fbpx

MOVIE REVIEW: CENSOR (2021)

CENSOR
Sutradara: Prano Bailey-Bond
UK (2021)

Review oleh Tremor

Censor adalah sebuah film debut yang mengagumkan dari sutradara kelahiran Welsh (UK) yang bernama Prano Baily-Bond. Berlatarkan pada masa ketika film-film horror ekstrim menyebabkan kecemasan massal di Inggris, film ini melakukan pekerjaan yang baik sebagai homage bagi semua film “video nasty”, sebuah istilah yang akan sy jelaskan di bawah. Dengan kekuatan penggabungan psychological horror, nostalgia, kisah yang unik, serta penampilan fantastis dari cast karakter utamanya, saya sama sekali tidak keberatan kalau Censor masuk dalam daftar film horor indie terbaik di tahun 2021. Baily-Bond membuat debut yang fantastis dan saya tidak sabar untuk melihat lebih banyak lagi karyanya dalam genre horror.

Saya rasa fenomena Video Nasty memang perlu diketahui oleh para penonton film Censor, karena film ini berlatarkan pada fenomena dan masa tersebut. Tahun 1979 menandakan revolusi besar dalam industri film lewat lahirnya format home video. Dengan format baru ini, siapapun bisa menonton film pilihan mereka di rumah masing-masing, kapanpun mereka mau. Namun karena format home video sangat mudah diakses oleh siapapun, pada tahun 1980 muncul kepanikan moral di Inggris terhadap film horror sadis yang banyak beredar secara bebas. Kepanikan ini bermula dari kampanye-kampanye moral yang dilakukan oleh seorang aktivis konservatif bernama Mary Whitehouse bersama kelompok aktivis media: National Viewers’ and Listeners’ Association (NVALA). Whitehouse dan kelompoknya percaya kalau film-film penuh kekerasan bisa mempengaruhi orang-orang untuk menjadi jahat. Mereka kemudian mempopulerkan istilah Video Nasty, sebuah label yang merujuk pada film-film horor yang dianggap terlalu sadis untuk didistribusikan bagi masyarakat Inggris. Karena tekanan NVALA beserta kelompok-kelompok agama, badan sensor film Inggris akhirnya melakukan penyensoran besar-besaran pada banyak sekali film horror, menghilangkan semua adegan sadis dan vulgar, bahkan hingga melarang peredaran beberapa film yang dianggap terlampau sadis. Film-film inilah yang kemudian mendapat gelar legendaris Video Nasty.

Film Censor sendiri berfokus pada seorang petugas sensor yang bernama Enid. Dalam pekerjaannya, tugas Enid setiap harinya adalah menonton film-film horror, meninjau, dan memutuskan adegan mana saja yang harus dibuang dari sebuah film, atau bahkan melarangnya beredar sama sekali. Di sepanjang film kita bisa melihat kalau kebanyakan rekan kerja Enid tidak menganggap pekerjaan penyensoran ini terlalu serius. Sebaliknya dengan Enid, ia menjalankan pekerjaan ini bagaikan perang suci melawan kejahatan. Sama seperti Mary Whitehouse, Enid sangat percaya pada pentingnya “menjaga masyarakat Inggris tetap aman” dan “menyelamatkan moral bangsa” dengan cara membuang semua adegan eksplisit dari film-film horror. Hampir setiap malam Enid menenggelamkan dirinya menonton dan memotong-motong film-film sadis dalam jam kerja yang panjang hingga larut. Ia seperti tidak memiliki hidupnya sendiri selain untuk bekerja. Tetapi kita bisa merasakan kalau Enid sebenarnya memiliki motivasi yang jauh lebih personal sejak awal film. Akhirnya kisah Enid mulai terkuak sedikit demi sedikit.

