MOVIE REVIEW: SEVERANCE (2006)

SEVERANCE
Sutradara:
Christopher Smith
Britania Raya / United Kingdom (2006)

Review oleh Tremor

Severance adalah sebuah film horror / action / komedi garapan sineas asal Inggris bernama Christopher Smith yang sebelumnya pernah membuat film horror berjudul Creep (2004). Setelah Severance, Smith terus bereksplorasi dan membuat sebuah film sci-fi thriller yang cukup berkesan bagi saya, berjudul Triangle (2009). Pada tahun 2010, Smith juga membuat film drama gelap sejarah berjudul Black Death (2010). Melihat filmografinya, saya semakin yakin kalau Christopher Smith adalah orang yang senang dengan tantangan eksplorasi dan eksperimen. Ia tidak pernah membuat film dengan genre yang sama. Majalah Rolling Stone pernah memuji film Severance sebagai “campuran antara The Office (serial tv), dengan Friday the 13th”. Pernyataan itu rasanya tidak terlalu berlebihan.

Severence bercerita tentang enam orang pekerja divisi sales dan satu manager dari perusahaan Palisade Defense Company yang sedang melakukan perjalanan ke Eropa Timur untuk melakukan kontrak jual beli senjata. Diceritakan, Palisade adalah perusahaan multinasional yang memproduksi berbagai jenis senjata perang. Mereka sudah beroperasi sejak jaman dulu dan memiliki cabang di seluruh dunia. Jadi perusahaan ini cukup besar dan berkembang dengan pesat, karena dimanapun ada perang dan konflik, angka penjualan mereka meningkat. Di tengah perjalanan bisnis ini, mereka dijanjikan berlibur sambil melakukan outing, menghabiskan akhir pekan di pondok mewah di pegunungan Hungaria. Seperti pada umumnya outing kantoran, tujuannya adalah untuk memperkuat “team work” dan ikatan emosional antar pekerja lewat beberapa kegiatan, salah satunya dengan retreat dan permainan paintball.

Perjalanan mereka terhenti karena ada pohon tumbang yang menghalangi jalan di tengah hutan. Sang manajer yang bernama Richard memperlihatkan peta pada supir bus, dan bersikeras kalau mereka bisa memutar melewati hutan sebagai jalur alternatif. Tapi sebagai satu-satunya orang lokal, supir bus menolak untuk mengambil tersebut. Ia bahkan tampak histeris. Setelah bertengkar dengan Richard yang keras kepala, supir bus yang tidak terlalu bisa berbahasa inggris itu meminta semua untuk turun dan silakan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju pondok tujuan mereka. Walaupun ternyata Richard tidak benar-benar bisa membaca peta, tapi menurutnya pondok itu sudah dekat. Mereka pun akhirnya berjalan kaki sambil menenteng koper masing-masing di tengah hutan hingga akhirnya menemukan sebuah ‘pondok’ yang sayangnya jauh dari kesan mewah. Seluruh pekerja yang sudah terlalu lelah ini akhirnya masuk ke dalam pondok tua tersebut.

Saat sedang mencari generator pondok, salah satu pekerja bernama Harris menemukan satu lemari arsip yang penuh dengan dokumen rahasia milik Palisade, yang ditulis dalam bahasa Rusia. Malam itu juga, mereka berkumpul di meja makan sambil menyantap pie, mendiskusikan dokumen-dokumen yang Harris temukan. Harris lalu menceritakan “urban legend” yang pernah ia dengar tentang pondok tersebut: pondok itu sebelumnya adalah sebuah rumah sakit jiwa. Suatu hari para pasien disana berhasil mengambil alih RSJ serta menyekap semua pekerja RSJ. Untuk menyelesaikan masalah ini, sejenis gas beracun digunakan untuk membantai para pemberontak gila. Gas beracun itu adalah produk buatan perusahaan Palisade. Tidak ada yang percaya dengan cerita Harris. Salah satu pekerja sales lainnya, Jill, langsung menanggapi dengan cerita versi lain yang pernah didengarnya: pondok itu adalah rumah tahanan bagi para penjahat perang Rusia. Suatu hari para tahanan melarikan diri, dan sebuah gas saraf buatan Palisade digunakan untuk “membersihkan” mereka yang kabur ke bangunan-bangunan terdekat. Kedua cerita versi Harris dan Jill memiliki satu kesamaan: mereka yang selamat dari pembantaian tersebut memiliki dendam kesumat pada perusahaan Palisade. Sebenarnya kedua versi cerita ini hanyalah karangan mereka semata, dalam rangka saling bertukar cerita seram dan bersenda gurau seperti kita saling mengarang cerita hantu. Tapi siapa sangka kalau mungkin saja ada kebenaran di balik salah satu cerita tersebut? Sales lainnya bernama Steve juga ingin ikut menceritakan kisah versinya sendiri, hingga tiba-tiba ia menemukan sebuah gigi manusia dalam pai daging yang sedang ia santap. Sambil panik dan merasa jijik, mereka semua bertanya siapa yang membuat pie tersebut. Gordon mengaku ia menemukan kue pie itu di dapur yang ia pikir memang sengaja disediakan oleh perusahaan untuk menyambut mereka.

