fbpx

MOVIE REVIEW: PROXY (2013)

PROXY
Sutradara: Zack Parker
USA (2013)

Review oleh Tremor

Proxy adalah sebuah film horor psikologis independen karya sutradara Zack Parker yang ia tulis bersama rekannya Kevin Donner. Sebagai sebuah film yang diklaim bergenre horror, secara keseluruhan Proxy sebenarnya lebih terasa seperti film melodrama gelap beralur lambat dengan sedikit elemen horor dan thriller di dalamnya. Mengapa saya perlu menuliskan itu adalah agar calon penontonnya tidak berekspektasi. Meskipun begitu, Proxy tetap memiliki beberapa adegan kekerasan yang sebagian besarnya terjadi secara off screen, kecuali pada bagian pembukanya yang cukup brutal dan mengganggu yang membuat saya merasa perlu untuk memberi peringatan terlebih dahulu sebelum saya melanjutkan review ini: adegan pembuka film Proxy sangat tidak dianjurkan untuk ditonton oleh mereka yang sedang hamil. Bicara soal ekspektasi, Proxy juga adalah film yang memiliki banyak tikungan plot serta peralihan fokus, dan terus mempermainkan tebakan serta ekspektasi para penontonnya. Untuk film semacam itu, tentu saya tidak ingin membahasnya terlalu panjang agar tidak merusak pengalaman penuh kejutan dari menonton Proxy.

Film ini dibuka dengan adegan seorang perempuan muda bernama Esther yang sedang hamil tengah memeriksa kandungannya di sebuah klinik bersalin. Ia akan melahirkan dalam dua minggu. Setelah pemeriksaan selesai dan kandungannya dinyatakan sehat, Esther pulang berjalan kaki menuju tempat pemberhentian bus. Tiba-tiba seseorang memukul kepala Esther dengan batu di dalam sebuah gang. Adegan penyerangan ini cukup mengejutkan dan terjadi begitu saja, menjadikan pembuka Proxy terasa begitu kuat. Dalam adegan ini, si penyerang kemudian dengan sengaja memukuli perut hamil Esther yang sudah tidak sadarkan diri berulang kali dengan batu hingga Esther mengalami pendarahan, membunuh janin di dalam rahimnya. Dompet Esther pun diambil dan si penyerang segera melarikan diri. Penonton yang sedang hamil sebaiknya tidak perlu melihat adegan penyerangan ini, termasuk juga adegan usaha para dokter untuk menyelamatkan bayinya, sampai pada adegan Esther siuman di ranjang rumah sakit. Setelah pulih dari rumah sakit, Esther menghadiri sebuah support grup bagi mereka yang berduka karena kehilangan anak atau keluarga. Esther adalah seorang penyendiri dan pendiam. Di sana ia hanya duduk mendengarkan cerita-cerita tragis dari orang-orang yang hadir. Dari kelompok itu Esther akhirnya berkenalan dengan salah satu perempuan yang bersikap sangat bersahabat padanya. Ia adalah Melanie, yang memiliki kisah tragisnya sendiri. Anak dan suami Melanie terbunuh dalam sebuah kecelakaan mobil. Esther dan Melanie pun dengan cepat membangun kedekatan pertemanan. Hingga suatu hari, Esther secara tidak sengaja melihat Melanie di sebuah pusat perbelanjaan. Untuk menghindari spoiler, tidak banyak yang bisa saya ceritakan mulai dari titik ini. Yang pasti, tone film ini mulai terasa berubah dalam pertemuan Esther dengan Melanie di pusat perbelanjaan. Bagaikan rentetan efek domino, pertemuan ini pada akhirnya akan menghancurkan kehidupan semua orang yang terlibat dalam kehidupan Esther dan Melanie.

