fbpx

MOVIE REVIEW: 100 BLOODY ACRES (2012)

100 BLOODY ACRES
Sutradara:
Cameron & Colin Cairnes
Australia (2012)

Review oleh Tremor

100 Bloody Acres adalah sebuah komedi horor asal Australia yang merupakan debut dari kakak beradik penulis / sutradara Cameron dan Colin Cairnes. Dalam salah satu wawancara, Colin mengakui kalau keinginan mereka sebelum mulai menulis naskah 100 Bloody Acres sebenarnya sangat sederhana, yaitu ingin membuat film horor backwoods murni semodel The Texas Chainsaw Massacre. Namun di tengah proses penulisan naskahnya, Cameron dan Colin menyadari kalau naskah yang sedang mereka kerjakan semakin mengarah ke komedi, dan mereka menikmati pengembangan ini. Hasilnya, 100 Bloody Acres menjadi film komedi horor dengan tema rural / backwoods horror yang cukup menghibur. Empat tahun setelah membuat 100 Bloody Acres, Cameron dan Colin Cairnes kembali membuat film horor berjudul Scare Campaign (2016).

Kisahnya berfokus pada kakak beradik, Reg dan Lindsay Morgan. Mereka adalah produsen pupuk organik di pedesaan Australia dengan nama Morgans Organic. Pupuk buatan mereka terbukti sangat efektif dan sanggup mendorong buah-buahan tumbuh sampai berukuran besar. Kini produk mereka semakin populer di kalangan petani lokal dan permintaan pun meningkat. Rahasia keberhasilan pupuk mereka terpampang jelas pada tulisan di truk mereka: Blood and Bone Fertilizer. Mereka mencampurkan tulang dan darah sebagai bahan dasar pupuk kandang. Tapi jangan khawatir, mereka bukanlah pembunuh. Selama ini mereka hanya mengambil tulang dan darah dari bangkai roadkill saja, atau sisa-sisa jasad hewan yang mereka temukan di pinggir jalan akibat tertabrak kendaraan di jalanan sepi pelosok Australia. Meskipun roadkill yang mereka temukan biasanya adalah bangkai-bangkai hewan liar Australia, tp terkadang roadkill juga bisa berbentuk jasad manusia korban kecelakaan seperti yang bisa kita lihat saat film ini baru saja dimulai. Dan ini bukanlah roadkill manusia pertama mereka. Di tengah perjalanan pulang, Reg yang mengendarai truk menemukan sebuah mobil baru menabrak pohon. Tampaknya pengemudi mobil itu sudah meninggal. Tanpa pikir panjang, Reg mengangkut jasad pengemudi malang tersebut ke dalam truknya. Kebetulan Morgan bersaudara sedang dibanjiri pesanan dari salah satu petani besar, dan mereka memerlukan persediaan bahan tulang dan darah yang cukup untuk memenuhi permintaan ini. Semua tampak lancar sebelum ia berjumpa tiga anak muda di pinggir jalan. Mereka adalah Sophie, Wes dan James yang sedang dalam perjalanan menuju sebuah festival musik. Setelah mobil yang mereka kendarai mogok di tengah jalan, mereka berhasil meyakinkan Reg untuk diperbolehkan menumpang dalam truknya. Sebelumnya, Reg sempat menyembunyikan mayat yang ia pungut di balik timbunan karung pupuk. Sophie duduk di depan dan bersikap sangat bersahabat dengan Reg, sementara Wes dan James duduk di belakang truk. Reg tidak berniat untuk membunuh mereka, terutama karena ia menyukai Sophie. Tapi di tengah jalan Wes dan James panik menggedor-gedor dinding truk setelah tidak sengaja menemukan mayat yang Reg sembunyikan. Reg harus berpikir cepat dan tidak punya pilihan lain. Akhirnya dengan panik Reg segera membawa mereka bertiga ke rumahnya untuk menyekap mereka. Di sanalah kita akhirnya berjumpa dengan kakak Reg, Lindsay Morgan, dan semua ketegangan pun dimulai.

