MOVIE REVIEW: FREWAKA (2024)

FREWAKA
Sutradara: Aislinn Clarke
Irlandia (2024)

Review oleh Tremor

Enam tahun sejak debut film fiturnya yang berjudul The Devil’s Doorway (2018), pembuat film asal Irlandia, Aislinn Clarke, kembali lewat sebuah karya psychological / folk horor dengan judul internasional Frewaka, diambil dari bahasa Irlandia “Fréamhacha” yang berarti “akar”. Film yang Clarke tulis dan sutradarai ini adalah film horor atmosferik bertempo lambat yang menggunakan cerita rakyat, mitologi, tradisi, serta paganisme Celtic Irlandia sebagai elemen utamanya. Clarke menggunakan elemen tersebut bukan sebagai gimmick belaka tetapi juga sebagai metafora untuk mengeksplorasi hal-hal yang jauh lebih mendalam, dari mulai trauma antar generasi, kesehatan mental, duka, hingga perenungan seputar sejarah sosial Irlandia tentang perlakuan buruk terhadap otonomi perempuan di masa lalu Irlandia. Frewaka jelas bukan satu-satunya film horor yang datang dari Irlandia. Sebelumnya sudah ada berbagai film horor Irlandia dari mulai The Hallow (2015), The Hole In The Ground (2019), Caveat (2020), You Are Not My Mother (2021), hingga All You Need is Death (2023). Namun, Frewaka adalah film horor pertama yang dalam dialog-dialognya hampir sepenuhnya berbahasa asli Irlandia celtic, yaitu bahasa Gaeilge.

Di tengah proses berduka setelah kematian mendadak ibunya, seorang perawat bernama Shoo dikirim ke sebuah desa terpencil untuk menjaga seorang perempuan lanjut usia bernama Peig yang menderita agorafobia. Peig yang sangat percaya dengan berbagai macam tahayul ini didiagnosa delusional dan ia selalu mencurigai semua orang asing serta penduduk desa. Setelah Peig membangun kepercayaannya pada Shoo, Peig mulai bisa lebih terbuka dan mengungkapkan bahwa ia pernah diculik oleh entitas jahat yang disebut Na Sídhe di malam pernikahannya dulu. Setelah Shoo menghabiskan lebih banyak waktu bersama Peig, Shoo mulai terpengaruh oleh paranoia dan tahayul Peig, hingga ia menemukan kegelapan dari masa lalunya sendiri dan harus menghadapi traumanya.

Irlandia memang kaya dengan folklore yang menyeramkan, terutama seputar peri, elf, serta makhluk magis penghuni hutan lainnya yang potensial untuk dijadikan sumber inspirasi. Perlu dicatat bahwa dalam beberapa cerita rakyat Irlandia, peri digambarkan sebagai entitas jahat yang hampir setara dengan iblis. Penulis/sutradara Aislinn Clarke sendiri dibesarkan oleh cerita-cerita semacam ini sejak kecil, dan cerita tentang Na Sídhe adalah salah satu yang menjadi sumber ketakutan terbesarnya ketika ia masih kecil. Clarke dengan sengaja memasukan Na Sídhe dalam film Frewaka tanpa menggunakan referensi dari buku-buku cerita rakyat Irlandia. Sebaliknya, ia mengandalkan ingatannya karena cerita-cerita rakyat Irlandia seringkali diturunkan lewat mulut ke mulut dari generasi ke generasi, dan bagi Clarke akan selalu ada sentuhan khas dari pencerita yang berbeda-beda tentang satu kisah yang sama. Demikian juga kisah Na Sídhe versi Clarke.

Secara keseluruhan, Frewaka adalah sebuah film horor yang juga memiliki sisi drama tentang ikatan antara dua perempuan yang bukan hanya datang dari generasi berbeda, tetapi juga karakteristik yang berlawanan. Jadi, pada beberapa bagian Frewaka juga bekerja sebagai studi karakter seputar Shoo dan Peig. Meskipun kedua karakter ini berbeda satu sama lain, tapi seiring waktu keduanya menemukan beberapa kesamaan, di antaranya adalah yang kemudian menjadi fokus utama film ini: trauma masa lalu.

Selain unsur kultural paganisme celtic dan cerita rakyat khas Irlandia, kekuatan lain dari Frewaka juga ada pada desain suara serta sinematografinya yang terlihat menakjubkan. Sepertinya hampir setiap frame film ini benar-benar dirancang sedemikan rupa dengan penuh ketelitian. Sutradara Aislinn Clarke juga cukup cekatan untuk menciptakan atmosfer yang sesuai dengan kisah yang ingin ia ceritakan. Semuanya diperkuat dengan berbagai simbolisme dan metafora yang sangat kental tentang trauma dan masa lalu yang gelap. Melihat daun pintu berwarna merah dengan banyak jimat tergantung saja sudah cukup untuk membuat penonton mewaspadai bahwa ada ancaman di balik pintu tersebut. Namun, sebagai film horor, Frewaka rasanya lebih banyak condong pada horor psikologis dibandingkan horor supranatural. Jadi, mereka yang berharap melihat wujud Na Sídhe sebagai penampakan monster, mungkin akan kecewa. Frewaka juga bisa jadi membosankan bagi mereka yang tidak terlalu menyukai film horor bertempo lambat dan banyak berfokus pada pengembangan karakter. Tapi saya pikir film ini akan mendapat lebih banyak apresiasi yang layak dari mereka yang menyukai film-film horor suram yang menggunakan dasar tahayul serta folklore. Saya pribadi cukup menghargai semua usaha Clarke dalam film ini, meskipun Frewaka bukanlah jenis film yang akan saya tonton lagi di kemudian hari.