Adegan penyerangan brutal dalam pembuka Proxy adalah salah satu elemen horor yang sangat kuat dari film ini. Namun apa yang lebih mengerikan dari film Proxy bukanlah adegan-adegan kekerasan, melainkan sisi psikologis di balik keseluruhan ceritanya. Judul film Proxy sendiri cukup penting untuk dibahas agar bisa menjelaskan apa yang terjadi di sepanjang film. Proxy mengacu pada nama fenomena kejiwaan sindrom “Munchausen Syndrome by Proxy” (MSBP), yaitu gangguan kejiwaan seorang ibu atau pengasuh yang memanipulasi gejala penyakit atau bahkan kematian yang diderita anak asuhnya hanya untuk mendapatkan simpati dan perhatian dari orang lain. Singkatnya, seseorang yang mengidap MSBP akan mengada-ngada tentang penderitaan sang anak yang sebenarnya tidak terjadi. Rasanya sangat mengerikan membayangkan seorang ibu tega melakukan hal-hal yang bisa menyakiti anaknya sendiri sebagai usaha untuk mencari perhatian bagi dirinya sendiri. Namun sindrom ini benar-benar ada di dunia nyata. Saya cukup mengapresiasi Zack Parker karena MSBP adalah bentuk gangguan kejiwaan yang jarang sekali dieksplorasi dalam film horor.

Apa yang menarik dari film ini adalah perubahan-perubahan mood dan plotnya. Ketika film ini dimulai, Proxy tampak seperti sebuah film yang hendak mengeksplorasi tentang kesedihan, rasa duka mendalam, serta proses pemulihan dari duka. Lalu film ini mengubah haluannya secara tiba-tiba ke arah yang sama sekali berbeda. Meskipun tetap berfokus pada rasa duka, amarah, kesedihan dan dendam, namun ada lebih banyak fokus dalam Proxy yang lebih ditujukan pada studi tentang kegilaan, karena kondisi kejiwaan dari hampir seluruh karakter sentral film Proxy memang perlu dipertanyakan. Sejak adegan Esther melihat Melanie di mall, jujur saya tidak bisa menebak ke arah mana kisah Proxy akan membawa saya, dan itu juga merupakan hal yang bisa saya apresasi karena saya menikmati alur seperti ini selama menontonnya. Sebagai film yang lebih condong pada melodrama dengan beberapa twist yang diungkap secara perlahan, Proxy tentu memiliki alur yang disengaja dibuat lambat. Alur seperti ini memungkinkan penonton bisa lebih memperhatikan banyak detail kecil di dalamnya. Sayangnya, kelemahan film ini juga datang dari plot penuh lubang yang tidak pernah ditutup meskipun durasi film ini saya rasa agak terlalu panjang. Agar bisa menikmati film Proxy mungkin adalah dengan cara mengacuhkan beberapa kejanggalan logika serta pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul dan mengganjal di kepala penontonnya setelah filmnya selesai.

Satu komplain terbesar saya dari Proxy bukanlah pada plot hole, melainkan pada penggambaran karakter kekasih perempuan Esther yang bernama Anika. Saya paham penulis kisah Proxy menciptakan karakter Anika sebagai seseorang yang tangguh, bengis dan dingin. Namun penggambarannya agak terlalu berlebihan bagi saya, layaknya karikatur yang dengan sengaja dilebih-lebihkan. Ini membuat karakter Anika seperti berada dalam film yang salah. Seakan kurang pede dengan kebengisannya, karakter Anika dilengkapi dengan tato pada wajah, backstory-nya sempat dipenjara karena kasus penyerangan, serta gestur dan ekspresi wajah yang dibuat terlalu arogan. Saya pikir, tidak perlu seberlebihan itu untuk memberi tahu penonton bahwa Anika adalah karakter yang tough dan bengis. Penggambaran Anika yang “jahat” seperti ini biasa saya lihat dalam karakter-karakter preman dalam produk sinema sekelas sinetron lokal. Saya tidak tahu pasti apakah ini karena penulisan yang buruk, keterbatasan kemampuan akting dari aktrisnya, atau memang gabungan keduanya. Kalau memang ini adalah kesalahan penulisan, saya akan berusaha memakluminya karena salah satu penulis Proxy, yaitu Kevin Donner, belum pernah menulis film apapun sebelumnya. Di luar itu semua, Proxy sebagai karya independen beranggaran rendah tetap menjadi karya yang dikerjakan dengan sangat baik, membuat penonton penasaran dengan jalan cerita hingga selesai, sekaligus menjadi tontonan yang menghibur.