fbpx

MOVIE REVIEW: SON (2021)

SON
Sutradara:
Ivan Kavanagh
Irlandia (2021)

Review oleh Tremor

Son adalah sebuah film drama thriller supranatural dengan sentuhan horror psikologis, karya penulis / sutradara asal Irlandia bernama Ivan Kavanagh yang sebelumnya pernah membuat drama horror berjudul The Canal (2014) hingga drama western berjudul Never Grow Old (2019). Mengikuti jejak film-film horror yang berfokus pada ikatan antara ibu dan anak seperti Grace (2009), Goodnight Mommy (2014) dan The Babadook (2014), dalam film Son Ivan Kavanagh mencoba mengangkat kisah tentang seberapa jauh seorang ibu akan berkorban demi melindungi anaknya.

Setelah meninggalkan masa lalunya yang misterius bertahun-tahun yang lalu, seorang ibu muda bernama Laura kini hidup dengan tenang di sebuah kota kecil bersama putra semata wayangnya, David. Hidup mereka mulai terganggu ketika suatu malam Laura masuk ke dalam kamar putranya dan menemukan sekelompok orang asing ada di sekitar tempat tidur David, sebelum akhirnya pintu kamar tiba-tiba terbanting menutup. Saat pintu berhasil dibuka kembali, orang-orang tersebut sudah tidak ada, dan David tidak ingat apa-apa. Tentu saja ini membuat ibunya ketakutan. Ia pun segera menelpon polisi. Namun ketika polisi tiba dan memeriksa seluruh rumah, tidak ditemukan tanda-tanda ada usaha masuk rumah secara paksa. Salah satu polisi yang bernama Paul pun berusaha menenangkan dan mendampingi Laura. Namun mimpi buruk Laura sebenarnya baru saja dimulai. Tak butuh waktu lama hingga tiba-tiba David menunjukkan gejala penyakit misterius, dari mulai muntah darah hingga munculnya memar serta ruam pada tubuhnya. Penyakit ini membingungkan para dokter di rumah sakit, karena hasil seluruh tes darah dan penyakit yang dilakukan menunjukkan hasil yang normal. Mereka tidak bisa mengidentifikasi penyakit ini, meskipun gejalanya sangat mengerikan. Laura mulai mencurigai bahwa penyebab penyakitnya ini datang dari masa lalu gelap yang sudah hilang dari ingatannya karena ia sempat dirawat secara intensif di rumah sakit jiwa. Dan Laura tahu betul bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan David adalah dengan cara mengorek kembali masa lalunya. Dalam perjalanan inilah Laura mulai menyadari bahwa mungkin putranya bukanlah anak kecil biasa.

Film ini berusaha menambahkan bumbu stereotip thriller psikologis dalam plotnya lewat kemungkinan bahwa Laura mengidap sakit jiwa dan semua ini hanya terjadi di dalam kepalanya saja. Tapi dari semua hal yang terjadi sejak film ini dimulai, saya dan mungkin penonton lain bisa dengan yakin menyimpulkan apa yang Laura hadapi memang benar-benar nyata, dan David adalah anak iblis sesungguhnya. Meskipun begitu, sutradara Kavanagh cukup terampil dalam menyeimbangkan elemen psikologis dan supernatural dari cerita ini. Setelah menonton Son, saya juga yakin kalau Kavanagh mendapat sebagian inspirasinya dari beberapa film horror klasik bertema anak iblis seperti Rosemary’s Baby (1968) hingga The Omen (1976). Bahkan saya bisa bilang kalau plot Son adalah film yang sangat tepat kalau dijadikan sebagai sekuel modern tidak resmi dari Rosemary’s Baby. Apa yang membedakan Son dengan Rosemary’s Baby mungkin adalah bahwa Son tidak berfokus pada perasaan ngeri seorang ibu yang memiliki anak iblis, tetapi justru sebaliknya: Kavanagh lebih menekankan tentang unconditional love seorang ibu pada anaknya, meskipun anak tersebut adalah anak iblis.

Alur film ini memang agak lambat, tetapi terasa cukup untuk memperkenalkan kita pada masa lalu gelap serta masalah besar yang Laura hadapi. Kita juga bisa melihat beberapa adegan berdarah dengan special effect tradisional gore yang cukup impresif. Kekecewaan terbesar saya pada film ini sayangnya ada pada bagaimana film ini ditutup. Ivan Kavanagh seakan-akan berusaha keras ingin menutup Son dengan twist, yang menurut saya terasa sangat dipaksakan, tidak pada tempatnya dan justru menjadi plothole besar yang kemudian memunculkan banyak pertanyaan membingungkan. Setelah mengikuti kisah perjalanan Laura dan David, ending film ini justru membuat alur film ini menjadi agak tidak logis. Kekecewaan minor saya lainnya ada pada desain (spoiler alert) sosok iblis yang pada akhirnya muncul belakangan. Maksud saya, ini adalah film berelemen horror yang berkaitan dengan kelompok cult dan iblis, jadi mungkin seharusnya ada lebih banyak perhatian dan bajet yang difokuskan pada desain iblisnya. Mungkin ini adalah soal ekspektasi dan imajinasi saya saja, bahwa wujud iblis seharusnya jauh lebih menyeramkan dan tidak manusiawi dibandingkan iblis dalam Son. Atau mungkin justru akan jauh lebih baik kalau film ini sama sekali tidak menampilkan wujud iblisnya, dan biarkan imajinasi penonton saja yang menjawab. Meskipun tidak ada hal baru di dalamnya, dan bukan jenis film horror yang akan saya tonton ulang, Son tetap merupakan film yang lumayan menghibur, tidak membosankan dan lebih bagus dari apa yang saya bayangkan sebelumnya.