SOEN ‘Reliance’ ALBUM REVIEW
Silver Lining Music. January 16th, 2026
Hard Rock/Alternative rock

Pasca kesuksesan album keempat, ‘Lotus’ (2019), SOEN dengan gercep langsung mencoba melebarkan sayap mereka demi menggaet calon-calon pendengar/audiens baru. Memang, tentunya ada risiko, bahwa upaya ekspansi ke pasar arus utama, band asal Swedia ini justru membuka ruang untuk mengalienasi pendengar yang sudah ngikutin sejak album pertama, ‘Cognitive’ (2012). Percobaan pertama mereka bisa dibilang cukup sukses, karena ‘Imperial’ (2021) gak terlalu bikin para die hard fans ngoceh, terlepas produksi overpolished dari Kane Churko, yang jelas lebih cocok menukangi band-band yang biasa wara-wiri di rock radio channel/playlist macam FIVE FINGER DEATH PUNCH, IN THIS MOMENT, SKILLET, DISTURBED, PAPA ROACH dll. Sayangnya, album berikutnya, ‘Memorial’ (2023), SOEN masih berkutat pengen jadi band modern-rock/butt-rock, dengan mayoritas materi dalam LP tersebut sangat formulaic, hambar dan kurang nendang.

Ketika SOEN mengumumkan full-length ketujuh mereka, ‘Reliance’, gua sempet sedikit menaruh harapan, kalau Joel Ekelöf, Martín López, Stefan Stenberg, Lars Åhlund, dan Cody Lee Ford bakalan kembali ke jalan yang benar, setelah tersesat di formula musik rock modern yang semakin kelewat basi. Sengaja gue gak mencicipi sama sekali single yang dilepaskan, biar lebih surprise pas masuk tanggal rilis. Tetapi, segala asa nyatanya langsung sirna setelah mendengar lagu pertama “Primal” dan “Discordia”, yang punya chorus generik parah, belum lagi secara komposisi, SOEN masih stuck dan muter-muter di formulasi aransemen ala ‘Imperial’ dan ‘Memorial’, terjebak berada dalam rentang tonalitas yang serupa dengan kedua album sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak ngikutin dari zaman album pertama, gue tidak bisa sama sekali menikmati album dari SOEN, setidaknya ‘Memorial’ masih punya beberapa lagu oke, dan lagu power ballad-nya lumayan listenable, sedangkan dalam ‘Reliance’, gue cuma bisa sedikit nyangkut sama trek ketiga “Mercenary”. nomor slow rock utama dalam album ini (“Indifferent”) pun gagal meninggalkan kesan ke gue, karena secara melodi dan harmoni terlalu mengandalkan progresi pop generik yang klise.
Setelah memberikan kesempatan album ini dengan mendengarkan hingga belasan kali pun, gue tak berhasil menghilangkan kesan awal yang mengecewakan waktu mendengarkan albumnya untuk pertama kali, ‘Reliance’ jelas merupakan album paling ampas yang pernah dilepaskan band asal Swedia ini, baik dari sisi trajectory artistik maupun konsistensi identitas musikalnya. Jujur kalau lagi pengen dengerin modern rock/alt-metal atau butt rock sekalipun mending gua langsung nyetel THREE DAYS GRACE, BREAKING BENJAMIN atau CREED/Scott Stapp sekalian. Dalam ‘Reliance’, SOEN seperti masih tampak gamang menentukan arah, sudah tiga album mereka bertahan di pendekatan tanggung dan setengah-setengah, tanpa komitmen penuh ke mana pun. Kalau memang tujuannya menembus pasar menstrim, seharusnya mereka harus lebih berani all-in secara penuh, bukan berhenti di posisi abu-abu seperti sekarang dibilang progressive rock/metal pun terdengar terlalu datar, minim kompleksitas, sekaligus kekurangan keberanian artistik.(Peanhead)
2.0 out of 10