fbpx

ALBUM REVIEW: IBARAKI – ROSHOMON

IBARAKI ‘Rashomon’ ALBUM REVIEW

Nuclear Blast Records. May 6th, 2022

Extreme Progressive Metal

Matt Heafy sepertinya bisa memanfaatkan momen rehat touring TRIVIUM tahun 2020 dengan sangat baik, pasalnya tak hanya menghasilkan album kesepuluh TRIVIUM, ‘In The Court of The Dragon’, ia juga semakin getol bikin konten Youtube/Twitch, selain itu, MRITYU, proyek “black metal” yang telah dicanangkan sejak satu dekade lalu, akhirnya telah terlihat wujudnya, meskipun sudah berganti nama menjadi IBARAKI. Dalam debut yang bertajuk ‘Rashomon’, Matt Heavy turut dibantu personil TRIVIUM lainya, Corey Beaulieu, Paolo Gregoletto, Alex Bent, dan mengundang musisi papan atas lain, Vegard Sverre Tveitan aka IHSAHN, pentolan BEHEMOTH yang selalu kontroversial, Nergal, dan yang tak diduga-duga, prince of emo himself, Gerard Way (MY CHEMICAL ROMANCE). IBARAKI bukanlah outlet metal ekstrim pertama dari sang empunya proyek ini, karena dulu waktu TRIVIUM belum ditarik Roadrunner Records, Matt Heafy sempat terlibat dengan band technical death metal bareng Suecof bersaudara, CAPHARNAUM, yang sayangnya menghilang begitu saja pasca merilis album kedua ‘Fractured’, via Willowtip Records tahun 2004 silam. TRIVIUM sendiri semenjak kedatangan drummer baru yang notabene eks BRAIN DRILL, semakin nyerempet extreme metal materinya, jadi ketika IBARAKI diumumkan pada bulan Januari kemarin, orang udah gak kaget lagi, toh bang mamat pun selalu terbuka soal kecintaan-nya dengan aliran black metal.

Berisikan sepuluh lagu, dan disebarluaskan oleh Nuclear Blast Records, ‘Rashomon’ nyatanya bukanlah sebuah album “black metal” murni, meskipun sempet di gembar-gemborkan menggunakan label tersebut, dan dipenuhi elemen-elemen black metal dalam aransemen-nya, IBARAKI malah terdengar seperti TRIVIUM 2.0, hanya komposisinya lebih brutal dan progresif saja dari band utama-nya, lebih pas-nya IBARAKI terdengar seperti perpaduan antara TRIVIUM, album-album solo IHSAHN, dan OPETH. “Kagutsuchi” masih terdengar terlalu familiar, cuma beda dikasih bumbu instrumen tradisional Jepang saja, berikutnya “Ibaraki-Dōji” juga sama bae, tapi untungnya lagu tersebut masih didukung orkestrasi coraknya agak-agak mirip EMPEROR/IHSAHN, ditambah lagi gebukan berengsek dari Alex Bent benar-benar gurih, “Jigoku Dayu” sedikit berbeda dari dua lagu sebelumnya, karena jelas banget kalau lagu tersebut merukapan love letter Matt Heafy pada salah satu grup favoritnya, alias benar-benar berpatokan pada OPETH pre-‘Heritage’. Trek kelima “Tamashii no Houkai” menjadi lagu pertama yang menarik perhatian saya, namun sayangnya disampahi dengan suara koin ala Super Mario Bros, yang bener-bener enggak banget.

“Akumu” meskipun awalnya menjanjikan, namun bagian featuring dengan Adam ‘Nergal’ Darski malah maksa banget dan overall terlalu gimmicky, untungnya sisa 3 lagu lainya ”Komorebi”, ”Ronin”, dan ”Susanoo No Mikoto” punya aransemen yang lebih make sense lah, malah ”Ronin” tepatlah kalau saya bilang merupakan lagu terbaik dalam ‘Rashomon’, karena selain titik temu antara progressive metal dan black metal-nya dapet, Gerard Way justru mempersembahkan performa black metal shriek terbaik dalam album ini (mungkin buat album berikutnya, doi bisah diundang jadi vokalis utama) dari segi komposisi pengaruh gaya penulisan IHSAHN juga berasa banget, begitu pula dalam lagu penutup “Susanoo No Mikoto”, yang kentel banget pengaruhnya sang dukun hitam. Dari sisi produksi, hasil kerjaan Jens Borgen tentunya sudah pasti memanjakan telinga, udah terbuktilah kalau aliran-aliran extreme prog metal model gini emang dia udah paling tokcer. Walaupun gak flop amat, ‘Rashomon’ masih banyak dipenuhi keputusan-keputusan yang gak masuk akal, padahal IBARAKI punya potensi yang menjanjikan, mungkin next time Matt Heafy bisa cari vokalis lain aja buat ngisi, biar fokus maen gitar aja, karena karakter vokalnya udah terlalu familiar, jadinya malah déjà vu sama TRIVIUM terus, dan karena efek terlalu banyak hype dan ekspektasi juga sih, yang akhirnya menjadi pedang bermata dua “Rashomon”, yang akhirnya membuat album ini terdengar cukup mengecewakan. (Peanhead)

6.0 out of 10