
THE DAMNED
Sutradara: Thordur Palsson
Islandia (2024)
Review oleh Tremor
The Damned adalah sebuah psychological folk horror, debut film fitur dari penulis / sutradara Islandia bernama Thordur Palsson yang sebelumnya pernah membuat beberapa film pendek. Skenario yang ia tulis bersama Jamie Hannigan ini mengusung kisah seputar horor isolasi dan paranoia di tengah iklim dingin Nordic yang keras, dibumbui dengan elemen cerita rakyat Nordic. Agar tidak membingungkan, perlu dicatat bahwa ada dua film yang sama-sama berjudul The Damned dirilis pada tahun 2024. Keduanya bahkan berlatarkan periode waktu yang sama (abad 19), tema umum yang mirip (isolasi), dengan durasi yang hanya berbeda 1 menit saja. Untungnya, kedua film tersebut memiliki genre dan premis yang berbeda.

Film ini berfokus pada satu pangkalan nelayan yang berlokasi di sebuah pulau terpencil dan tak berpenghuni di lautan Nordic. Pangkalan kecil ini berfungsi sebagai shelter sementara bagi sekelompok nelayan agar mereka tidak perlu melaut terlalu jauh untuk beristirahat selama musim penangkapan ikan. Di sana mereka harus berjuang bertahan hidup di tengah menipisnya cadangan makanan serta cuaca bersuhu ekstrim. Mereka hanya bisa berharap akan mendapatkan tangkapan ikan yang berlimpah untuk dimakan sekaligus dibawa pulang. Suatu pagi, ketika sedang mempersiapkan perahu untuk pergi mencari ikan, dari kejauhan mereka melihat sebuah kapal nelayan asing yang tampaknya baru saja menabrak gugusan batu karang dan akan tenggelam. Gugusan batu karang yang dinamai “The Teeth” tersebut memang terkenal sangat berbahaya karena gelombang yang tak terprediksi bisa dengan mudah menghantam kapal pada bebatuan tajam. Melihat kejadian tersebut, pengelola pangkalan sekaligus pengambil keputusan tertinggi yang bernama Eva dihadapi pilihan sulit: pergi membantu para nelayan asing ini dengan resiko mencelakai crew-nya sendiri, atau mengabaikan dan berharap nasib baik akan menyertai kapal asing tersebut. Berdasarkan pertimbangan rasional, Eva dengan berat harus memutuskan bahwa mereka tidak bisa membantu orang asing karena terbatasnya ruang serta persediaan makanan yang mereka miliki di pangkalan. Meskipun terdengar tidak manusiawi, tapi ini adalah keputusan yang didasari insting bertahan hidup di tengah ketidakpastian alam Nordic yang kejam. Meskipun begitu, keputusan sulit ini tetap memicu ketegangan di antara para nelayan. Tak lama kemudian, gentong berisi persediaan makanan serta beberapa mayat dari kapal asing yang karam itu mulai terdampar di pantai dekat pangkalan. Di bawah keharusan untuk bertahan hidup, mereka menerima persediaan makanan tersebut sebagai berkah, tetapi sebagian dari mereka percaya bahwa terdamparnya mayat-mayat adalah pertanda buruk. Tak lama setelah memberi penghormatan dan menguburkan mayat-mayat tersebut, penampakan sosok misterius serta beberapa gangguan mulai menghantui Eva dan para nelayan di malam hari.

