini.

Banyak orang menganggap Tourist Trap sebagai satu dari sekian banyak film slasher yang lahir pasca Halloween (1978). Tapi saya pribadi agak ragu untuk mengkategorikan Tourist Trap sebagai film slasher, meskipun sang pembunuh memiliki semua karakteristik umum pembunuh slasher yang sudah saya sebut sebelumnya. Pertama, karena keterbatasan dana, mengakibatkan film ini tidak memiliki satupun adegan gore. Hampir semua adegan pembunuhannya tidak ditampilkan di layar (off-screen). Hasilnya, tidak ada adegan pembunuhan kreatif ala film slasher yang bisa dinikmati oleh penonton. Sementara adegan pembunuhan adalah salah satu daya tarik utama dari film slasher. Film ini bahkan mendapat peringkat PG (Parental Guidance, istilah sensor perfilman Amerika yang mengacu pada film-film yang dianggap cukup aman untuk ditonton oleh remaja di bawah pengawasan orang tua) saat pertama kali dirilis di Amerika. Tentu saja peringkat PG bagi film horror bisa dianggap sebagai sebuah kelemahan di mata para penggemar horror, apalagi kalau Tourist Trap adalah film slasher. Dalam hal tingkat gore dan kategori subgenre, menurut saya Tourist Trap memang lebih dekat dengan film-film backwood klasik seperti The Texas Chainsaw Massacre (1974) dan The Hills Have Eyes (1977), yang digabungkan dengan ide dari House Of Wax (1953) ditambah unsur supranatural yang absurd.

Hal lain dari Tourist Trap yang cukup menonjol hingga hari ini adalah soundtrack-nya yang dibuat oleh Pino Donaggio, seorang komposer Italia yang cukup legendaris dalam dunia perfilman. Soundtrack dari Tourist Trap kemudian dirilis ulang dalam bentuk vinyl pada tahun 2015 oleh Waxwork Records, sebuah record label yang memfokuskan diri merilis ulang scoring film-film classic horror, cult, dan sci-fi. Karya-karya Donaggio sendiri bisa didengar dalam film-film lain dari mulai Carrie (1976), Piranha (1978), Dressed to Kill (1980), The Howling (1981), Trauma (1993), hingga Death Proof (2007). Kabarnya, bahkan seperenam bajet Tourist Trap dialokasikan hanya untuk membayar Donaggio demi mendapatkan komposisi musik latar yang berkualitas. Namun Tourist Trap juga tentu memiliki banyak kekurangan. Salah satunya dalam hal pencahayaan. Banyak adegan tampak begitu gelap sehingga cukup sulit untuk melihat apa yang sedang terjadi. Selain itu kita juga bisa menemukan banyak kesalahan kontinuitas, yang sebenarnya tidak perlu kita permasalahkan untuk film semacam Tourist Trap. Semua kekurangan tersebut cukup termaafkan mengingat bajet pembuatan film yang cukup pas-pasan. Yang pasti Tourist Trap adalah film yang menghibur, sekaligus absurd, yang akan membawa kita pergi menjauh dari realita dan logika. Film ini juga ditutup dengan ending yang cukup ikonik. Menurut saya, Tourist Trap memang pantas untuk mendapat gelar cult cinema karena segala keunikannya. Sayang sekali tidak pernah ada lagi film semacam ini. Kalau kalian memiliki rasa takut terhadap boneka atau manekin, saya sangat merekomendasikan untuk menonton Tourist Trap seorang diri, dalam ruangan gelap, sambil dikelilingi boneka.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com