
THANKSGIVING
Sutradara: Eli Roth
USA (2023)
Review oleh Tremor
Delapan belas tahun yang lalu, atas kecintaan pada bioskop-bioskop yang sering memutar film-film eksploitasi murahan di tahun 70-80an (biasa disebut sebagai grindhouse), Robert Rodriguez dan Quentin Tarantino merilis sebuah proyek homage berjudul Grindhouse. Sesuai dengan konsep bioskop grindhouse yang sering memutar dua film sekaligus dengan harga satu tiket (double feature), proyek Grindhouse juga berisi dua film: Planet Terror buatan Rodriguez dan Death Proof buatan Tarantino, dilengkapi dengan beberapa trailer palsu / parodi buatan teman-teman mereka yang diputar di antara dua film layaknya pertunjukan grindhouse sungguhan. Karena mendapat antusiasme yang cukup tinggi dari para penonton Grindhouse, beberapa trailer palsu tersebut kemudian benar-benar dikembangkan menjadi film sungguhan, seperti Machete yang dirilis pada tahun 2010, dan Hobo with a Shotgun (2011). Butuh waktu selama 16 tahun hingga salah satu trailer palsu lain yang merupakan karya Eli Roth akhirnya benar-benar dibuat film utuh sungguhan, yaitu Thanksgiving. Nama Eli Roth sendiri sudah tidak asing dalam industri film horor sejak debut Cabin Fever (2003) yang meroketkan namanya, disusul dengan keberhasilan film keduanya, Hostel (2005). Dalam versi trailer palsunya yang berdurasi hampir 3 menit, Thanksgiving dengan sengaja dibuat seperti sebuah trailer murahan dan norak dari film slasher ultra-violence generik tahun 80-an, sebagai parodi film-film slasher bertema hari raya seperti Halloween, My Bloody Valentine, hingga Silent Night, Deadly Night. Namun dalam versi film sungguhannya, Roth menghilangkan seluruh gaya murahan serta vibe 80-an tersebut dan menjadikannya sebagai slasher modern. Dalam salah satu wawancaranya, Roth bercerita tentang perubahan gaya ini: anggap saja trailer palsu Thanksgiving adalah trailer dari film tahun 1980-an yang dirasa terlalu ofensif hingga sutradaranya menghilang, semua kopian film-nya dihancurkan, naskahnya dibakar, dan hanya bersisa trailernya saja yang beredar di forum-forum internet. Thanksgiving yang dibuat sekarang (2023) adalah versi penulisan baru, remake modern, dari film (fiktif) tersebut.”

Untuk memahami konteks film ini, kita perlu memahami sejarah perayaan thanksgiving terlebih dahulu. Thanksgiving adalah sebuah hari raya tahunan di daratan Amerika dan Kanada yang jatuh setiap hari Kamis ke-empat di bulan November. Hari raya ini lahir dari kawasan yang kini menjadi lokasi kota kecil Plymouth di Massachusetts, Amerika, di mana pada tahun 1620 sekelompok pemukim dari Inggris (disebut pilgrim, yang akan berkaitan dengan kostum yang digunakan oleh sang penjagal dalam film Thanksgiving) tiba untuk pertama kalinya menggunakan kapal laut dan membangun koloni Plymouth. Pada tahun 1621, para pendiri koloni yang disebut sebagai “Pilgrim Fathers” ini menginisiasi perayaan atas keberhasilan panen pertama mereka di tanah jajahan dengan cara berpesta selama tiga hari, yang juga dihadiri oleh para penduduk asli Amerika dari suku Wampanoag yang telah menandatangani perjanjian perdamaian. Hari raya Thanksgiving adalah hal yang sangat penting dan dirayakan secara serius oleh penduduk kota Plymouth hingga hari ini karena sangat erat kaitannya dengan mengenang sejarah dan identitas mereka sendiri.
Film ini mengambil set lokasi di Plymouth, kota di mana hari raya Thanksgiving lahir. Pada malam perayaan Thanksgiving, sebuah hypermarket bernama Right-Mart memutuskan untuk mengadakan sale besar-besaran Black Friday satu hari lebih awal dari seharusnya. Ratusan penduduk Plymouth yang antusias telah berkerumun mengantri dengan tidak sabar menunggu pintu Right-Mart dibuka. Di saat yang sama, sekelompok mahasiswa berhasil masuk lewat pintu belakang karena salah satu dari mereka, Jessica, adalah putri dari pemilik Right-Mart. Mengetahui hal tersebut, massa yang telah lama mengantri di luar tentu saja tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Karena gerbang tidak juga dibuka, akhirnya massa mendobrak paksa pintu kaca Right-Mart, berlarian berebut barang-barang, hingga terjadi kekacauan massal yang menewaskan beberapa penduduk dengan cara-cara mengerikan. Tanpa ada rasa empati, salah satu teman Jessica yang bernama Evan merekam semua kejadian tersebut dengan ponselnya, lalu mengunggahnya ke youtube. Satu tahun kemudian, seorang pembunuh bertopeng muncul dan mulai membunuh beberapa orang yang terlibat dalam kerusuhan Black Friday setahun sebelumnya secara brutal. Jessica dan teman-temannya menyadari bahwa mereka adalah target selanjutnya. Kini mereka harus mencari cara untuk membongkar siapa identitas sang pembunuh sebelum mereka dibantai satu persatu.