Menjelang tidur, salah satu karakter lain bernama Jill melihat seseorang bertopeng sedang mengintip ke jendela kamarnya dari atas pepohonan. Ia berteriak hingga semua anggota tim berlarian ke kamar Jill, sementara sebagian berusaha menenangkan Jill, sebagian lagi keluar untuk mencari siapa tahu ada orang di luar. Tapi tidak ada siapapun di luar sana. Di tengah kepanikan Jill, semua orang, kecuali Richard, setuju bahwa mereka harus meninggalkan pondok tersebut besok. Keesokan paginya Richard dengan ragu mengirim Harris dan Jill pergi ke puncak bukit untuk mencari sinyal telepon guna meminta sopir bus menjemput mereka kembali. Richard sebenarnya tidak ingin mereka pergi, apalagi belum ada satupun aktivitas team-building yang mereka lakukan. Richard sepakat untuk pergi dengan syarat bahwa saat Harris dan Jill pergi, sisa tim harus berpartisipasi dalam permainan “team-building”: paintball. Sesampainya di bukit, Harris dan Jill menemukan bus masih terparkir di sekitar situ. Tak jauh dari situ, mayat sopir bus tergeletak bersimbah darah. Di waktu bersamaan, permainan paintball baru saja selesai di sekitar pondok ketika Gordon tiba-tiba menginjak sebuah perangkap beruang. Steve dan Billy berusaha membuka perangkap itu, tetapi gagal berkali-kali hingga membuat kaki Gordon terputus. Tepat saat itu juga Harris dan Jill kembali mengendarai bus dan mereka semua masuk ke dalam bus, bergegas kembali ke kota untuk mencari bala bantuan. Tapi ketegangan dan perburuan atas mereka baru saja dimulai. Di tengah jalan, seseorang meletakkan rantai berpaku, menghancurkan ban bus yang mereka tumpangi. Kehilangan kendali, bus pun terpelanting. Harris terlempar keluar bus. Saat semua masih belum siuman, seseorang mendatangi Harris yang sedang tergeletak di tanah dan memenggal kepalanya. Saat mereka semua siuman dan menemukan mayat Harris tanpa kepala, mereka segera melarikan diri kembali ke dalam pondok untuk mempertahankan hidup mereka. Mungkinkah rumor mantan prajurit psikopat yang dendam terhadap perusahaan Palisade itu benar adanya? Segera para pekerja sales yang tidak saling cocok satu sama lain ini sama-sama berjuang untuk hidup mereka. Pada akhirnya mereka terjebak dalam kondisi dimana kegiatan membangun team-work menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Dari sudut pandang horor, film ini agaknya akan mudah terlupakan. Sementara sebagai film komedi, film ini terlampau sadis. Tidak semua penonton film komedi sanggup melihat kaki putus, kepala yang dipenggal, korban yang disiram bensin lalu dibakar hidup-hidup, kepala pecah tertembak shotgun, hingga pisau yang menancap di bokong.  Beruntung Severance adalah film yang lebih dari sekadar film horor biasa (dan komedi biasa), karena ia memadukan komedi gelap yang satir dan gore dengan takaran yang tepat, dan sama sekali tidak terasa dipaksakan. Sesuatu yang paling saya suka dari genre horror komedi adalah peralihan-peralihan yang tak terduga antara adegan-adegan menegangkan dan sadis, dengan komedinya. Peralihan menyenangkan seperti itu lah yang bisa kita temukan dalam Severance. Sangat menghibur.