Rupanya pekerjaan ini bagaikan distraksi bagi Enid agar ia tidak terhanyut dalam trauma masa lalu, rasa kehilangan, dan perasaan bersalah. Saat masih kecil, Enid kehilangan saudara perempuannya, Nina. Mereka berdua sedang bermain bersama di dalam hutan saat Nina menghilang begitu saja. Tak seorangpun yang tahu apa yang terjadi pada Nina. Walaupun jelas ia diculik, tetapi kepastian soal nasibnya tidak pernah benar-benar diketahui hingga sekarang. Karena ketidakpastian ini, Enid dihantui perasaan bersalah hingga ia dewasa, karena ia seharusnya mengawasi adiknya malam itu. Itulah mengapa Enid begitu berdedikasi memotong semua adegan kekerasan dalam film-film, karena ia percaya kalau penculikan Nina secara tidak langsung merupakan dampak dari rusaknya moralitas manusia yang dipengaruhi oleh tontonan-tontonan penuh kekerasan. Orang tua Enid kini menyatakan bahwa Nina sudah meninggal. Mereka sepakat untuk membuat sertifikat kematian Nina agar mereka bisa menghabiskan masa tuanya dengan lebih tenang tanpa perlu dihantui ketidakpastian. Tapi Enid tidak sepakat. Ia yakin selama mayat Nina belum ditemukan, ada harapan kalau adiknya masih hidup. Hingga akhirnya suatu hari, Enid menonton sebuah film yang memiliki adegan sangat mirip dengan kejadian hilangnya Nina. Ini memicu semua kenangan buruk dan perasaan bersalahnya. Enid pun mulai yakin kalau sutradara misterius pembuat film tersebut mengetahui sesuatu tentang hilangnya Nina. Enid mulai mencari lebih banyak film buatan sutradara yang sama, hingga akhirnya ia mendapatkan sebuah kaset VHS ilegal dengan cover wajah perempuan yang mirip sekali dengan Nina. Ia yakin sekali kalau perempuan pada cover VHS itu adalah Nina yang kini sudah dewasa dan Enid pun semakin terobsesi untuk menyelidiki dugaannya tersebut. Namun semakin dalam Enid menelusuri, semakin ia terjerumus ke dalam kegilaan, hingga batas antara fantasi dan kenyataan pun menjadi semakin kabur.

Salah satu hal yang sangat saya nikmati dari film ini adalah estetika visual dan audionya. Gaya visual sutradara Prano Bailey-Bond layaknya bentuk penghormatan bagi estetika horor tahun 1980-an, dan saya sangat menikmati setiap pilihan gayanya. Visualnya cukup memikat dengan banyak penggunaan tone warna khas, yang sesekali memasuki wilayah warna giallo. Sinematografi dan score yang efektif menciptakan suasana yang sangat mendukung untuk mendorong para penonton mulai mempertanyakan kewarasan Enid. Yang paling saya suka adalah saat film ini (tanpa benar-benar kita sadari) secara perlahan mengubah ukuran aspect ratio sinematiknya menjelang babak terakhir. Pengubahan aspect ratio ini menambah nuansa ala home video 80-an yang sangat keren, dan secara tak langsung menggambarkan kalau kisah Enid kemudian menjadi video nasty-nya sendiri. Lokasi kabin dalam hutan di malam hari, suasana mencekam berkabut, aspect ratio, scoring yang tepat, ditambah dengan pencahayaan penuh warna mencolok dalam babak terakhir film ini seakan merupakan bentuk penghormatan bagi film-film penting dari era Video Nasty seperti The Last House on the Left (1972), The Evil Dead (1981), hingga Tenebrae (1982).

Censor adalah sebuah kisah tentang obsesi, rasa kehilangan, dan trauma, sekaligus studi karakter yang menarik. Meskipun saya sangat menikmati film Censor, jujur hati kecil saya masih berharap kalau film tentang video nasty seharusnya jauh lebih brutal dari ini. Tapi mungkin memang bukan itu yang diinginkan oleh Prano Bailey-Bond. Censor adalah film brilian yang mungkin tidak akan cocok dengan selera semua orang. Namun kalau kalian menyukai horor psikologis dengan alur lambat, dan tertarik dengan periode Video Nasty, karya Prano Bailey-Bond ini jelas harus masuk ke dalam daftar film yang perlu ditonton.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com