Salah satu juru masak para nelayan yang bernama Helga percaya bahwa mereka diganggu oleh makhluk bernama Draugr, dan Draugr tidak akan berhenti mengganggu sampai mereka semua mati. Draugr dalam The Damned merupakan adaptasi dari salah satu legenda rakyat Nordic yang dipercaya sebagai mayat hidup yang bangkit untuk membalas dendam pada mereka yang masih hidup. Makhluk ini memiliki kemampuan supranatural, salah satunya adalah berubah wujud. Jadi, Draugr bukanlah hantu atau roh, melainkan mahkluk undead yang memiliki tubuh fisik dan, meskipun sangat berbahaya, dapat dilawan. Dalam bagian pertama film The Damned, Helga sempat menceritakan sebuah kisah tentang pengkhianatan antara dua kakak-adik. Kisah yang ia ceritakan di depan perapian ini adalah foreshadow yang sempurna tentang Draugr yang akan menghantui mereka kemudian. Dalam adegan monolog pendek tersebut, aktris Siobhan Finneran memerankan karakter Helga dengan sangat baik di mana ia menunjukkan kekuatan teknik storytelling yang luar biasa efektif dan terasa menegangkan meskipun hanya lewat penuturan verbal. Tak hanya Finneran, aktris asal Australia Odessa Young yang memerankan Eva juga bermain dengan sangat bagus. Di sepanjang film ia mampu memperlihatkan ketegasan karisma kepemimpinannya, tetapi juga sisi-sisi rapuhnya, dengan sangat baik.
Namun kekuatan terbesar dari The Damned mungkin terletak pada sinematografinya yang terlihat begitu memukau sekaligus juga suram. Perlu dicatat bahwa seluruh pengambilan gambar eksterior dalam The Damned benar-benar dilakukan di lokasi sebenarnya, sebuah pulau terpencil Islandia yang dikelilingi perairan berbahaya dan selalu terbungkus oleh kabut. Saya pikir keputusan tersebut sangat tepat karena kehampaan landscape yang terasa otentik ini ikut berkontribusi dalam menciptakan perasaan isolasi yang sangat kuat. Bayangkan semuanya tampak terhampar luas dan indah, namun juga menyesakkan, hampa, tanpa jalan keluar, dan terasa sangat dingin. Sinematografi The Damned juga dengan efektif berhasil menggambarkan kejamnya musim dingin yang panjang dan keras di belahan bumi utara, di mana manusia benar-benar dihadapi pilihan hidup dan mati setiap harinya. Lokasi dan semua pemandangan ini seakan menjadi karakter tersendiri dalam The Damned, yang membantu penonton merasa ikut terjebak di sana bersama para nelayan. Lewat sinematografinya saja sudah cukup untuk membuat penonton boleh bersyukur tidak terlahir sebagai seorang nelayan Nordic di abad ke-19 yang terjebak di pulau terpencil pada musim dingin.

The Damned adalah salah satu film yang menggunakan ide “apakah semua ini nyata atau para karakternya mulai kehilangan kewarasan”. Meskipun ini jelas bukan ide baru dalam film horor psikologikal, tetapi sutradara Thordur Palsson menanganinya dengan sangat baik di sepanjang film, di mana banyak rasa takut bisa dieksplorasi dari ketidakpastian tersebut. Setelah beberapa mayat mulai terdampar, Helga memasang berbagai jimat buatannya sendiri di sekitar pangkalan untuk menghalau Draugr. Helga dan tahayul yang ia percaya bisa jadi ikut berkontribusi pada runtuhnya akal sehat para nelayan di pangkalan tersebut karena mereka mulai memikirkan kemungkinan kalau Helga benar. Ini diperburuk dengan serangkaian kematian di antara para nelayan akibat penyakit misterius, mimpi buruk, penampakan Draugr, hingga histeria massal yang perlahan menyebar di pangkalan, membuat satu persatu dari mereka mulai kehilangan kendali dan saling menghancurkan. Mungkin, tidak pernah ada mayat hidup yang meneror mereka. Mungkin semua orang hanya kelaparan, stres, trauma, dan dihantui rasa bersalah yang sangat besar berkaitan dengan kapal asing yang karam dan apa yang terjadi setelahnya. Jadi, apakah kegilaan dan paranoia yang seakan menular ini merupakan efek dari isolasi, rasa bersalah dan kelaparan, atau apakah ini benar-benar bentuk kutukan karena mereka menolak membantu kapal nelayan asing? Salah satu karakter bernama Daniel sempat menyimpulkan bahwa “orang mati jauh lebih tidak berbahaya daripada mereka yang hidup,” dan saya pikir ini adalah petunjuk kuat tentang kesimpulan The Damned yang kemudian lumayan terjawab dalam ending-nya.
Saya tidak berekspektasi apa-apa sebelum menonton The Damned, jadi saya cukup terhibur karena film ini tidak mengecewakan sebagai sebuah film horor psikologikal dengan sentuhan folk horor. The Damned memang bukanlah film horor terbaik, tetapi setidaknya layak untuk ditonton. Dari mulai akting yang solid, naskah yang ditulis dan dieksekusi dengan baik, sinematografi yang kuat, hingga produksi yang cukup serius. Saya juga suka bagaimana film ini tidak bergantung pada jumpscare tetapi pada atmosfer dan perasaan mencekam yang merayap. Sebagai sebuah film yang bertempo lambat, saya pikir durasi The Damned sepanjang 1 jam 29 menit juga terasa pas dan cukup. Mungkin satu-satunya kelemahan film ini adalah premis dasarnya yang terlalu klise dan telah digunakan oleh banyak sekali film horor psikologikal. Tapi itu bukan masalah besar. Sebagai sebuah film debut, tentu saja pengarahan dan penulisan Thordur Palsson dalam film ini sangat layak untuk mendapat apresiasi.