Para karakter dalam film ini juga adalah salah satu aspek mengapa Severance cukup berkesan. Mereka semua memang menggambarkan karakter stereotip, tapi dalam versi lingkungan kantor. Dengan cukup menggelikan Severance menggambarkan dinamika tim kantoran yang terdiri dari para individu dengan karakter berbeda-beda, yang masing-masing mungkin memang mewakili tipikal umum yang bisa ditemui di setiap lingkungan kantor. Contohnya adalah Richard sebagai seorang bos yang tidak berwibawa dan tak bisa diandalkan. Bawahannya mendengar Richard hanya karena ia boss, bukan karena ketegasannya. Perlu ditambahkan, Richard juga digambarkan sebagai orang yang tidak terlalu cerdas, dan itu menambah bumbu komedinya. Lalu ada asisten pribadi Richard, seorang kulit hitam yang bernama Billy, satu-satunya karakter dalam film ini yang paling manis dan baik hati pada semua orang, dan merupakan karakter yang paling saya pedulikan. Kemudian ada karakter asshole seksis dan urakan yang bernama Steve yang membawa banyak sekali narkoba rekreasional di dalam tasnya, dari mulai ganja, ekstasi hingga magic mushroom. Steve sepertinya adalah pegawai yang tidak peduli dengan apapun kecuali berhubungan dengan kenikmatan. Dalam aspek kerja tim, Steve tampak tidak berguna dan membuat kita bertanya-tanya bagaimana bisa seseorang sepertinya bisa mendapat pekerjaan tersebut. Karakter Gordon adalah tipe pekerja yang selalu mentaati peraturan dan menurut perintah apapun, seaneh apapun itu. Ia  positif-thinking, optimistik, penuh antusias, dan sangat well-prepared dalam setiap keadaan. Gordon juga adalah tipe orang yang ingin semuanya berlaku berdasarkan peraturan dan rencana yang sudah ditentukan. Sangat terorganisir. Karakter bernama Jill tidak terlalu menonjol di antara yang lain, tapi mungkin memang selalu ada karakter seperti itu di setiap lingkungan kantor. Lalu ada Harris, tipikal pekerja muda yang populer sekaligus penggerutu, dan tentu saja menjadikannya cukup menonjol di antara pekerja lainnya. Terakhir adalah Maggie, satu-satunya sales asal Amerika di tengah kelompok sales Inggris ini yang sejak awal tidak terlalu menonjol tetapi diam-diam justru yang paling bisa mengambil keputusan tepat di bawah tekanan. Severance seakan mengambil setiap karakter umum dalam lingkungan perkantoran, menempatkan mereka di tengah hutan untuk diburu oleh para mantan militan psikopat bersenjata, dan melihat bagaimana team-building dan integritas sebuah tim bisa terbentuk di bawah kondisi ekstrim.

Terdapat unsur slasher Amerika yang sangat kuat di dalam film ini, terutama saat kita belum benar-benar melihat siapa sosok pembunuhnya. Sekelompok orang terjebak di pondok di tengah hutan, mendapat teror dari maniak bertopeng dan bersenjata, satu persatu dari mereka mulai menjadi korban pembantaian secara terpisah. Jelas sangat kuat unsur slashernya. Lalu para penonton yang sudah terlalu banyak menonton film slasher mungkin akan mulai menebak-nebak karakter mana yang akan mati terlebih dahulu. Apakah pria yang paling bossy, paling menyebalkan sekaligus yang paling tua (Richard), atau mungkin si anak muda pemabuk yang tak berguna (Steve)? Jujur saja itu dugaan saya pada saat menonton Severance, dan saya salah. Mungkin ini juga yang membuat film ini menjadi lebih menarik, karena kalau dibandingkan dengan plot slasher pada umumnya, Severance tidak semudah itu untuk ditebak dalam hal urutan korban. Tidak hanya slasher, dengan jelas Severance juga menggunakan tema gore dan xenophobia dari tradisi film-film backwoods horror / rural survival seperti Deliverance (1972), Wrong Turn (2003), Wolf Creek (2005), The Hills Have Eyes (2006) atau Eden Lake (2008), yang memposisikan para korban terjebak jauh dari peradaban, di tengah kawasan yang asing bagi mereka dimana penduduk lokalnya adalah psikopat sadis yang akan memburu mereka. Pada sepertiga akhir dari film ini, Severance mulai memasuki area baru: action. Ranjau darat, senapan mesin, parang, shotgun, flame-thrower, perkelahian dengan pisau, hingga peluncur roket, semuanya ada disini. Sebagai film komedi, film ini berhasil membuat saya tersenyum dan tertawa (tapi tidak sampai terbahak-bahak) dalam beberapa adegan dan dialog. Humor dalam Severance memang terasa sangat khas british, yang umumnya memiliki kadar sarkasme dan ironi tinggi namun hampir tidak terdeteksi, timing yang tepat, dan cara penyampaian yang datar. Jadi saya rasa film ini mungkin memang bukan untuk semua kalangan, karena selera humor setiap orang toh berbeda. Tapi secara keseluruhan, Severance adalah film yang cukup menyenangkan untuk ditonton. Saya merekomendasikan film ini untuk setiap penggemar horor yang tidak mudah tersinggung dan bisa menikmati film-film komedi horror british seperti misalnya Shaun of the Dead (2004) dan Attack the Block (2011), atau siapapun yang ingin mencoba merasakan hiburan lewat perpaduan dark comedy dan kesadisan.

 

 

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com