fbpx

MOVIE REVIEW: BEYOND THE BLACK RAINBOW (2010)

BEYOND THE BLACK RAINBOW
Sutradara: Panos Cosmatos
Kanada (2010)

Review oleh Tremor

Beyond The Black Rainbow adalah sebuah film arthouse sci-fi / horror psikedelik yang ditulis dan disutradarai oleh Panos Cosmatos sebagai debutnya. Cosmatos sendiri adalah anak dari sutradara George P. Cosmatos yang pernah membuat beberapa film ikonik di tahun 80-an seperti Rambo: First Blood Part II (1985), Cobra (1986), hingga Leviathan (1989). Sebagai film horor, Beyond the Black Rainbow menyuguhkan pengalaman visual yang penuh dengan perasaan tidak nyaman, lengkap dengan imaji-imaji janggal serta atmosfer mencekam berwarna-warni yang sangat halusinogenik. Delapan tahun setelah membuat Beyond The Black Rainbow, Cosmatos kembali membuat film horor dengan gaya serupa yang lebih memiliki plot di dalamnya, berjudul Mandy (2018) yang pernah saya review juga sebelumnya.

Pada tahun 1983 yang digambarkan futuristik, sebuah fasilitas medis kejiwaan swasta dengan teknologi psiko-farmasi paling mutakhir dan revolusioner bernama Institut Arboria sedang merawat seorang gadis bernama Elena yang memiliki kemampuan telekinetik berbahaya. Perawatan Elena diawasi secara langsung oleh direktur Arboria sendiri yang bernama Barry Nyle. Dalam perjalanan film ini, kita akan mempelajari siapa Elena sebenarnya, dan bagaimana ia bisa terpenjara di Arboria. Suatu hari, dalam keadaan teler karena pengobatan, Elena pun berusaha melarikan diri.

Saya perlu ingatkan lagi bahwa Beyond The Black Rainbow adalah film yang mengkedepankan estetika audio-visual, gaya, serta atmosfer, dan bukan cerita. Saya pikir plot adalah hal yang berada pada urutan prioritas kesekian untuk film semacam ini. Maka tak heran kalau di tengah durasi film berjalan, saya nyaris tak peduli soal Elena dan siapapun dalam film ini, karena penulisan ceritanya memang lemah. Yang saya pedulikan dan tunggu-tunggu hanyalah kapan film ini akan berakhir. Banyak keganjilan sureal terjadi dalam film, dan saya tidak peduli. Tak ada satupun keinginan saya untuk mencerna atau sedikitnya mencoba memahami (kalaupun ada) makna dari simbolisme maupun alegori dalam film ini. Sampai di sini mungkin sudah jelas kalau saya memang bukanlah penggemar film arthouse.

Menonton Beyond the Black Rainbow bagaikan ujian ketahanan bagi saya pribadi, terutama karena film yang nyaris tak memiliki plot ini berdurasi hampir 110 menit (yang terasa seperti empat jam), yang menurut saya agak terlalu lama dari seharusnya. Selama menontonnya, saya berjuang melawan rasa jenuh dan rasa kantuk, hingga akhirnya saya berhasil menyelesaikan film ini setelah empat kali percobaan. Beyond The Black Rainbow mungkin bukanlah film yang membosankan kalau ditonton oleh orang yang bisa menikmati sinema arthouse psychedelic berdurasi panjang. Atau mungkin juga penontonnya memang perlu berada dalam tingkat ketidak-sadaran tertentu agar bisa menikmati Beyond The Black Rainbow. Yang pasti saya bukan bagian dari target pasarnya.

Meskipun saya tidak menikmati film ini, tapi saya tetap mengagumi dan mengapresiasi estetika audio visual dan atmosfer yang ditawarkan oleh Beyond The Black Rainbow. Sebagai tontonan dan pengalaman menonton, tak saya pungkiri Beyond The Black Rainbow memang luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menonton film ini di layar bioskop dengan sound system teater, apalagi kalau dalam keadaan giting. Suasana dan mood film ini dibangun lewat scoring synthesizer analog bergaya retro yang disusun oleh Jeremy Schmidt, seorang anggota band rock psychedelic Kanada bernama Black Mountain; serta visual yang setiap shot dan sinematografi-nya pasti sangat diperhitungkan oleh sang sinematografer Norm Li. Sebagai seseorang yang awam di bidang produksi sinema, saya yakin membuat film seperti ini pastinya tidak mudah. Setidaknya Beyond The Black Rainbow mampu membangun suasana horor lewat atmosfer surealis yang ganjil, serta semua kejanggalan imajinasi bagaikan menonton mimpi buruk seseorang.

Di sepanjang film, saya bisa merasakan banyak inspirasi dalam Beyond The Black Rainbow datang dari film-film ikonik dari era 70-an hingga 80-an. Konsep futuristik yang menggunakan setting minimalis dan retro dalam film ini mengingatkan saya pada 2001: A Space Odyssey (1968) karya Stanley Kubrick, dan juga THX 1138 (1971) karya George Lukas, dibalut skema pencahayaan warna kontras ala Suspiria (1977) karya Dario Argento, serta imaji-imaji halusinasi psikedelik horor ala Altered States (1980). Saya pikir Beyond The Black Rainbow bekerja dengan sangat baik sebagai penghargaan bagi karya-karya hebat yang barusan saya sebutkan. Panos Cosmatos juga sepertinya memberi penghargaan tinggi pada sutradara legendaris Kanada, yaitu David Cronenberg, lewat konsep klinik medis dengan teknologi pengobatan ganjil yang identik dengan film-film buatan Cronenberg seperti The Brood (1979), Scanners (1981), hingga Dead Ringers (1988).

Hal lain yang perlu saya tulis sebagai peringatan bagi mereka yang belum menontonnya, pace Beyond The Black Rainbow sangat lamban dan cukup membuat frustrasi, dengan cerita yang tidak begitu berkembang. Itulah mengapa, sama seperti Mandy, Beyond The Black Rainbow bukan untuk semua orang. Namun kekecewaan terbesar saya untuk film ini bukan soal itu, melainkan soal ending-nya yang lemah dan terasa sangat dipaksakan dan tergesa-gesa karena Beyond The Black Rainbow seakan tiba-tiba berubah haluan menjadi film slasher. Setelah saya lelah bertahan di sepanjang durasi, ending yang buruk dan anti-klimaks membuat saya merasa semua penantian saya tak terbayarkan. Secara audio visual, Beyond The Black Rainbow memang sangat bagus dan membius. Mungkin, “membius” yang saya maksud juga adalah film ini merupakan tontonan yang tepat kalau kalian ingin cepat tertidur. Mirip dengan pengalaman saya menonton Mandy, saya benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menikmati film ini dalam keadaan sober. Tapi bagaimanapun juga saya yakin ada banyak orang yang bisa lebih menikmati film ambisius semacam ini dibandingkan saya, terutama mereka yang bisa menghargai film ganjil dan rela menyisihkan 110 menit dalam hidup mereka untuk pengalaman menonton memabukkan yang menurut saya pribadi agak too much.