fbpx

ALBUM REVIEW: NEUROSIS – FIRES WITHIN FIRES

NEUROSIS ‘Fires Within Fires’
Neurot Recordings, September 23, 2016
Post-metal/Sludge metal

Dalam kancah permetalan dunia, tidak banyak grup musik yang punya pengaruh sebesar NEUROSIS, memulai karir dengan mengusung hardcore punk, Melalui album ketiga bertajuk ‘Souls at Zero’, Scott Kelly, Dave Edwardson, Steve Von Till, Jason Roeder bersama pemain synthesizers/keyboard era itu Simon Mcllroy, berhasil menjadi salah satu proklamator aliran sludge metal, yang merupakan amalgamasi agresifitas musik hardcore dengan lagu bertempo lambat dan tema gelap dari doom metal. Selama dekade 90’an NEUROSIS terus menerus bereksperimentasi lebih jauh dengan ikut mangakusisi pelbagai elemen dari industrial metal, post-rock, ambient sampai musik country dan progressive rock kedalam racikan komposisi mereka. Karya mereka berhasil mempengaruhi banyak anak-anak muda baik itu dari scene metal dan hardcore abad ke-21 yang menjadikan karya masterpiece mereka, ‘Enemy of the Sun’ dan ‘Through The Silver in Blood’ sebagai kiblat untuk memainkan musik keras atmosferik dengan balutan riff abrasif, mulai dari MASTODON, grup post-metal macam CULT OF LUNA, AMENRA, dan PELICAN hingga grup death kekinian layaknya ULCERATE dan BARING TEETH’.
Album ‘Fires Within Fires’ sendiri merupakan kolaborasi ke-6 grup musik asal Oakland, California ini dengan produser musik kenamaan Steve Albini yang turut serta membangun karakter sound mereka melalui album fenomenal ‘Times of Grace’ di tahun 1999. Dengan durasi hanya sekitar 40 menit-an ‘Fires Within Fires’ merupakan album paling pendek NEUROSIS semenjak mereka memutuskan hijrah dari bermain lagu-lagu cepat untuk membakar moshpit ke lagu dengan riff berat bertempo lambat terinsiprasi MELVINS dan BLACK SABBATH. Selain itu elemen folk dan country yang telah merangsek lekat ke komposisi lagu NEUROSIS pada ‘A Sun that Never Sets’ dan semakin dominan dalam ‘The Eye of Every Storm’ kali ini dosis nya agak sedikit dikurangi, hanya terdengar pada bagian awal dan bridge lagu penuh emosi lagu nomor empat ‘Broken Ground’ dan trek terakhir sekaligus narrative closing ‘Reach’, yang dimulai dengan duet vokal antara Scott Kelly dan Steve Von Till, sebelum akhirnya berakhir dengan crescendo ekplosif yang dapat meluluhlantakkan nurani pendegar.

‘Fires Within Fires’ sendiri berisikan materi-materi NEUROSIS paling terfokus khususnya dalam membangun atmosfir kelam, yang masih di iringi riff-riff tebal nan abrasif seberat tembok baja berton-ton dan layer ambien menusuk dari Noah Landis untuk menghatam kejiwaan pendengar, dan dibandingkan album-album lainya pasca ‘Souls at Zero’ yang selalu kelar tayang setelah satu jam berkumandang, dengan durasi yang lebih pendek dan compact, ketika lagu terakhir berakhir justru membuat pendengar merasa haus pingin nambah. Semua lagu di full-length kesebelas mereka ini juga terdengar lebih to the point dan tak bertele-tele dalam menghandirkan nuansa depresif dalam dinamika quiet/loud yang sudah jadi trade mark tanpa terdengar melelahkan seperti menit-menit akhir ‘Honor Found in Decay’.
Dari segi kualitas produksi, tangan dingin Steve Albini sudah tak perlu dipertanyakan lagi, tak perlu lagi banyak mengutak-ngatik karakter sound yang sudah disempurnakan (yang bisa bikin
ngiler band lain) dalam album ‘Given to The Rising’, timbre gebukan drum, raungan bass dan tekstur gitar sudah jelas terasa sangat idiosinkritis, langsung dapat memanjakan telinga para pendengar apalagi penggemar setia dengan sound khas NEUROSIS, ‘Fires Within Fires’ tentunya bukan sekedar album biasa, karya ini merupakan sebuah epitome perjalanan karir grup ini selama tiga dekade malang melintang dalam belantika musik metal, dan saya rasa bagi mereka yang sampai saat ini belum sempat ataupun ogah mencoba deretan diskografi NEUROSIS, bisa mencoba memulainya disini, karena ‘Fires Within Fires’ merupakan album paling kejam NEUROSIS dalam sepuluh tahun terakhir. (Peanhead)

9.0 out of 10