fbpx

MOVIE REVIEW: CHILD’S PLAY 2 (1990)

CHILD’S PLAY 2
Sutradara:
John Lafia
USA (1990)

Review oleh Tremor

Setelah sukses menyita banyak perhatian dan memiliki penggemarnya sendiri, akhirnya sekuel Child’s Play dirilis dua tahun kemudian sebagai kelanjutan langsung dari film pertamanya. Child’s Play 2 ditulis oleh sang kreator Child’s Play itu sendiri yaitu Don Mancini, dan disutradarai oleh John Lafia yang sebelumnya berkontribusi dalam sebagian penulisan naskah film pertama Child’s Play (1988). Berbeda dengan film pertamanya yang lebih didominasi misteri supranatural dan suspense, dalam film kedua ini penonton bisa melihat bagaimana untuk pertama kalinya sebuah film Child’s Play berbelok ke arah sub-genre slasher.

Kita tentu ingat kalau tubuh Chucky sudah terbakar habis dan rasanya tidak banyak yang tersisa dalam akhir film Child’s Play (1988). Sepertinya film Child’s Play memang tidak pernah direncanakan untuk memiliki sekuel sejak awal, apalagi menjadi franchise. Siapapun yang belum menonton Child’s Play 2 mungkin akan bertanya-tanya bagaimana cara penulis film ini bisa membangkitkan Chucky dalam sekuelnya kalau tubuhnya sudah begitu hancur? Namun Don Mancini berhasil mendapat cara yang sederhana sekaligus cukup cerdik demi memenuhi permintaan para penggemar Child’s Play: Perusahaan produsen boneka Good Guy membawa sisa kepala boneka Chucky kembali ke pabriknya untuk dirakit ulang menggunakan tubuh dan wajah baru. Rencananya, mereka hendak memeriksa sekaligus membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan boneka buatan mereka. Dengan demikian mereka bisa membersihkan nama Good Guy yang tercemar oleh rumor di masyarakat bahwa ada masalah dalam program boneka mereka yang bisa merusak mental anak kecil, dalam hal ini adalah Andy Barclay, sang pemilik boneka Chucky di film pertama. Usaha ini juga mereka lakukan agar bisa terhindar dari tuntutan atas kesalahan apapun yang berhubungan dengan kejadian dalam film pertama. Tentu saja proses rakit ulang ini turut membantu jiwa pembunuh berantai Charles Lee Ray kembali hidup dalam boneka tersebut. Tak butuh waktu lama bagi film ini untuk menghibur penontonnya. Chucky dengan tubuh barunya berhasil melarikan diri dari pabrik Good Guy untuk melanjutkan misi lamanya dengan motif yang masih sama dengan film pertamanya: mencari Andy untuk mengambil alih tubuhnya agar Charles Lee Ray bisa menjadi manusia lagi. Penonton lalu dipertemukan kembali dengan Andy yang kini terpaksa tinggal di rumah asuh sementara (foster) karena ibunya dianggap gila setelah kejadian di film pertama. Sambil menunggu ibunya dinyatakan “sembuh” dan dibebaskan dari rumah sakit jiwa, Andy diasuh oleh sepasang orang tua asuh bernama Joanne dan Phil. Di sana Andy juga tinggal dengan sesama anak asuh lainnya dalam rumah barunya, yaitu seorang remaja perempuan yang sering memberontak bernama Kyle yang kemudian menjadi teman dekat dengan Andy. Sejak Chucky berhasil melacak keberadaan Andy, banyak korban mulai berjatuhan dengan tragis. Andy pun kembali terjebak dalam situasi yang mirip dengan film pertamanya: ia tidak dipercaya oleh siapapun dan disalahkan atas semua kekacauan karena tidak ada yang percaya bahwa boneka Chucky adalah boneka pembunuh yang benar-benar hidup.

