fbpx

ALBUM REVIEW: LORNA SHORE – IMMORTAL

LORNA SHORE ‘Immortal’ Album Review

Century Media Records. January 31st, 2020

Deathcore

Setelah dua buah album penuh bergerilya bersama label independen, unit deathcore asal New Jersey LORNA SHORE akhirnya bergabung juga dengan major label (Century Media Records) pada akhir 2019, yang dibarengi pengumuman full-length ketiga mereka ‘Immortal’. Album tersebut merupakan album pertama LORNA SHORE bersama vokalis baru CJ McCreery (eks-SIGNS OF THE SWARM), menggantikan vokalis original Tom Barber yang cabut ke CHELSEA GRIN. Namun selang beberapa minggu saja sebelum ‘Immortal’ dilepas dari kandang macan, CJ McCreery malah tersandung dugaan kelakuan sangat tidak terpuji, yang otomatis membuat ia langsung ditendang dari LORNA SHORE. Hal tersebut sempat membuat tanggal rilis album baru mereka jadi terombang-ambing, karena pihak band dan label sempat mempertimbangkan untuk menunda perilisan, tapi akhirnya ‘Immortal’ tetap dilempar kepasaran sesuai rencana awal, dan buat mendukung tur Eropa, Adam De Micco, Austin Archey, dan Andrew O’Connor mengajak Will Ramos, mantan vokalis MONUMENT OF A MEMORY, untuk bergabung mengisi kekosongan posisi vokalis.

Seperti dua full-length pendahulunya ‘Immortal’ masih masih mengusung format deathcore yang disusupi pengaruh technical death metal dan symphonic black metal, bedanya sekarang LORNA SHORE terasa sudah semakin matang dan berani penulisan lagunya, apabila ‘Psalms’ masih terdengar cuma ngandelin breakdown doang dengan struktur lagu ngacak gak jelas, pada ‘Flesh Coffins’ band ini barulah mulai meracik lagu yang lebih berbobot (meskipun kadang masih agak klise) komposisinya, dan lewat album ketiga, LORNA SHORE sudah bertransformasi jadi Super Saiyan 3. Bahkan gak main-main dari lagu/single pertama yang dilepas, mereka sudah menyajikan materi paling ngeri mereka, penggunaan melodinya lebih berani, elemen simfoniknya tak sekedar pengiring dibelakang instrumen lain, tetapi telah menjadi unsur substansial yang meninggikan atmosfir lagu, dan yang paling penting memorable gak sekedar numpang lewat karena terlalu generik, hanya “Darkest Spawn saja yang menurut saya kelewat boring dan minim substansi. Nuansa blackened death dalam materi-materi di ‘Immortal’ juga semakin medok, “Hollow Sentence”, “Warpath of Disease”, dan “Relentless Torment”, jika di potong bagian breakdown-nya saya rasa bisa jadi trek melodic blackened death tulen, malah dalam “Obsession”, LORNA SHORE terdengar seperti FALLUJAH sendainya main post-black metal.

Audio Engineer kawakan Josh Schroeder mampu mengemas ‘Immortal’ menjadi sangat mewah dan megah layaknya album blockbuster tanpa harus kehilangan ketajaman, agak disayangkan saja gebukan Austin Archey terdengar sangat tidak manusiawi, khususnya hantaman snare drum yang kagak nampol, ditambah lagi semenjak kehilangan bassist, divisi low end LORNA SHORE seperti rumah hantu tak berpenghuni, alias tak nyaring sama sekali bunyinya entah minggat kemana. Memang songwriting ‘Immortal’ sudah mengalami improvement bagai langit dan bumi dari ‘Psalms’ dan ‘Flesh Coffins’, tetapi LORNA SHORE masih keseringan mengumbar-umbar breakdown yang kadang pendempatanya tidak nyambung, dan malah merusak alur lagu secara keseluruhan, seperti dalam “Misery System” dan “King ov Deception”, untungnya masing-masing lagu dalam album punya identitasnya tersendiri, gak saling membaur aransemenya, walaupun racikanya sebenarnya masih muter-muter disitu aja. Keputusan LORNA SHORE untuk tak mendunda perilisan album untuk merekam ulang vokal juga menjadi boomerang sendiri, memang range vokal CJ McCreery bakal sulit untuk disamai, namun setelah mendengar single “To The Hellfire” dari EP terbaru ‘…And I Return to Nothingness’, Will Ramos apabila diberikan kesempatan untuk mengisi ulang vokal, hasilnya sudah pasti akan lebih maksimal dan ‘Immortal’ bisa menjadi album paling panas tahun lalu, pamornya tidak terkubur kontroversi sang mantan vokalis. Tapi ya nasi sudah terlanjur jadi bubur dan ‘Immortal’ hanya bisa disimak dengan kondisi alakadarnya kini, sebuah album deathcore one of a kind yang jadi harus tercoreng kelakuan vokalisnya. (Peanhead)

7.8 out of 10