MOVIE REVIEW: AUDITION (1999)

Audition / Ôdishon
Sutradara: Takashi Miike
Jepang (1999)

Review oleh Tremor

Takashi Miike adalah salah satu sutradara Jepang yang hari ini telah dianggap sebagai pembuat film yang cukup berpengaruh dan ikonik dalam perfilman internasional. Bagi mereka yang tidak familiar dengan namanya, mungkin setidaknya pernah mendengar beberapa karyanya seperti Ichi the Killer (2001), Visitor Q (2001), Gozu (2003), One Missed Call (2003), Imprint (2006), Crows Zero (2007), hingga 13 Assassins (2010). Sebenarnya Miike sudah mulai membuat film sejak awal tahun 90-an di mana kebanyakan karya awal-awalnya dirilis langsung ke media home-video sebelum akhirnya ia beralih ke film layar lebar. Meskipun bukan sutradara pendatang baru, status cult Takashi Miike bisa dibilang baru dimulai dari karyanya yang paling terkenal dan membawanya ke dunia internasional, yaitu sebuah film horor psikologis berjudul Audition yang dirilis pada tahun 1999. Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Ryû Murakami yang naskahnya ditulis oleh Daisuke Tengan. Miike mungkin adalah sutradara paling produktif di Jepang, dengan genre yang cukup bervariatif dari mulai action, gangster, horror, hingga film fantasi untuk anak dan remaja. Bahkan kalau kita hanya membicarakan genre horor, karya-karya Miike juga cukup bervariatif, dari mulai yang paling mainstream dan mengikuti pasar J-Horror seperti One Missed Call (2003), hingga yang paling kontroversial karena memiliki tema yang dianggap melanggar tabu seperti Imprint (2006). Meskipun Audition sendiri tidak se-ekstrim Imprint, tetapi film ini tetap mendapat respon yang beragam dari para penontonnya, dari mulai mereka yang terpesona, dan juga yang merasa shock karena klimaksnya yang cukup kejam.

Audition dibuka sebagai sebuah film drama tentang kehilangan. Seorang pria kelas menengah yang mapan bernama Aoyama baru saja kehilangan istrinya yang meninggal dunia karena sakit keras. Sejak itu, ia menjadi duda dan membesarkan putranya seorang diri. Beberapa tahun kemudian, anak Aoyama yang kini telah remaja meyakinkan ayahnya bahwa mungkin sudah saatnya Aoyama mencari pasangan baru sebagai teman hidupnya. Tak bisa dipungkiri, Aoyama memang merasa kesepian karena belum pernah menjalin hubungan baru sejak istrinya meninggal. Saat itu Aoyama bekerja sebagai seorang produser televisi. Rekan kerja terdekatnya yang juga berprofesi sebagai produser mengusulkan sebuah ide yang tidak etis: mengadakan audisi palsu dengan dalih mencari aktris untuk program TV, yang sebenarnya hanyalah alasan sebagai kesempatan Aoyama untuk mencari calon pasangan baru. Dari puluhan perempuan yang mengikuti audisi, Aoyama jatuh hati hanya pada satu perempuan muda bergaun putih yang pendiam dan misterius bernama Asami. Setelah akhirnya beberapa kali berkencan, Asami tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Ini membuat Aoyama terpukul karena ia begitu menyukai Asami dan tak bisa berhenti memikirkannya. Kegelisahan mendorong Aoyama untuk mencari Asami, hingga akhirnya kisah gelap Asami mulai terungkap dan sudah terlalu terlambat bagi Aoyama untuk menyelamatkan diri.

Lewat alur cerita yang cukup lambat, Miike bisa membangun cerita dalam Audition dengan cukup baik lewat penelusuran psikologis ke dalam tema-tema seputar kerentanan penuaan, kesepian, warisan trauma masa kecil, hingga kekerasan tersembunyi di balik masyarakat yang terlihat santun. Seperti apa yang pernah dilakukan oleh sutradara Kiyoshi Kurosawa lewat film Cure (1997) dan Pulse (2001), setengah durasi awal film Audition seakan menjadi refleksi tentang kesepiannya orang-orang di Jepang. Karena film ini diceritakan dari sudut pandang Aoyama yang kesepian, penonton bisa jadi berpikir bahwa Aoyama layak mendapat simpati atas keinginannya untuk membangun hubungan baru. Namun apa yang ia lakukan tetaplah tidak etis, karena rencana murahan seperti mengadakan audisi palsu seakan hanya menjadikan perempuan sebagai objek. Di sisi lain, Asami juga sama-sama kesepian, dan ia memegang janji kesetiaan dan cinta dengan cukup serius karena trauma masa kecil yang membentuk dirinya.