Meskipun tetap tidak akan bisa menyaingi dampak dari film pertamanya, Child’s Play 2 adalah sekuel yang efisien, sangat menghibur dan jauh lebih sadis. Namun keduanya adalah film yang berbeda. Seperti sudah saya tulis sebelumnya, Child’s Play pertama adalah film misteri supranatural sementara Child’s Play 2 adalah film slasher pertama dalam keseluruhan franchise Chucky. Dimulai dari sekuel ini, Chucky membunuh dengan cara yang lebih unik, dengan jumlah korban yang lebih banyak dan karakternya menjadi semakin komikal. Sejak film ini pula Chucky tampaknya sudah tidak peduli lagi tentang siapa-siapa saja yang perlu ia bunuh untuk mendapatkan Andy. Semua yang berhadapan dengannya akan ia bantai. Child’s Play 2 menandakan kelahiran sebuah franchise slasher yang sangat ikonik dan masih diproduksi hingga hari ini. Sayangnya, sebagai film slasher, tidak banyak adegan gore di dalamnya. Special effect dalam Child’s Play 2 lebih banyak berfokus pada gerak gerik boneka Chucky itu sendiri hingga pada kehancurannya dalam adegan final yang sempurna. Pekerjaan special effect tradisional dan animatronik yang digunakan untuk menghidupkan Chucky dalam Child’s Play 2 tampak sangat fantastis dan terasa jauh lebih unggul dibanding film pendahulunya. Semua gerakan Chucky begitu meyakinkan dan semakin natural bahkan saat film ini ditonton kembali di tahun 2023. Kemajuan special effect dan animatronik yang paling menonjol dibandingkan film pertamanya ada pada gerak bagian-bagian wajah Chucky yang jauh lebih bervariasi dan alami dalam berekspresi. Dari mulai bola mata, alis, dahi, bibir, pipi, rahang, semuanya tampak benar-benar alami dan sangat sesuai dengan semua dialog yang keluar dari mulutnya. Pengerjaan special effect Chucky dalam Child’s Play 2 masih dipegang oleh seniman special effect yang sama dengan film sebelumnya, yaitu Kevin Yagher.

Sama seperti film pertamanya, kelemahan terbesar film ini lagi-lagi ada pada aktor pemeran Andy yang tidak terlalu ekspresif. Dalam sepanjang film ia tampak biasa-biasa saja bahkan saat dikejar-kejar oleh Chucky. Akting paling buruk Andy ada pada klimaks film ini yang berlokasi di pabrik boneka Good Guy, di mana ekspresi wajah Andy tidak memperlihatkan situasi di bawah ancaman. Tidak ada teror, tidak ada ketakutan dan kekhawatiran yang tampak di wajah Andy saat ia harus menyelamatkan diri dari kejaran Chucky. Ini membuat penonton sulit untuk merasa khawatir dengan keselamatannya. Tapi sekali lagi ini bisa dimaafkan, apalagi aktor pemeran Andy masih berumur 8 tahun saat film ini dibuat. Selebihnya, kualitas Child’s Play 2 tetap sangat layak diapresiasi, terutama dalam kualitas produksinya di mana mungkin film ini sudah mendapatkan anggaran yang jauh lebih besar dibandingkan film pertamanya.

Child’s Play 2 masih merupakan sekuel terbaik dari seluruh franchise Chucky selama tiga dekade terakhir. Film ini juga adalah sekuel yang cukup penting bagi keseluruhan franchise karena di sinilah karakter Chucky benar-benar mulai dikembangkan dan disempurnakan hingga menjadi boneka pembunuh yang melegenda di kemudian hari. Don Mancini dan John Lafia melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam melanjutkan kisah pengejaran Chucky terhadap Andy dengan sudut pandang yang baru. Saya pribadi sangat menikmati film ini, karena Child’s Play 2 sangat menyenangkan untuk ditonton dan berhasil memberikan adegan pembukaan yang baik serta final yang cukup mengesankan.