MOVIE REVIEW: INCIDENT IN A GHOSTLAND a.k.a. GHOSTLAND (2018)

INCIDENT IN A GHOSTLAND a.k.a. GHOSTLAND
Sutradara:
Pascal Laugier
Canada / Prancis (2018)

Review oleh Tremor

Mungkin ada dari kalian yang belum pernah mendengar tentang film ini, tetapi saya yakin kalian pernah mendengar tentang film Martyrs (2008). Incident in a Ghostland, yang dalam judul aslinya berjudul Ghostland saja, adalah karya terbaru dari sutradara kelahiran Prancis, Pascal Laugier, yang dirilis tahun lalu, tepat 10 tahun setelah ia membuat Martyrs. Martyrs sendiri merupakan salah satu film horor yang original, cerdas, disturbing, shocking, dan cukup membekas dalam pikiran saya. Film tersebut benar-benar memukau dari awal sampai akhir. Walaupun tidak se-shocking Martyrs, film Incident in a Ghostland bisa jadi sama-sama disturbing.

Sama seperti MARTYRS, film Incident in a Ghostland adalah film yang sebaiknya ditonton dengan tanpa pengetahuan apapun sebelumnya. Semakin sedikit yang kalian ketahui tentang film ini, akan semakin maksimal pula sensasinya. Saya tidak menyarankan kalian untuk menonton trailer-nya, membaca review terlalu jauh, apalagi membaca sinopsis komplitnya, sebelum kalian menontonnya langsung. Jadi demi menyisakan sensasi Ghostland bagi kalian yang belum menonton, saya tidak akan menulis terlalu panjang kali ini. Saya pribadi cukup beruntung karena menontonnya secara buta, dan saya cukup menikmati setiap kejutan serta perubahan arah rollercoaster berjudul Ghostland ini. Intensitas film ini serasa tidak pernah berhenti dari sejak awal sampai akhir. Sangat menegangkan, tetapi juga memilukan. Walaupun menjadi cukup sulit bagi saya untuk menulis review Ghostland yang bebas dari spoiler, tapi akan saya coba.

Ghostland dibuka dengan adegan umum yang bisa kalian temui di banyak sekali film horror: seorang ibu, Pauline, beserta kedua putrinya, Beth dan Vera, sedang dalam perjalanan. Mereka baru saja mendapat warisan dari mendiang kakak Pauline berupa sebuah rumah tua di daerah pedesaan. Walapun Vera yang sudah remaja tidak terlalu antusias, tetapi Pauline ingin mereka semua pindah ke rumah warisan tersebut. Kebalikannya dengan kakaknya, si bungsu Beth justru tampak senang-senang saja untuk pindah. Beth dan Vera digambarkan sebagai kakak beradik dengan karakter yang sangat berbeda satu sama lain. Vera selalu mencemooh adiknya sebagai seorang yang aneh, dan Beth yang lebih sering dibela oleh ibunya, selalu mengalah. Salah satu elemen penting yang perlu diketahui adalah Beth senang menulis fiksi horror, dan ia adalah penggemar berat H.P. Lovecraft. Ibunya sangat mendukung hobi Beth tersebut. Sesampainya di rumah baru mereka, Beth dan Vera menyadari bahwa mendiang bibi mereka adalah orang yang jauh lebih “aneh” daripada Beth. Rumah itu dipenuhi dengan koleksi barang antik milik bibinya, termasuk di dalamnya adalah ratusan boneka antik menyeramkan yang akan menjadi bumbu dalam film ini kemudian. Walaupun dibuka dengan plot yang terdengar klise, tapi saya mengakui bahwa saya pun tertipu. Plot film ini sama sekali tidak klise.

Malam pertama mereka tinggal di rumah tersebut rupanya adalah malam terburuk dalam hidup mereka. Mimpi buruk ini dimulai saat dua orang asing (yang sudah membuntuti mereka sejak masih di jalan raya) datang menyelinap ke dalam rumah dan menyerang mereka bertiga. Tamu tak diundang ini bukanlah perampok, melainkan pemerkosa sekaligus pelaku kekerasan yang mengerikan. Penonton pun pasti ikut berharap kalau serangan ini hanya terjadi dalam mimpi. Sayangnya, ini adalah serangan yang nyata. Singkat cerita, berkat keberanian sang ibu akhirnya keluarga kecil ini berhasil bertahan hidup, walaupun Vera sempat diperkosa dan tubuh sang ibu dipenuhi dengan luka tusuk. Si bungsu Beth yang tak berdaya harus menyaksikan semua itu. Mereka memang bertahan hidup, tapi bukan berarti tidak ada luka psikologis yang membekas pada diri Beth dan Vera. Film Ghostland pun dimulai di sini.

Serangan mengerikan pada malam tersebut membuat seluruh anggota keluarga terluka secara batin. Tetapi Beth berhasil meninggalkan rumah, pindah ke kota, berkeluarga dan menjadi seorang penulis fiksi horror terkenal seperti yang selalu dia impikan. Salah satu buku terbarunya, berjudul “Incident in a Ghostland” merupakan kisah heroik yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Beth dan keluarganya yang berhasil bertahan hidup dari serangan mengerikan dua monster psikopat. Dalam waktu singkat buku tersebut berhasil terjual dengan angka yang fantastis. Di balik kesuksesannya, sebenarnya Beth masih terus dihantui oleh kenangan buruk seputar malam penyerangan mengerikan itu. Namun ia terus berusaha untuk bisa menjalani kehidupan barunya sambil ditemani memori buruk dan traumanya. Tidak halnya dengan Vera, kakaknya yang masih tinggal bersama ibunya di rumah yang sama tempat penyerangan tersebut pernah terjadi. Suatu hari, Beth mendapat telepon dari Vera yang histeris dan meminta tolong. Panggilan telepon terputus, dan Beth tak bisa menghubungi ibunya. Tentu Beth sangat khawatir. Ia pun memutuskan pulang untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Sesampainya di sana, Beth malah menemukan bahwa kengerian pada malam penyerangan ternyata belum berakhir.

Walaupun Ghostland sama sekali tidak vulgar dan bukan film gore banjir darah, tapi rasanya film ini akan tetap sulit untuk dinikmati oleh sebagian orang. “Sulit untuk dinikmati”, karena film ini memiliki plot disturbing yang mungkin bisa menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penonton. Pada kenyataannya, film yang tidak gory ini sangatlah violent. Ghostland jelas bukan film yang bisa ditonton oleh mereka yang mudah tersinggung atau mudah merasa pilu saat melihat adegan kekerasan, terutama kekerasan terhadap remaja perempuan. Beberapa orang mengkritik unsur kekerasan dan kebrutalan yang ada dalam film ini. Tapi pada intinya Ghostland adalah sebuah bentuk eksplorasi seputar pengalaman traumatis dan dampak psikologisnya. Jadi saya rasa kekerasan yang ditampilkan memang cukup kontekstual dan tidak berlebihan. Incident in a Ghostland adalah horor / thriller dengan unsur psikologis yang dikemas secara cerdas dan sangat menyegarkan dalam genre horor. Bagi kalian penggemar film-film semacam Last House on the Left (1972 / 2009), Haute Tension (2003), dan tentu saja Martyrs (2008), saya rasa kalian akan menikmati film ini.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: [email protected]