MOVIE REVIEW: NEXT OF KIN(1982)

NEXT OF KIN
Sutradara: Tony Williams
Australia / New Zealand (1982)

Review oleh Tremor

Tahun 1982 adalah tahun di mana banyak film horor legendaris dirilis, dari mulai The Thing, Poltergeist, Creepshow, Tenebrae, The Beast Within, The New York Ripper, Pieces, hingga Halloween III: Season of the Witch. Membludaknya rilisan horor terbaik di tahun tersebut menyebabkan banyak film horor dari negara-negara yang tidak biasanya memproduksi horor seperti Australia, menjadi sedikit tertutup oleh bayang-bayang film-film buatan para sutradara yang sudah lebih dulu populer. Next of Kin adalah salah satunya contohnya. Film psychological thriller dengan elemen horor ini ditulis dan disutradarai oleh sineas kelahiran New Zealand, Tony Williams, dan diklaim sebagai film horor pertama karya pembuat film New Zealand, meskipun semua pengambilan gambarnya dilakukan di Australia. Next of Kin cukup dihormati setelah pertama kali dirilis di Australia karena memang merupakan film horor yang cukup unik dan jauh lebih unggul dibanding banyak judul horor Australia lainnya yang pada masa itu didominasi oleh film-film horor murahan. Tak bisa dipungkiri, Next of Kin bukan hanya sekedar film horor, melainkan salah satu penanda dari dekade terpenting dalam sejarah perfilman Australia. Sayangnya, film ini tidak terdistribusi dengan layak secara global. Pada saat itu, hanya sedikit penggemar horor dari benua lain yang tahu tentang keberadaan film ini. Namun seiring berkembangnya teknologi, Next of Kin secara perlahan mulai dikenal lebih luas dan menerima banyak apresiasi internasional yang layak ia dapatkan, meskipun sedikit terlambat. Puncaknya adalah ketika judul film ini disebut dalam sebuah film dokumenter yang mengangkat kultur film horor / action dan B-movie di Australia, berjudul Not Quite Hollywood: The Wild, Untold Story of Ozploitation! (2008). Dalam dokumenter tersebut, sutradara Amerika Quentin Tarantino menyebutkan bahwa salah satu film Australia favoritnya adalah Next of Kin, dan para penggemar horor pun mulai memburunya.

Seorang perempuan muda bernama Linda baru saja mendapat warisan setelah ibunya yang sudah lama tak ia temui meninggal dunia. Warisan tersebut adalah Montclare, sebuah rumah besar yang berfungsi sebagai panti jompo yang dibangun oleh ibunya dan bibinya, Rita. Linda tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan panti jompo tersebut. Akhirnya ia memutuskan untuk berkunjung ke Montclare dan bertemu Connie serta Dr. Barton yang mengelola panti jompo tersebut selama ibu Linda sakit. Tak lama setelah Linda berada di Montclare, seorang penghuni panti jompo ditemukan tewas tenggelam di dalam bak mandi. Tentu itu bukan hal yang mengejutkan dari sebuah panti jompo yang dihuni oleh para lansia. Namun kejadian-kejadian aneh mulai terjadi di sekitar Linda. Ia segera mendapat firasat bahwa bukan hanya ada yang tidak beres di Montclare, tetapi juga ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya. Hingga suatu hari Linda menemukan buku-buku harian milik mendiang ibunya ketika sedang membereskan ruang kerjanya. Semakin banyak yang Linda baca dari buku-buki tersebut, semakin menarik isi catatan-catatannya karena beberapa peristiwa aneh yang dituliskan oleh ibunya rupanya mirip dengan apa terjadi pada Linda sekarang. Linda mulai khawatir dengan dirinya sendiri, apakah semua peristiwa aneh ini merupakan ulah manusia, atau sesuatu yang supranatural? Atau apakah ia secara perlahan mulai kehilangan kewarasan seperti ibunya?

Beberapa media sempat menyebut Next of Kin sebagai “The Shining dari Australia”. Tapi bagi saya perbandingan tersebut sangatlah tidak tepat. Next of Kin adalah film psychological thriller yang unik karena dibumbui berbagai elemen horor yang bervariatif, dari mulai misteri pengungkapan pembunuhan, atmosfer mencekam, slasher klasik, nuansa rumah berhantu, hingga elemen gothic, menjadikannya sebuah film yang sama sekali berbeda dengan The Shining. Namun ada satu elemen horor yang paling menonjol dari Next of Kin, yaitu pendekatan cerita khas giallo Italia. Meskipun secara visual tidak bermandikan pencahayaan penuh warna kontras yang indah, tetapi pengaruh komposisi visual ala Mario Bava dan Dario Argento jelas sangat terasa di banyak scene. Sutradara Tony Williams sepertinya memang sedang bereksperimen lewat Next of Kin, dan saya pikir eksperimennya cukup memuaskan. Dalam film yang atmosferik dan beralur cukup lambat ini, Tony Williams berhasil menciptakan banyak suasana dan visual seperti layaknya dalam dunia mimpi, didukung oleh plot misteri yang rasanya aneh. Perlu dicatat bahwa ciri khas lain dari film-film giallo memang lebih banyak berfokus pada atmosfer dan estetika daripada karakter dan cerita, dan tepat seperti itulah yang Tony Williams lakukan dalam Next of Kin. Namun di sisi lain film ini tidak bisa juga disebut sebagai giallo karena meskipun banyak darah yang tumpah serta karakter yang terbunuh secara mengenaskan, semua pembunuhannya terjadi off-screen. Mungkin Williams tidak memiliki bajet yang cukup sehingga menghalanginya menciptakan special effect prostetik untuk adegan pembunuhan yang diperlihatkan secara detail layaknya film-film giallo pada umumnya. Meskipun begitu, tidak diperlihatkannya adegan pembunuhan memberi efek lain bagi para penonton kisah misteri ini. Setiap kali Linda menemukan seseorang telah tewas, penonton bisa dibuat bertanya-tanya apakah seseorang benar-benar membunuh mereka, atau Montclare memang berhantu, atau mungkin Linda lah yang telah kehilangan akal sehatnya. Bagi kita di masa yang lebih modern tentu sudah tidak asing dengan plot misterius semacam itu. Tetapi untuk para penonton Australia di awal 80an, mungkin konsep tersebut bisa terasa cukup menegangkan.

Bukan hanya unsur pengaruh giallo-nya saja yang kuat, Next of Kin juga cukup konsisten dengan elemen atmosfer klasik ala rumah berhantu, dari mulai koridor-koridor gelap, malam penuh badai, hingga perasaan mencurigakan yang selalu terasa di sebagian besar adegan yang berlatar di Montclare. Next of Kin tentu bukanlah film horor terbaik yang pernah lahir di Australia, tetapi film ini cukup menarik, terutama pada jamannya. Tony Williams seakan mencoba membuat film thriller dengan pendekatan berbagai elemen horor dan faktor itulah yang membedakannya dari film horor Australia lainnya. Meskipun perlu diakui bahwa Next of Kin memiliki banyak kekurangan, tetapi ini tetaplah merupakan usaha yang cukup bagus dari seorang Tony Williams untuk membuat film horor Australia yang berbeda pada masanya.