Para penggemar horor yang familiar dengan karya-karya horor Eli Roth tentu sudah bisa menduga kalau Thanksgiving akan dipenuhi dengan adegan gore. Apa yang membuat Thanksgiving terasa jauh lebih menyenangkan dibanding film-film Roth sebelumnya adalah karena adegan-adegan pembunuhan dalam film ini tidak saja penuh darah, tetapi juga dirancang dengan sangat kreatif hingga pada level komikal. Ini sengaja Roth lakukan sebagai bentuk penghormatannya pada film-film slasher di masa keemasannya (80-an) seperti seri Friday the 13th, seri Nightmare on Elm Street, Happy Birthday to Me (1981), dan My Bloody Valentine (1981) yang umumnya memiliki adegan pembunuhan ikonik yang tidak realistis menggunakan berbagai senjata apapun yang tersedia. Meskipun brutal dan sadis, namun sebagian besar adegan pembunuhannya terasa sangat menghibur karena Roth membuatnya tampak begitu berlebihan. Pilihan senjata yang digunakan oleh sang pembunuh juga cukup bervariasi, dari mulai mobil, kampak, hingga palu penumbuk daging. Saya pikir para penggemar slasher klasik dan gore tidak akan kecewa dengan kekreatifan Eli Roth dalam film ini.

Meskipun Thanksgiving adalah sebuah homage slasher 80-an, tapi Eli Roth juga memberi sentuhan slasher modern, yang dilengkapi dengan unsur misteri “whodunit” seperti Scream (1996) dan I Know What You Did Last Summer (1997). Sosok pembunuh dalam film ini juga cukup unik dan sangat kental dengan unsur sejarah thanksgiving. Ia menggunakan kostum salah satu pilgrim sekaligus gubernur Plymouth pertama: John Carver. Kostum ini terinspirasi dari lukisan John Carver karya pelukis Jean Leon Gerome Ferris, 1899, yang berjudul “Signing the Mayflower Compact 1620”. Karena John Carver adalah tokoh bersejarah di kota Plymouth, topeng replika wajah Carver memang dibagi-bagikan di antara penduduk menjelang perayaan thanksgiving. Jadi, dalam konteks film “whodunit”, cukup sulit untuk melacak siapa identitas sang pembunuh karena topeng yang ia gunakan begitu mudah didapat. Sebagai sebuah film slasher yang dibumbui unsur dark comedy serta komentar sosial tentang konsumerisme dan apatisme, saya pikir film ini cukup berhasil. Banyak kejanggalan plot serta kekurangan lain dalam film ini yang sangat bisa saya maafkan karena bagaimanapun juga saya merasa terhibur dengan Thanksgiving. Film ini jelas bukan untuk ditanggapi secara serius, jadi mungkin penontonnya tidak perlu terlalu memikirkan tentang ketidakrealistisan film ini, terutama dalam babak pengungkapannya. Bagi saya pribadi, Thanksgiving adalah film buatan Eli Roth yang paling menghibur dan fun, karena film ini setidaknya memiliki plot yang dipenuhi misteri, dan bukan hanya menampilkan senseless violence belaka. Pemilihan hari raya thanksgiving sebagai tema juga cukup menarik karena dari semua pilihan hari libur yang ada, rasanya cukup jarang ada film slasher bertema perayaan thanksgiving, menjadikan karya Roth ini sebagai satu-satunya film horor bertema Thanksgiving yang paling menonjol.

