MOVIE REVIEW: DEAD & BURIED (1981)

DEAD & BURIED
Sutradara:
Gary Sherman
USA (1981)

Review oleh Tremor

Tahun 1981 adalah salah tahun dimana ada banyak sekali film horror fenomenal dirilis. Dari mulai The Evil Dead, The Howling, Scanners, Possession, My Bloody Valentine, The Beyond hingga The Burning, semua dirilis pada 1981. Dead & Buried adalah satu dari sekian banyak film horror klasik yang sedikit terlupakan karena tertutup bayang-bayang kepopuleran film horror lainnya yang dirilis pada tahun yang sama. Sebenarnya Dead & Buried layak untuk diperhitungkan karena cerita yang original, ditambah dengan beberapa poin historis-nya. Apa yang saya maksud poin historis adalah, Dead & Burid bagaikan sebuah “gerbang” bagi beberapa sineas horror memulai karir sebelum mereka populer.

Naskah Dead & Buried ditulis oleh duo Dan O’Bannon dan Ronald Shusett yang cukup dikenal oleh komunitas film horror karena mereka adalah penulis film Alien (1979). Walaupun Dead & Buried baru dirilis pada tahun 1981, tetapi naskahnya sudah mereka tulis jauh sebelum Alien. Ini bukan pertama kalinya O’Bannon dan Shusett berkolaborasi menulis film. Selain Alien, mereka juga menulis sekuel Aliens (1986) serta adaptasi Total Recall (1990). Dan O’Bannon sendiri adalah teman sekelas John Carpenter di masa kuliah. Ia memulai karirnya dengan menulis naskah untuk film layar lebar pertama Carpenter yang berjudul Dark Star (1974). Pada tahun 1985, O’Bannon juga pernah menulis sekaligus menyutradarai salah satu film zombie favorit saya, Return of the Living Dead (1985).

Selain O’Bannon dan Shusett, Dead & Buried juga menampilkan karya awal dari seniman makeup dan special effect, Stan Winston yang legendaris. Mungkin kalian pernah mendengar namanya. Beberapa tahun setelah terlibat dalam Dead & Buried, karir Stan Winston semakin meroket lewat karya-karyanya dalam film box office seperti Aliens (1986), Predator (1987), Edward Scissorhands (1990), Terminator 2: Judgment Day (1991), Jurassic Park (1993), Lake Placid (1999), hingga Constantine (2005). Selain itu Dead & Buried juga menampilkan aktor Robert Englund muda, dimana ia memerankan salah satu karakter minor jauh sebelum mendapat peran karakter ikonik Freddy Krueger dalam A Nightmare on Elm Street (1984).

Cerita dalam Dead & Buried berlokasi di sebuah desa kecil bernama Potter’s Bluff yang berada di daerah pesisir Amerika. Walaupun Potter’s Bluff bukan destinasi wisata, tapi daerah ini sering disinggahi oleh para turis yang hendak bepergian menuju tujuan lain. Film ini dibuka dengan seorang fotografer yang sedang berada di Potter’s Bluff. Ia memarkirkan mobilnya di pesisir laut untuk mengambil beberapa foto pemandangan di sana. Tiba-tiba datang seorang perempuan muda yang menggodanya. Saat fotografer tersebut (yang dipanggil dengan nama Freddy) terbuai rayuan, tiba-tiba muncul segerombol penduduk desa yang mulai memukulinya tanpa alasan. Mereka lalu mengikat Freddy pada sebuah tiang menggunakan jaring nelayan, menyiramkan bensin pada tubuhnya dan membakarnya hidup-hidup. Apa yang sangat janggal (sekaligus menambah sisi seram) dalam adegan ini adalah semua penduduk desa mengeluarkan kamera mereka dan mengambil gambar ketika Freddy yang malang menjerit-jerit karena terbakar. Mereka mendokumentasikan proses penyiksaan tersebut. Gerombolan ini lalu meletakkan tubuh Freddy dalam mobilnya sendiri dan membuatnya tampak seperti sebuah kecelakaan.

Kemudian kita diperkenalkan dengan karakter utama kita, sheriff di Potter’s Bluff yang bernama Dan Gillis. Ia langsung mendatangi TKP setelah mendapat kabar tentang ditemukannya sebuah mobil asing yang mengalami kecelakaan dengan mayat penuh luka bakar di dalamnya. Gillis meminta seorang pengurus pemakaman setempat (bernama William G. Dobbs) untuk datang dan melihat penyebab kematian korban “kecelakaan” tersebut. Saat Gillis dan Dobbs sedang mempelajarinya, tiba-tiba mayat fotografer yang terluka parah itu berteriak. Walaupun wujud fisiknya sudah rusak parah, rupanya ia belum mati. Fotografer malang itu dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Ketika sherif Gillis sedang mendiskusikan kasus ini dengan dokter di rumah sakit, diam-diam seorang perawat (perempuan yang sama yang menggoda Freddy di pantai) menyelinap dan membunuh Freddy dengan cara yang tidak menyenangkan. Jelas ada yang tidak beres dengan penduduk Potter’s Bluff.

Sejak saat itu, terjadi lebih banyak lagi pembunuhan terhadap para pendatang di Potter’s Bluff. Sheriff Gillis mulai menyadari bahwa mereka yang tersesat, mencari petunjuk arah, mengalami kerusakan mobil, atau bahkan mereka yang dengan sengaja berkunjung ke Potter’s Bluff, selalu mati dengan cara mengenaskan. Investigasi Gillis tidak membuahkan banyak hasil, dan ia mulai tertekan memikirkan bagaimana mungkin ada pembunuh berkeliaran di desa kecilnya, sebuah komunitas dimana semua penduduk saling mengenal satu sama lain.