Kalau dilihat secara keseluruhan, pada dasarnya Audition adalah sebuah film balas dendam yang dibalut dengan drama. Setelah penonton mengetahui latar belakang dan masa kecil Asami yang sangat gelap, kita bisa memahami apa yang mendorong Asami melakukan aksi-aksi brutalnya. Kekejaman Asami sendiri berakar dari pelecehan dan perilaku buruk yang ia alami selama bertahun-tahun. Sebagai korban pelecehan dan eksploitasi dari mereka yang seharusnya mencintainya di masa kecilnya, cara Asami mengasosiasikan cinta menjadi agak berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya. Gagasannya tentang cinta erat kaitannya dengan kekerasan dan rasa sakit. Ia dibentuk oleh dunia yang terus melukainya secara fisik maupun emosional, dan kekerasan yang ia lakukan adalah upaya untuk mendapatkan satu-satunya konsep cinta yang ia pahami. Sejak awal kita sudah memiliki firasat bahwa ada yang tidak beres dengan Asami. Tapi Asami hanya berharap Aoyama mencintainya lebih dari siapapun juga. Masalahnya, seperti kebanyakan orang normal, Aoyama memiliki berbagai bentuk cinta dengan tingkatan yang berbeda: cinta pada anaknya, pada anjingnya, serta pada mendiang istrinya. Sementara itu, Asami tidak memiliki siapapun. Jadi bagi Asami, janji Aoyama untuk hanya mencintai dirinya seorang saja adalah sebuah janji yang penuh kebohongan. Saat pertama kali menonton Audition belasan tahun lalu, saya menganggap karakter Asami hanyalah sosok psikopat belaka, seperti umumnya villain dalam film horor serupa. Namun setelah saya menontonnya kembali hari ini, saya melihat Asami sebagai korban yang jatuh ke dalam amarah dan keputusasaan, terganggu kesehatan mentalnya, dan kemudian menjadi pelaku kekerasan karena hanya itu yang ia pahami tentang cinta. Perubahan sudut pandang ini membuat saya justru bersimpati pada Asami, dan itu adalah perasaan yang aneh karena bagaimanapun juga Asami adalah karakter yang menyeramkan dan apa yang ia lakukan tidak bisa dibenarkan.

Sebenarnya, Takashi Miike bukanlah seorang sutradara yang tertarik pada pesan penuh moralitas seperti ini. Tetapi Audition sedikit berbeda. Dalam beberapa hal Miike juga seakan sedang memberi komentar sosial atas apa yang terjadi di Jepang dan mungkin di seluruh dunia, salah satunya adalah soal objektifikasi terhadap perempuan, yang sering dinormalisasi di masyarakat. Dalam beberapa bagian lainnya, film ini juga seakan mengkritik bagaimana laki-laki seringkali mendikte perempuan tentang ide “calon istri idaman yang ideal”: lemah lembut dan patuh. Pendiktean seperti itu seringkali sudah dianggap normal, dan Asami datang untuk mematahkannya. Salah satu hal yang sangat dikenal dari Audition tentu adalah bagian klimaksnya yang brutal, berisi adegan penyiksaan perlahan yang mungkin berdurasi nyaris 15 menit. Dalam adegan ini aktris Eihi Shiina yang memerankan karakter Asami benar-benar layak mendapat pujian karena ketenangannya justru menambah efek mengerikan dari apa yang ia lakukan, dan saya yakin karakter ini menjadi salah satu inspirasi terbesar dari karakter Dara dalam film pendek Dara (2007) buatan Mo Brothers.

Meskipun saya merasa penulisan cerita Audition cukup baik, tetapi dalam banyak hal film ini juga terasa sangat aneh, dan keanehan bukanlah hal baru untuk sebuah karya Takashi Miike. Paruh kedua film Audition secara perlahan mulai berubah menjadi lebih halusinatif, seperti mimpi buruk yang disertai demam tinggi. Beberapa terasa begitu janggal hingga penonton harus mengurai sendiri apakah ini hanya halusinasi Aoyama atau memang benar-benar terjadi. Namun secara keseluruhan, tak heran kalau Audition segera menjadi film horor klasik yang wajib ditonton oleh setiap pecinta horor Jepang, setidaknya satu kali seumur hidup, karena bagaimanapun film ini telah meninggalkan pengaruh yang cukup besar. Film ini bukanlah film horor yang sempurna, dan bukan film terbaik Takashi Miike, namun tetap tidak terlupakan.