fbpx

ALBUM REVIEW: DEAFHEAVEN – INFINITE GRANITE

DEAFHEAVEN ‘Infinite Granite’ ALBUM REVIEW

Sargent House. August 20th, 2021

Shoegaze/Alternative rock

Dua tahun lalu, DEAFHEAVEN merilis ‘Infinite Granite’, yang langsung membuat mereka jadi bahan pergunjingan lagi di dunia maya, pasalnya album penuh kelima grup asal San Fransisco, California ini, dirilis (hampir) tanpa ada embel-embel post-black metal sama sekali, ngikutin jejak senior mereka, ALCEST, yang sempat melepaskan album shoegaze/dream pop murni, ‘Shelter’. Sebenernya ‘Infinite Granite’ bukanlah hal yang mengejutkan lagi bagi yang udah mantengin DEAFHEAVEN dari ‘Roads to Judah’ (2011), dan album sebelumnya pun, ‘Ordinary Corrupt Human Love’ (2018), udah semakin minim unsur black metal. Lagian semenjak grup ini naek daun pasca ‘Sunbather’ (2013), DEAFHEAVEN sudah sering jadi bahan olok-olok para gatekeeper dan metalhead trve kvlt, jadinya memang tidak ada keperluan sama sekali untuk crowd pleasing segmen tersebut. Selain itu berhubung band ini punya basis pendengar cukup heterogen, yang saya rasa sudah familiar dengan band-band shoegaze era 90’an atau kekinian, mau ‘Infinite Granite’ jadi lebih soft atau makin “ngindies” sekalipun, gak akan terlalu pengaruh amat sama penjualan tiket, rilisan fisik, dan merchandise. Hanya saja saya agak terkecoh, karena DEAFHEAVEN tahun 2019 lalu memuntahkan b-side “Black Brick”, yang lebih keras dan medok elemen blackened-nya, saya kira album berikutnya bakalan gelap dan menghitam, namun ternyata tidak, dan ‘Infinite Granite’ justru malah kebalikannya.

Sayangnya George Clarke bukanlah seorang penyanyi yang punya karakter kuat, pembawaanya cenderung bland dalam lagu pembuka “Shellstar”, melodi dan hook-nya juga kurang memorable pada lagu tersebut dan juga trek selanjutnya, “In Blur”. ‘Infinite Granite’ baru benar-benar menarik untuk didengarkan pas masuk lagu ketiga, “Great Mass of Color”, yang merupakan salah satu nomor paling catchy album ini bersama “The Gnashing” dan “Other Language”, pantas lah kalau “Great Mass of Color” dilepaskan sebagai single andalan, karena chorus–nya earworm banget. DEAFHEAVEN sebenarnya masih belum melupakan kodrat mereka sebagai band metal, karena masih ada lagu yang menyelipkan section keras dadakan seperti pada bagian akhir “Great Mass of Color” dan “Villain”, dimana George Clarke masih menyisipkan harsh vocal, lalu “Lament for Wasps” yang klimaksnya diiringi gulungan double bass. Apabila ketiga lagu diatas hanya ngasih kisi-kisi masa lalu grup ini, track penutup album ini, “Mombasa”, DEAFHEAVEN secara terang-terangan menghadirkan kembali muka blackgaze mereka, yang hanya tampil sekelebat doang di 45 menit sebelumnya, karena saat masuk menit kelima, dari black metal scream, blast beat, hingga tremollo riffing keluar semua tak terkendali dan tanpa ada aba-aba, mungkin mereka yang denger ‘Infinite Granite’ tanpa tahu-menahu album lain DEAFHEAVEN mungkin bisa kaget.

Meskipun proses recording masih dibantu oleh Jack Shirley, DEAFHEAVEN untuk ‘Infinite Granite’ menunjuk produser Justin Meldal-Johnsen, yang sebelumnya pernah ngerjain karya-karya dari M83, JIMMY EAT WORLD, PARAMORE, dan TEGAN AND SARA. Kehadiran produser papan atas tersebut tentunya membuat ‘Infinite Granite’ terdengar lebih mewah dari biasanya, karena sebagai audio engineer yang biasa megang artis-artis besar, Meldal-Johnsen pastinya punya peralatan gak ecek-ecek, yang mampu mendongkrak kualitas output ‘Infinite Granite’ jauh diatas album terdahulu. Selain vokal yang agak hambar, mayoritas lagu dalam album ini punya struktur berserta dinamika yang rada-rada mirip dan cenderung gampang diterka arahnya, hal tersebut membuat aransemen sebagian nomor dalam ‘Infinite Granite’ kadang terdengar kelewat datar, apalagi komposisi lagu khas DEAFHEAVEN, yang dari dulu lumayan ngandelin kontras gelap/terang dan klimaks meletup-letup, disini hanya benar-benar keliatan di beberapa track. Secara keseluruhan sebenarnya ‘Infinite Granite’ merupakan sebuah album alternative rock/shoegaze yang oke banget, karena diluar dua nomor awal (“Shellstar” dan “In Blur”) dan interlude kepanjangan yang mubazir, album ini punya materi-materi yang tak kalah lah sama DIIV, ALVVAYS, WESTKUST, NOTHING dll, cuma biar lebih maksimal, ada baiknya ‘Infinite Granite’ didengarkan pas setidaknya udah lupa ingatan sama ‘Sunbather’ dan ‘New Bermuda’. (Peanhead)

8.0 out of 10