fbpx

MOVIE REVIEW: HELL FEST (2018)

HELL FEST
Sutradara: Gregory Plotkin
USA (2018)

Review oleh Tremor

Hell Fest adalah sebuah film slasher Amerika yang disutradarai oleh Gregory Plotkin. Meskipun plotnya cukup klise dan tidak rumit, namun cerita dan naskah film ini ditulis beramai-ramai oleh enam orang sekaligus. Profesi Gregory Plotkin sendiri sebenarnya adalah editor film yang hasil karyanya bisa kita lihat dalam film-film mulai dari Paranormal Activity 2-5 (2010-2014), Happy Death Day (2017) hingga Get Out (2017). Karena keahliannya tersebut, maka ia tahu betul bagaimana cara menghasilkan momen-momen bagus dan menegangkan lewat editing yang baik.

Taman hiburan bertema horor bernama Hell Fest adalah event yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang menjelang Halloween. Tak heran, ada ribuan anak muda berusaha untuk bisa mendapatkan tiket terusan VIP Hell Fest agar tidak perlu banyak mengantri memasuki semua wahana horor di sana. Ukuran taman hiburan ini begitu masif, dilengkapi dengan banyak sekali wahana bertema horor dengan level kengerian yang berbeda-beda. Natalie, Brooke, Taylor, Quinn, Asher cukup beruntung karena kawan mereka Gavin berhasil mendapatkan tiket terusan VIP untuk mereka semua. Akhirnya dengan penuh semangat mereka pergi ke Hell Fest untuk bersenang-senang. Tapi sejak awal film kita tahu bahwa satu dari ribuan pengunjung malam itu adalah seorang psikopat bertopeng, dan ia datang untuk bersenang-senang dengan caranya sendiri. Siapapun yang sudah menonton terlalu banyak film slasher tentu bisa menebak bagaimana kelanjutan ceritanya.

Di luar plot yang klise, Hell Fest menawarkan banyak hal menyegarkan bagi para penggemar slasher: konsep yang keren, desain set yang fantastis, serta kualitas produksi yang cukup mengesankan untuk film semacam ini. Konsep dan premis film Hell Fest cukup jenius sebagai film slasher: seorang pembunuh bertopeng berbaur dengan ratusan pengunjung taman hiburan Hell Fest, dan melakukan perburuan di sana dalam satu malam. Taman hiburan semacam Hell Fest adalah hal yang cukup umum di Amerika, namun biasanya tidak memiliki jumlah wahana sebanyak Hell Fest. Menurut saya, taman hiburan bertema horor di mana ada banyak sekali properti mayat palsu serta senjata, dan dikunjungi oleh para anak muda mabuk yang memang ingin ditakut-takuti, adalah lokasi yang sangat ideal bagi pembunuh psikopat manapun untuk bersenang-senang. Sang pembunuh bisa dengan mudah meninggalkan mayat korbannya tergeletak begitu saja di tengah wahana rumah hantu tanpa dicurigai misalnya. Ia bahkan bisa melakukan penusukan di depan para pengunjung yang akan berpikir bahwa aksi itu adalah bagian dari performance pekerja Hell fest untuk menakut-nakuti mereka. Lokasi taman hiburan horor seperti ini juga memungkinkan para korban yang ketakutan kesulitan mencari pertolongan, karena tidak akan ada yang menganggapnya serius. Toh tujuan orang pergi ke Hell Fest adalah memang ingin ditakut-takuti, jadi wajar saja kalau ada pengunjung yang tampak berlarian histeris ketakutan, meskipun pada kenyataannya ia sedang dikejar oleh psikopat.

