fbpx

MOVIE REVIEW: THE BLOB (1988)

THE BLOB
Sutradara: Chuck Russell

USA (1988)

Review oleh Tremor

Pada tahun 1958, dunia menyaksikan sebuah terror serangan alien paling keji (pada jamannya) yang pernah mereka saksikan dalam film sci-fi horror independen berjudul The Blob. Bentuk alien ini tidak seperti apa yang dibayangkan oleh banyak orang pada saat itu, karena ia berwujud gumpalan (atau blob dalam bahasa Inggris) layaknya sebuah amoeba raksasa yang bertumbuh semakin besar setiap kali ia “menyerap” para korban-korbannya. Lalu pada tahun 1972 muncul kisah lanjutannya dalam film berjudul “Beware! The Blob”, kali ini dengan sedikit balutan komedi, dan merupakan sebuah film independen berbajet rendah. Hari ini, kata “keji” tidak terlalu tepat untuk menggambarkan alien gumpalan dalam kedua film tersebut karena sang alien bergerak dengan sangat lambat dan durasi tampilnya monster di layar juga sangat sedikit. Tiga puluh tahun setelah film The Blob pertama, sutradara Chuck Russell, yang sebelumnya memulai debutnya lewat film A Nightmare on Elm Street 3: Dream Warriors (1987), memutuskan untuk membuat ulang The Blob dengan teknologi yang lebih mumpuni dan membuat monster dalam film ini menjadi benar-benar kejam. Hasilnya, remake dari The Blob yang dirilis tahun 1988 ini menjadi film The Blob terbaik yang pernah ada. Setelah sukses dengan The Blob, Chuck Russell tidak terlalu mendedikasikan dirinya dalam industri horror lagi dan mulai membuat film-film yang lebih “aman” untuk dipasarkan, salah satunya adalah The Mask (1994) dan The Scorpion King (2002).

The Blob versi remake dibuka dengan melesatnya sebuah meteor misterius di langit yang kemudian mendarat di dekat kota kecil bernama Arborville. Saat meteor tersebut melintas di atas kepala, tidak banyak penduduk yang menyadarinya. Tapi seorang gelandangan tua melihatnya dengan jelas, karena meteor itu jatuh tak jauh dari tempatnya di tengah hutan. Gelandangan yang rasanya tak pernah disebutkan namanya ini akhirnya mendatangi lokasi jatuhnya meteor dan mulai menyelidikinya dengan sebatang kayu. Apa yang ia temukan di balik pecahan batu meteor adalah segumpalan zat seperti jeli yang tiba-tiba bergerak, menerjang lalu menempelkan diri pada tangan pak tua yang malang tersebut. Gelandangan tua itu lari ketakutan sambil kesakitan. Di tengah paniknya, ia bertemu dengan seorang remaja berandalan yang sedang memperbaiki motornya yang rusak. Namanya Brian Flagg, dan ia sangat terkejut saat melihat gelandangan tua itu tengah berusaha memotong tangannya sendiri dengan sebilah kampak. Saat Brian berusaha mencegahnya, pak tua itu kembali berlari histeris ke arah jalan, dan hampir ditabrak oleh sebuah mobil. Kebetulan mobil itu dikendarai salah satu teman sekolah Brian yang bernama Paul yang merupakan atlet sepak bola populer di sekolahnya. Paul sedang berkencan dengan Meg, seorang gadis pemandu sorak dari sekolah yang sama. Ketiga karakter stereotip ala film remaja Amerika 80-an ini akhirnya membawa lelaki tua yang malang itu ke rumah sakit.

Keadaan menjadi semakin buruk saat Paul akhirnya harus menyaksikan separuh tubuh gelandangan tua seakan mencair dan diserap oleh gumpalan jeli berwarna pink di atas ranjang pasien rumah sakit. Kini ukuran gumpalan tersebut sudah semakin besar. Namun ketika Paul berusaha untuk meminta bantuan, ia juga ikut dilahap oleh gumpalan tepat di depan mata Meg. Karakter “remaja idola” stereotip Amerika  80-an seperti Paul yang tampan, atletis, sopan, yang umumnya ideal untuk menjadi pahlawan dalam film remaja 80-an, justru mati secara mengenaskan di awal film. Setelah polisi datang dan mengevakuasi sisa-sisa jasad, dengan histeris Meg menceritakan semuanya pada kedua orang tua sekaligus sherif setempat. Tapi tentu saja tidak ada yang mempercayainya. Polisi malah curiga bahwa semua kematian ini ada hubungannya dengan Brian yang terkenal sebagai anak paling nakal di kota kecil itu. Brian segera ditangkap, tetapi kemudian dibebaskan karena polisi tidak memiliki bukti apapun sama sekali.

