fbpx

ALBUM REVIEW: INTER ARMA – SULPHUR ENGLISH

INTER ARMA ‘SULPHUR ENGLISH’
Relapse Records. April 12th, 2019
Sludge/Black/Death/Post-metal

Quintet asal Richmond, Virginia INTER ARMA kembali lagi dengan album teranyar mereka di tahun ini ‘Sulphur English’, belum puas meluluh lantahkan kejiwaan para pendengar mereka dengan ‘Paradise Gallows’, dalam album paling baru nya kali ini INTER ARMA menyusun materi yang lebih berat dan heavy dari biasanya, mendekonstruksi formulasi post-metal yang sudah kadaluwarsa lalu mengoplosnya dengan death metal, black metal, progressive metal, psychedelic rock dan memantapkan mereka salah satu sebagai grup paling forward thinking dari sederet musisi yang masih belum bosan mengusung post-metal, mengingat satu dekade belakangan ini genre tersebut seperti jalan ditempat karena sumur inovasi nya sudah mulai kering, untung nya masih ada grup seperti INTER ARMA yang semenjak album kedua ‘Sky Burial’ tidak pernah malas untuk ber-eksperimen dan juga SUMAC besutan Aaron Turner Bersama Brian Cook (RUSSIAN CIRCLE) dan Nick Yacyshyn (BAPTISTS) yang beberapa tahun terakhir lewat kolaborasi bersama god of free improvisation Keiji Haino juga album ‘Love In Shadow’ membawa aliran post-metal/atmospheric sludge ke ranah yang belum terjamah sebelumnya. Memang keduanya belum bisa mengembalikan periode booming yang pernah dicapai sub-genre ini dari tahun 2000 sampai 2009, dimana banyak band baru bermunculan dengan ide-ide brilian, mulai dari CULT OF LUNA, PELICAN, INTRONAUT, THE OCEAN, MADE OUT OF BABIES, MOUTH OF THE ARCHITECT dll.

Semenjak proyekan Aaron Turner, Jeff Caxide, Aaron Harris, Michael Gallagher, Bryant Clifford Meyer memutuskan bubar justru setelah album fenomenal ‘Wavering Radiant’, belum ada album post-metal yang bisa di sandingkan dengan karya masterpiece ‘Somewhere Along The Highway’, ‘The Eye of Every Storm’, ‘Conqueror’, ‘The Ruiner’ dan ‘The Fire in Our Throats Will Beckon the Thaw’ dari era tersebut, tapi setelah mendengarkan album ke-empat dari INTER ARMA akhirnya saya menemukanya. Ketika pertama kali memutar ‘Sulphur English’ hal pertama yang paling ngena adalah materi dari INTER ARMA kali ini jelas jauh lebih dark, intens dan berat, memang elemen-elemen tersebut sudah sering di tonjolkan dalam tiga album pendahulunya, tapi dalam ‘Sulphur English’ jelas INTER ARMA semakin condong bergerak ke area extreme metal, ‘A Waxen Sea’, ‘Citadel’ dan title track terdengar kuat pengaruh dedengkot death metal seperti MORBID ANGEL, IMMOLATION hingga GORGUTS, begitu pula dengan trek funeral doom metal/death-doom ‘Blood on the Lupines’ dan ‘The Atavist’s Meridian’ yang sedikit terdengar seperti MESHUGGAH dengan pola ritme ala Tomas Haake. Mike Paparo, Steven Russell, Trey Dalton, T.J. Childers, Andrew Lacour bukan hanya asal mencampur berbagai pengaruh dari extreme metal tersebut, tapi dirancang dengan rapi jadi flow dari lagu-ke lagu tidak rancu karena masih memiliki benang merah yang sejalan. Bagi mereka yang kepincut dengan INTER ARMA dengan materi yang lebih mengawang-ngawang ala PINK FLOYD dari ‘Paradise Gallows’ tak perlu berkecil hati ‘Sulphur English’ masih punya trilogi maut ‘Howling Lands’ yang sangat ritualistik lalu dilanjutkan dengan transisi apik ke lagu paling penuh kehampaan, dalam ‘Stillness’ INTER ARMA melepas jubah death metal/black metal dan menggantinya dengan nuansa hard psyche/stoner metal berbalut petikan gitar country dan melodi lead bluesy penuh emosi, sebelum akhirnya ditutup dengan epilog ‘Observances of the Path’. Sang vokalis Mike Paparo juga berhasil menghasilkan performa terbaiknya bersama INTER ARMA, dengan range dan penguasaan teknik olah vokal yang bisa bikin penyayi metal lain iri entah itu death growl, black metal shrieks sampai percobaan beliau mengemulasi gaya vokal Scott Walker di ‘Blood on the Lupines’, Dari aspek produksi pun hasil jerih payah Mikey Allred yang sudah menjadi produser semenjak ‘Sky Burial’ juga patut di apresiasi, karena ‘Sulphur English’ terdengar megah dan mewah tanpa harus kehilangan intensitas. ‘Sulphur English’ merupakan sebuah album yang benar-benar di dengarkan secara penuh dari awal hingga akhir untuk memaksimalkan potensinya kalau didengarkan secara khusuk. INTER ARMA berhasil meracik sebuah album penuh epik dan transcendental, dan bukan hanya top album terbaik tahun ini namun juga merupakan salah satu album terbaik dekade 2010-2019 sekaligus sebuah tribute elegan untuk rekan seperjuangan mereka yang harus pulang terlebih dahulu ke Vallhalla, Adrian Guerra (BELL WITCH) dan Bill Bumgardner (LORD MANTIS). (Peanhead)
9.9 out of 10