Kembali pada karakter pengurus pemakaman, Dobbs adalah seorang tua yang menganggap dirinya sebagai seorang seniman. Apa yang ia kerjakan di rumah pemakaman adalah merekonstruksi wajah mayat-mayat agar tampak hidup seperti sediakala. Dobbs dengan percaya diri menganggap semua mayat yang ia rekonstruksi sebagai karya seninya. Dobbs juga merekonstruksi mayat-mayat para korban pembunuhan misterius yang belakangan terjadi. Walaupun wajah salah satu mayat sudah hancur berantakan akibat dihajar dmenggunakan batu besar, Dobbs sanggup mengembalikan wajahnya tanpa cacat sedikitpun. Ketika sheriff Gillis mendatanginya di ruang mayat tempat Dobbs bekerja, Gillis (dan kita) akan mendengarkan narasi tentang berapa besar keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat mayat siap untuk dikuburkan, dan betapa berharganya bakat Dobbs untuk bisnis penguburan ini. Perlahan, mungkin penonton akan ikut merasakan bahwa ada yang salah juga dengan Dobbs.

Keganjilan di desa Potter’s Bluff semakin terasa ketika tiba-tiba para korban pembunuhan di desa Potter’s Bluff mulai bermunculan kembali di desa. Seakan tidak pernah ada pembunuhan terjadi, mereka berkeliaran dengan normal dan sehat, bahkan beberapa hidup di sana layaknya penduduk desa biasa. Dalam satu adegan di bar, kita sebagai penonton akan dikejutkan dengan kemunculan kembali Freddy (korban pertama dalam film ini). Ia tampak sangat hidup dan bekerja sebagai petugas pompa bensin layaknya seorang penduduk biasa. Perlu dicatat, wajah Freddy sudah hancur saat ia ditemukan terbakar di dalam mobil, dan sheriff Gillis tidak pernah tahu wajah aslinya. Gillis terus melakukan investigasi sendirian, hingga ia mulai mencurigai penduduk desa, termasuk istrinya sendiri. Plot film ini membawa penonton ikut merasakan rasa bingung yang dihadapi oleh Sheriff Gillis. Mungkin kita akan berpikir bahwa kita mulai bisa menebak apa yang sedang terjadi, tetapi kemudian kita diberikan lebih banyak kejutan dan misteri. Dan sama seperti Sheriff Gillis, kita akan terus bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di Potter’s Bluff.

Menonton Dead & Buried rasanya seperti menonton salah satu episode Twilight Zone yang dikembangkan menjadi film panjang dan dibubuhi dengan gore. Tema utamanya adalah horor, terror dan paranoia, dengan pengaruh kuat dari cerita-cerita pulp komik horror / sci-fi yang sangat populer pada tahun 50an. Atmosfer film ini lumayan menegangkan dan penuh misteri seperti menonton sebuah film detektif. Dan apa yang penonton horror era 80-an sukai dari sebuah film horror adalah scene kematian yang kreatif. Menciptakan scene kematian dengan cara seabsurd dan seimajinatif mungkin menjadi seperti sebuah trend dalam industri film horror 80-an, terutama dalam tradisi film slasher. Walaupun Dead & Buried bukan film slasher, tapi film ini tetap menarik para peminat horror karena memiliki scene kematian yang bervariatif dan cukup kreatif untuk jamannya, dari mulai dibakar hidup-hidup, kepala yang dihancurkan, penikaman, hingga suntikan cairan asam pada wajah. Walaupun penggunaan special effect dan makeup yang dikerjakan oleh Stan Winston masih tampak sangat tradisional, tetapi semua adegan kematian tetap fun untuk ditonton. Karya Winston yang paling saya suka dari film ini adalah saat Dobbs merekonstruksi salah satu korban pembunuhan. Kita diperlihatkan bagaimana ia bekerja selapis demi selapis, dari mulai menguliti wajah mayat, merekayasa ulang seluruh permukaannya, hingga memasukkan bola mata palsu ke dalam kantung mata yang kosong.

Pada dasarnya, film ini jelas memiliki elemen minor berupa zombie / mayat hidup di dalamnya. Tapi jangan bayangkan sosok zombie busuk ala George Romero atau serial The Walking Dead. Para mayat hidup ini tidak tampak terluka sama sekali. Mereka tampak baik-baik saja. Jadi jangan harap kalian akan melihat zombie yang mengejar dan memangsa manusia. “Zombie” atau mayat hidup dalam Dead & Buried adalah contoh zombie klasik yang original, dimana mereka yang sudah mati bisa dihidupkan kembali lewat praktek voodoo dan black magic, serta bagaimana semua mayat hidup ini berada di bawah kendali penuh penciptanya.

Sayang sekali, film ini tidak pernah memberikan penjelasan mengenai mengapa penduduk desa mendokumentasikan semua penyiksaan dan penyerangan yang mereka lakukan pada para korbannya. Selain itu, ending film ini cukup menjadi masalah bagi saya. Ide “twist” di akhir film Dead & Buried seakan-akan baru ditulis pada menit-menit terakhir tanpa benar-benar dipikirkan dan dibuat hanya sebagai nilai kejutan semata, menjadikan penutup film menjadi tidak masuk akal dengan keseluruhan cerita. Tapi di luar itu, saya pribadi cukup menikmati keseluruhan film ini karena idenya yang cukup original, lengkap dengan sensasi misteri, penuh tanda tanya, absurditas dan atmosfer ala The Twilight Zone-nya. Film ini wajib ditonton bagi kalian yang tertarik dan ingin menambah wawasan horror 80-an, sebuah harta karun yang tertimbun bayang-bayang film horror populer pada jamannnya.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com