Sementara itu Meg merasa sendirian dan tertekan karena tidak ada satupun orang dewasa yang percaya dengan cerita Meg. Padahal ia adalah satu-satunya saksi mata saat Paul dilahap oleh monster Blob. Meg menyadari bahwa hanya ada satu orang di kota kecil tersebut yang bisa ia ajak bicara: Brian. Meg berhasil menemukan Brian di sebuah kedai setempat dan meminta bantuannya. Di luar dugaan Meg, Brian juga rupanya tidak percaya dengan cerita Meg. Tak butuh waktu lama, dengan mata kepalanya sendiri akhirnya Brian melihat bagaimana gumpalan yang ukurannya sudah semakin besar itu kembali beraksi melahap salah satu pegawai di dalam dapur kedai lewat lubang wastafel. Malam itu juga mereka mencari keberadaan sherif untuk melaporkan kejadian menyeramkan di kedai. Di tengah jalan Brian dan Meg tiba-tiba bertemu dengan sekelompok ilmuwan tentara yang berpakaian anti-kontaminasi lengkap, mengaku datang ke kota tersebut untuk membantu. Tapi tentu saja itu tidak benar. Bagaimana mungkin mereka tahu apa yang terjadi di kota kecil Arborville secepat itu? Datangnya para ilmuwan pemerintah yang ditemani pasukan bersenjata di waktu yang terlalu tepat tentu pantas dicurigai, dan Brian tahu betul mereka tidak bisa dipercaya. Brian dan Meg akhirnya menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan kota mereka sambil mengungkap kebenaran.

Film ini sebenarnya dibuka dengan cara yang relatif mirip dengan film The Blob pertama tahun 1958. Temanya pun masih sama klasiknya: bahwa orang tua tidak pernah mendengar, dan para remaja lah yang terpaksa harus mengambil tindakan untuk menyelamatkan dunia. Namun, ada banyak bagian dari cerita film ini yang dibuat sangat berbeda, dan ini yang menjadikannya lebih menarik. Perubahan paling signifikan dalam versi 1988 ada pada alur cerita dan latar belakang monster Blob itu sendiri. Kalau dalam film aslinya gumpalan pembunuh ini adalah murni alien yang jatuh ke bumi dalam meteorit, dalam versi remakenya monster blob menjadi sedikit lebih bersifat konspirasi. Monster ini adalah konsekuensi dari uji coba ilmiah gagal yang dilakukan oleh tentara dalam usaha membuat senjata biokimia dalam perang dingin. Ini adalah tema yang sangat relevan dan cukup umum dalam film-film horror Amerika tahun 80-an saat masyarakat Amerika dilanda ketidakpercayaan terhadap pemerintah, paranoia perang dingin, serta kecurigaan soal senjata rahasia pemusnah massal yang mungkin saja diam-diam sedang dikembangkan oleh Russia. Skenario di mana mendengarkan pihak berwenang (polisi, politikus, tentara) tidak akan berakhir dengan baik-baik saja akhirnya menjadi narasi umum. The Blob 1988 adalah salah satunya, yang lahir di era teori konspirasi di mana tidak ada satupun yang bisa dipercaya, dan hanya orang-orang yang melawan arus lah yang akan bertahan, seperti karakter Brian.

Satu lagi hal yang perlu dicatat, penulisan naskah dan perubahan cerita dalam The Blob 1988 ini adalah karya awal dari Frank Darabont, seorang penulis naskah / sutradara yang kemudian sangat harum namanya setelah ia menulis sekaligus menyutradarai adaptasi cerita-cerita Stephen King dengan sempurna, seperti The Shawshank Redemption (1994) serta The Green Mile (1999). Ia juga adalah executive producer 2 season pertama serial TV The Walking Dead. The Blob 1988  adalah karyanya yang kedua. Sama seperti sang sutradara Chuck Russel, Darabont memulai debut menulis naskah dalam A Nightmare on Elm Street 3: Dream Warriors (1987).

The Blob vesi remake memang film yang lebih baik dari film aslinya dalam hal kualitas. Ceritanya juga lebih memperhatikan detail kecil dan ada lebih banyak efek gore dan teror yang bisa dilihat. Sosok monster gumpalan blob dalam versi ini adalah karakter jahat yang mengesankan untuk sebuah film horror. Ia membunuh tanpa belas kasihan, tanpa motif dan tidak peduli dengan jenis kelamin dan usia targetnya. Bahkan anak-anak dalam film ini belum tentu aman. Dibandingkan dengan versi aslinya, The Blob 1988 adalah film yang jauh lebih berdarah-darah, gruesome, tetapi juga sangat fun untuk ditonton. Special effect yang sedang sangat berkembang di dekade 80an memungkinkan penonton bisa menyaksikan bagaimana wajah dan tubuh para korban saat dicerna oleh gumpalan raksasa yang menjijikkan ini. Faktor itu saja sudah cukup untuk menjadikan The Blob 1988 layak untuk ditonton, dan saya rasa setiap penggemar horor wajib menonton The Blob 1988 setidaknya sekali seumur hidup.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com