MOVIE REVIEW: THE EMPTY MAN (2020)

THE EMPTY MAN
Sutradara: David Prior
USA (2020)

Review oleh Tremor

The Empty Man adalah sebuah film horor supranatural, debut penyutradaraan dari David Prior yang sebelumnya lebih banyak membuat dokumenter proses pembuatan berbagai film. Naskah The Empty Man yang ia tulis bersama Cullen Bunn ini merupakan adaptasi dari sebuah graphic novel karya Cullen Bunn dan Vanesa R. Del Rey yang diterbitkan oleh Boom! Studios pada tahun 2014. Pada dasarnya, The Empty Man bukanlah film horor supranatural biasa karena ia mencoba untuk mengeksplorasi filsafat postmodern yang cukup berat lewat elemen berbagai genre yang berbeda dari mulai folk/cult horror, supranatural, cosmic horror, hingga investigasi prosedural. The Empty Man sendiri sebenarnya sudah mulai difilmkan pada tahun 2016 hingga 2017. Namun film ini baru dirilis pada Oktober 2020 dengan pendapatan yang sangat rendah karena pada masa itu banyak penonton kehilangan minat untuk pergi ke bioskop akibat dari wabah Covid-19 yang baru saja dimulai kurang dari satu tahun sebelumnya.

Film ini berfokus pada James Losombra, seorang mantan detektif yang kini mengelola sebuah toko peralatan keamanan. Suatu hari, seorang remaja tetangganya yang bernama Amanda menghilang. Amanda beserta ibunya yang bernama Nora bisa dibilang cukup dekat dengan James. Karena kedekatannya itu, James mulai melakukan penyelidikan untuk mencari Amanda. Petunjuk pertama yang James temukan adalah sebuah pesan yang ditulis dengan darah pada cermin kamar mandi Amanda, bertuliskan “The Empty Man made me do it!”. Selain itu, James juga menemukan sebuah pamflet bertuliskan Institut Pontifex di antara barang-barang dalam kamar Amanda. Pamplet inilah yang membawa James pada sebuah kelompok pseudo-spiritual di mana sebagian besar anggotanya adalah anak muda. Dari luar, Institut Pontifex tampak seperti sebuah kelas motivasi spiritual biasa. Namun setelah menggali lebih dalam, James menemukan bahwa kelompok ini meyakini ada satu entitas metafisik yang menyampaikan “kebenaran rahasia” kepada para pengikutnya. Mulai dari sini, bukan titik terang yang James dapatkan, melainkan lebih banyak misteri yang semakin membingungkan seputar entitas metafisik yang sering disebut dengan nama The Empty Man. Ketika akhirnya James membongkar kebenaran, ia mulai mempertanyakan apakah semua yang selama ini ia yakini salah.

Pada dasarnya film ini bisa dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama merupakan proses investigasi yang dilakukan oleh James. Dalam bagian ini ada beberapa unsur horor klise yang terjadi, dari mulai para anak muda yang melakukan kebodohan-kebodohan khas film horor, penemuan-penemuan jenazah, hingga satu adegan penguntitan dan pembunuhan layaknya film slasher. Kemudian, The Empty Man mulai memasuki bagian film yang sepertinya lebih berfokus pada hal-hal yang janggal dengan eksplorasi filsafat yang lumayan berat. Sekte Institut Pontifex sendiri memang memiliki dogma kepercayaan terhadap kehampaan realitas dan cenderung nihilistik. Dari mereka kita akan banyak mendengar ide-ide yang sebenarnya cukup menarik. Salah satunya adalah keyakinan tentang kekuatan yang bisa mengkonstruksi wujud berdaging dari sesuatu yang sebelumnya non-eksisten, menjadi ada, lewat ritual dan kekuatan pikiran kolektif yang dilakukan secara konsisten. “Thought + Concentration + Time = Flesh” adalah mantra utamanya. Dari situ, perenungan-perenungan tentang realitas juga mulai semakin dieksplorasi. Mungkin film ini ditulis untuk membuat penontonnya berpikir ulang tentang siapa diri kita sebenarnya dan apakah yang kita yakini atas dunia ini merupakan realitas. Ada banyak referensi yang digunakan dalam film ini yang mengacu pada filsafat senada, dari mulai Amanda dan teman-temannya yang bersekolah di sebuah SMA bernama “Jacques Derrida” (nama seorang filsuf Prancis yang dikenal mengembangkan metode analisis semiotik dekonstruksi), hingga salah satu pemuka sekte Pontifex yang mengutip Friedrich Nietzsche dalam ceramahnya. Pemikiran dari Jacques Derrida sendiri sepertinya menjadi salah satu referensi terbesar The Empty Man, karena filsuf tersebut memang kerap mengeksplorasi tema seputar nihilisme dan ketiadaan, yang jelas berkaitan dengan ide dasar film ini: tidak ada yang nyata. Para pengikut sekte Pontifex menyembah The Empty Man secara harfiah karena mereka percaya, seperti halnya juga para nihilis, bahwa hidup dan alam semesta tidak bermakna apa-apa. Namun ada kontradiksi besar di sini karena sekte ini juga percaya bahwa mereka akan menemukan makna dari pesan yang dikomunikasikan oleh The Empty Man kepada mereka.