Sekarang mari kita bicarakan salah satu daya tarik terkuat dari film ini, yaitu konsep taman hiburan Hell Fest itu sendiri. Bayangkan sebuah tempat seperti Dufan, namun semua wahananya bertemakan horror. Para penonton yang gemar mencari wahana rumah hantu di setiap gelaran pasar malam setempat pasti bisa merasakan excitement yang saya rasakan di sepanjang film. Sutradara Plotkin seakan membawa para penontonnya memasuki setiap wahana secara virtual, dan kita hanya bisa membayangkan bagaimana serunya kalau tempat seperti Hell Fest benar-benar ada, tentunya tanpa pembunuh bertopeng sungguhan. Saya pribadi sangat menikmati banyak hal dari taman hiburan ini, dari mulai desain wahana, tampilan dan dekorasi, konsep labirin, kostum, pencahayaan, hingga properti yang ada di setiap wahana Hell Fest. Penggunaan lokasi seperti ini benar-benar menjadi nilai plus bagi film slasher ini karena pengintaian dan perburuannya tidak terjadi di dalam rumah terpencil. Jadi kita tidak harus menonton semua adegan kejar-kejaran membosankan yang terjadi di koridor gelap rumah setelah karakter utamanya mencoba mengunci semua pintu. Setting Hell Fest benar-benar membantu penonton untuk mendapatkan pengalaman slasher yang jauh lebih fun dari biasanya. Sebenarnya Hell Fest memang bukan satu-satunya film slasher dengan set taman hiburan. Sebelumnya sudah ada The Funhouse (1981), Dark Ride (2006) dan kemudian ada Haunt (2019). Namun menurut saya desain set dalam Hell Fest jauh lebih unggul dibanding semua film tersebut.

Selain konsep taman hiburannya, hal lain yang yang sangat saya suka dari Hell Fest juga adalah ending-nya yang mungkin tidak bisa saya paparkan di sini karena saya tidak ingin berbagi spoiler. Yang pasti, Hell Fest tidak ditutup dengan cara tradisional kebanyakan film slasher biasa. Saya juga cukup menyukai karakter pembunuh bertopeng dalam Hell Fest yang diberi nama “The Other”. Topeng yang ia kenakan sebenarnya adalah topeng yang juga dipakai oleh para pekerja di Hell Fest. Itulah mengapa ia bisa berkeliaran menggunakan topeng tanpa dicurigai. Desainnya sendiri cukup keren dan seram, didesain oleh Tony Gardner dari Trick or Treat Studios yang sebelumnya pernah mendesain topeng Ghostface dari seri Scream (1996-2022) dan topeng Babyface dari Happy Death Day (2017).

Seperti pada kebanyakan film slasher lainnya, plot tidaklah penting karena apa yang dicari oleh para penonton slasher adalah adegan pembunuh kreatif, seberapa sadis adegannya, serta ada berapa banyak korban dalam satu film. Di sinilah kekurangan Hell Fest sebagai film slasher, karena meskipun beberapa pembunuhannya cukup kreatif, tapi film ini tidak se-sadis yang saya harapkan. Seingat saya hanya ada satu adegan saja yang bisa dianggap cukup sadis, dan sayangnya adegan tersebut terjadi pada pembunuhan pertama pada salah satu karakter utama. Adegan ini membuat saya berharap kalau adegan-adegan pembunuhan berikutnya akan bereskalasi menjadi semakin sadis. Sayang sekali itu tidak terjadi. Adegan pembunuhan lain dalam Hell Fest bisa dibilang terlalu halus untuk ukuran film slasher. Hell Fest memang bukan film yang akan mengubah wajah genre slasher. Namun film ini juga tidak buruk. Meskipun mungkin ada puluhan film slasher yang jauh lebih unggul, tapi ada lebih banyak lagi film slasher yang jauh lebih buruk dibandingkan Hell Fest. Saya pribadi sangat menikmati film ini, dan usaha para pembuat Hell Fest patut diacungi jempol. Ini adalah film slasher ringan yang fun bagi para penggemar horor, apalagi dengan hadirnya aktor cult Tony Todd (Candyman) yang tampil sebagai cameo.

Untuk berdiskusi lebih lanjut soal film ini, silahkan kontak Tremor di email: makanmayat138@gmail.com