Saya bisa membayangkan betapa sulitnya membuat naskah horor komedi, karena komedi dan horor adalah dua hal yang sangat berlawanan. Menjaga keseimbangan antara kedua unsur tersebut agar tidak saling merusak satu sama lain tentu bukan pekerjaan mudah. Cameron dan Colin Cairnes bekerja dengan cukup baik dalam menulis skenario komedi ini, terutama dalam menjaga keseimbangan antara komedi dan horor gore-nya. 100 Bloody Acres berhasil menciptakan beberapa momen menggelikan, sekaligus membuat penonton khawatir dengan keselamatan para karakternya. Apa yang paling menyenangkan dari film ini adalah, humornya tidak terasa dipaksakan atau dibuat-buat. Semua momen komedi dan menegangkannya datang dengan alami hasil dari rangkaian berbagai kesialan dan ketidaktepatan situasi. Saya pribadi lebih menyukai jenis komedi seperti ini dibandingkan komedi-komedi slapstik ataupun komedi-komedi bodoh yang memperagakan ekspresi-ekspresi wajah bodoh dan gerak tubuh komikal seperti yang sering kita temui dalam film komedi di TV lokal. Film ini jelas berhasil menghindari banyak elemen humor yang buruk. Contohnya, tidak ada satupun karakter yang digambarkan sebagai seorang idiot. Beberapa karakter memang bodoh, tetapi tindakan-tindakan mereka cukup masuk akal untuk situasi yang mereka hadapi. Tidak ada satupun karakter yang melakukan sesuatu hanya demi momen komedi murahan. Semua muncul secara alami karena desakan situasi. Saya juga menyukai chemistry antara karakter Reg dan Lindsay. Mereka digambarkan sebagai kakak beradik yang memiliki sifat sama sekali berbeda satu sama lain. Reg adalah orang yang sopan, manis, baik hati dan lembut. Kebalikan dengan kakaknya yang berwajah seram, berperawakan besar, berperilaku sangat dingin, pemarah dan jauh lebih mendominasi. Satu-satunya hal yang paling menjengkelkan dari film ini adalah karakter Wes yang sangat brengsek, arogan dan menyebalkan. Untungnya rasa jengkel saya perlahan hilang sejak Wes mengkonsumsi acid/LSD, yang kemudian akan lebih mengacaukan situasi.

Penonton yang mengharapkan adanya adegan-adegan gore dari film yang memiliki judul “100 Bloody Acres” juga tidak akan dikecewakan. Dalam film ini kita bisa melihat beberapa adegan kejam dan menyakitkan, dengan special effect tradisional yang dikerjakan dengan sangat baik. Ada banyak darah, daging hancur dan potongan tubuh dalam film ini tanpa perlu menjadi film torture-porn yang membosankan, sambil tetap memberikan komedi-komedi situasional di waktu yang sama. Sebagai film komedi horor, saya rasa 100 Bloody Acres cukup berhasil. Siapapun yang menyukai komedi dan gore akan bisa menikmati 100 Bloody Acres. Apalagi kalau penontonnya tahu betul elemen-elemen standar backwoods horror, di mana biasanya sang penjagal digambarkan sebagai orang pedesaan terbelakang inbred (hasil kawin saudara/keluarga), karena akan ada satu momen dark comedy dalam 100 Bloody Acres yang menyentil stereotip tersebut. 100 Bloody Acres memang bukan jenis komedi horor yang akan menjadi klasik seperti Re-Animator (1985), Evil Dead II (1987) ataupun Braindead (1992), tetapi film ini tetap merupakan film yang lumayan lucu dan menghibur. Film ini juga bukan komedi yang akan membuat penonton non-australia terbahak-bahak, tapi setidaknya 100 Bloody Acres berhasil mengelola vibe ringan dengan cara yang menyenangkan, sambil mempertahankan elemen humor dan horornya secara konsisten.