Saya pribadi tidak terlalu menikmati The Empty Man, bukan karena idenya terlalu berat untuk sebuah film horor berdurasi terlalu panjang (130 menit), tetapi karena di satu sisi film ini berusaha terlalu keras untuk bertema berat dan serius, namun di sisi lain juga ingin menjadi produk hiburan yang ringan. Jadi, apa yang saya rasakan adalah film ini seakan tidak tahu hendak berfokus pada apa. Bisa jadi, ketidakberhasilan The Empty Man juga ada kaitannya dengan tagline pada posternya yang sangat generik berpotensi untuk membuat calon penontonnya terkecoh dan salah berekspektasi pada film ini. Tagline yang berbunyi “Pada malam pertama kau mendengarnya. Pada malam kedua kau melihatnya. Pada malam ketiga, ia menemukanmu” tentu bisa saja memberi kesan yang salah bahwa film horor ini akan berfokus pada kebangkitan entitas supranatural yang meneror para korbannya di sepanjang film. Dengan asumsi seperti itu, calon penontonnya bisa saja berharap akan melihat wujud monster The Empty Man muncul di dalam film. Masalahnya, The Empty Man bukanlah film seperti itu. Sebaliknya, The Empty Man justru tidak terlalu berfokus untuk memperlihatkan monsternya karena memang bukan itu poin film ini, melainkan lebih ke soal yang lebih konseptual, filosofis dan abstrak. Faktor lain yang lebih subjektif tentang mengapa saya tidak terlalu menikmati The Empty Man juga adalah karena penggambaran hambar karakter James Losombra sebagai karakter mantan polisi yang terasa terlalu klise dalam sebuah film.

Mungkin, satu-satunya hal yang saya suka dari The Empty Man hanyalah bagian prolog-nya yang berdurasi lebih dari 20 menit, sebelum judul film ini akhirnya muncul pada layar. Bagian ini rasanya seperti sebuah film pendek yang menegangkan, efektif, dan cukup menjanjikan sebelum memasuki versi film panjangnya. Dalam bagian prolog ini kita mengikuti sekelompok anak muda di tahun 90-an yang sedang mendaki pegunungan di Bhutan, timur pegunungan Himalaya. Ketika salah satu dari mereka jatuh ke dalam celah goa, ia menemukan kerangka raksasa dengan jari-jari yang panjang di dalamnya. Sejak melihat kerangka itu, pemuda tersebut mulai seperti kerasukan. Imaji kerangka tengkorak raksasa di dalam goa ini sangat berpontensi untuk menjadi daya tarik besar dalam film The Empty Man karena desainnya yang unik sekaligus terasa mencekam. Tengkorak raksasa ini dirancang dengan baik oleh seorang creature designer bernama Ken Barthelmey, yang mengambil referensi besar dari lukisan-lukisan mengerikan karya pelukis Polandia Zdzisław Beksiński, serta desain karakter Space Jockey dari franchise Alien. Saya pribadi sangat suka dengan desain tengkorak raksasa tersebut. Sayangnya, prolog film ini baru terasa terhubung secara langsung dengan plot utama The Empty Man pada menit-menit terakhir sebelum film selesai. Sebagai orang awam, saya berpikir untuk apa repot-repot membuat prolog sepanjang dan semenjanjikan itu kalau unsur-unsurnya yang menarik tidak digunakan lebih banyak di sepanjang film?

Bagi saya, The Empty Man memiliki banyak ide menarik yang sayangnya tidak terlalu berhasil dikembangkan dengan baik. Hasilnya, semua ide yang ingin digabungkan lewat multi-genre dalam The Empty Man terasa sedikit kusut dan berantakan. Film ini terasa seperti berusaha terlalu keras untuk menjadi film horor yang serius dan kompleks, namun tidak berhasil menyatukan berbagai elemen filsafat dengan genre horor secara memuaskan. Tetapi, saya masih bisa mengapresiasi The Empty Man karena bagaimanapun juga ini adalah usaha yang bagus sebagai sebuah debut. Bagi saya, ambisi dalam penulisan sebuah plot film tidak pernah menjadi hal yang buruk, karena tentu lebih baik mencoba dan gagal daripada tidak pernah mencobanya sama sekali.