KATATONIA ‘Nightmares as Extensions of the Waking State’ ALBUM REVIEW
Napalm Records. June 6th, 2025
Progressive metal/Alternative metal

Jadi fans KATATONIA beberapa tahun terakhir ini kayak lagi diuji banget kesabarannya. Pasalnya, setelah album fenomenal, “The Fall of Hearts”, tentunya para pendengar setia KATATONIA udah nungguin banget nih, eksperimen dan arah baru apalagi yang bakal mereka ambil di LP suksesor-nya. Ekspektasi tersebut besar gak salah sasaran, mengingat sejak album “Viva Emptiness”, band asal Swedia ini belum tak pernah gagal memperlihatkan evolusi sound yang selalu fresh dari album ke album. Tahun 2018 para fans diterpa berita buruk, karena alih-alih ngumumin album baru, KATATONIA malah memutuskan untuk masuk masa hiatus, dengan alasan klasik “untuk mengevaluasi kembali masa depan band” segala, untungnya periode rehat mereka singkat (tak seperti ANATHEMA), karena belum setahun, Jonas Renkse, Anders Nyström, Roger Öjersson, Niklas Sandin, dan Daniel Moilanen udah balikan lagi, untuk merayakan ultah kesepuluh ‘Night Is the New Day’. Lalu, selang setahun saja pasca balikan, KATATONIA melepaskan ‘City Burials’, yang agak mengecewakan, namun langsung dengan cepat ditebus oleh ‘Sky Void of Stars’, yang terdengar seperti selebrasi perjalanan karir band ini sepanjang tiga dekade. Sayangnya, euforia dari album tersebut gak bertahan lama, karena kemudian Roger Öjersson malah cabut di taun 2024, dan tahun ini giliran Anders Nyström, motor utama kedua KATATONIA, memutuskan hengkang

Agak kaget sih gua, hanya selang beberapa minggu selepas cabutnya sang co-founder, KATATONIA udah mengumumkan album baru aja dengan formasi teranyar, dimana posisi dua gitaris kini diisi oleh Nico Elgstrand (ex-ENTOMBED) dan Sebastian Svalland (ex-IN MOURNING). Dua nama tersebut tentunya sudah berpengalaman, tapi tetep aja gua sangat skeptis, karena KATATONIA punya track record buruk kalau menggodok album agak terlalu sat-set, tengok aja ‘City Burials’, yang dulu awalnya dicanangkan sebagai album solo Jonas Renske, namun akhirnya disulap instan jadi album KATATONIA, Dan ternyata setelah mendengarkan ‘Nightmares as Extensions of the Waking State’, sampai puluhan kali, album ketigabelas ini, spoiler alert!, merupakan album terburuk yang pernah dihasilkan mereka. Salah satu yang bikin gua langsung kecewa adalah dua lagu pertama yang mereka lontarkan “Thrice” dan “The Liquid Eye” itu bener-bener bland parah, padahal biasanya lagu pembuka atau kedua KATATONIA itu selalu (hampir pasti jadi) ikonik kayak “”For My Demons”/”I Am Nothing”, “Dispossession”, “Ghost of the Sun”, “Leaders”/”Deliberation”, “Forsaker”, dll. Bahkan sekelas ‘City Burials’ aja masih oke banget opener-nya, sedangkan ‘Nightmares as Extensions of the Waking State’ dari sayatan awal lagu, udah kayak tergesa-gesa, dan kehilangan peran pentingnya sebagai pembuka jalan yang seharusnya memandu pendengar ke dalam pusaran album ini.
Lagu ketiga “Wind of no Change”, untungnya sudah sangat jauh lebih mendingan, lewat racikan yang lebih cadas dan gelap, dengan lirik berlatar akhir zaman, melukiskan manusia dunia modern yang menggadaikan spiritualitas demi obsesi akan kemajuan teknologi tanpa akhir dan materi duniawi, awalnya agak cringe dengan bait terakhir chorus yang lantang nyebut “Hail Satan” segala, namun, setelah ditelaah lebih dalam, “Hail Satan” lebih ke ungkapan simbolik ketimbang pemujaan literal. Trek berikutnya “Lilac”, gua jamin mampu memuaskan mereka yang dari dulu udah kepincut dengan sound progressive metal melankolis yang sudah jadi trademark mereka sejak tahun 2000’an, sedangkan “Temporal” juga berhasil menenggelamkan saya dalam komposisi yang mengingatkan pada era ‘Dead End Kings’ dan ‘The Fall of Hearts’, pantes sih mengapa baik Jonas Renkse dan Napalm Records memutuskan menggunakan ketiganya sebagai single buat jualan albumnya.
Sisa track lainnya dalam album ini, kalau kata gua sih mengecewakan juga, mayoritas kurang berhasil menggaet saya meskipun dikemas dalam produksi yang sangat aduhai, karena lagi-lagi dari sisi songwriting dibawah standard KATATONIA seperti biasanya, alias gak ada hook yang bener-bener mampu nempel dan momen musikal bisa bikin wah sambil mengumpat. Hanya “Departure Trails” yang punya sentuhan contemporary jazz, dan “Efter Solen”, sebuah nomor pop minimalis bermandikan layer elektronik yang dilantunkan dalam bahasa swedia saja yang noteworthy, sedangkan nomor-nomor lainnya ya mau puluhan kali diputer pun, tak ada satu pun yang berhasil nyantol. Serius dah, mending kalo kata gua, KATATONIA rehat dulu aja agak laman dikit, sang pentolan Jonas Renkse toh udah punya nama, bisa kali bikin album solo aja, alias menghibernasikan nama KATATONIA dulu, biar lebih bebas untuk bereksperimen juga kan. ‘Nightmares as Extensions of the Waking State’ sangat jelas, jauh dari standard tinggi KATATONIA yang kita semua kenal, dari sepuluh lagu dalam tracklist, yang listenable cuma setengah, gua sih gak mempertanyakan lagi musikalitas para personil, tapi kayaknya materi album ini kayak belum mateng digodok malah udah langsung disajikan ke pendengar. (Peanhead)
5.4 out of 10